
Gendis bangun lebih pagi dari biasanya, ia harus mencuci rambut dan sholat subuh, Saat ia sedang berada di bawah shower ada yang tiba-tiba melingkarkan tangan di tubuhnya. Otomatis Gendis terpekik kaget.
" Ini aku", bisik Sean.
" Ya aku tahu, aku hanya kaget".
" Aku, ikut mandi ya?, tolong aku disabun".
" Ya ya bayi tua"
Tapi sebelum sempat menyabuni tubuh kekar Sean, Sean terlebih dahulu meminta jatah untuk bermain di kamar mandi. Dan tentu saja Gendis tak boleh menolak. Tugas istri adalah melayani suami.
Keluar kamar mandi mereka sudah bersih dari hadas besar dan kecil, sehingga saat terdengar adzan subuh mereka langsung mengerjakan sholat subuh secara berjamaah di kamar, sebab mereka memang belum punya ruangan khusus untuk sholat.
Wajah merwka memancarkan kebahagiaan, baik Sean maupun Gendis. Kali ini, Gendis masak dibantu oleh Sean. Apapun yang bisa dikerjakan bersama mereka kerjakan secara bergotong royong.
Sean yang biasanya jam lima sore atau paling lambat jam tujuh malam pulang, sekarang menjadi berbeda, dia sering pulang mendahului. Kadang jam tiga paling sore jam empat. Rasanya ia selalu merinsukan istrinya di rumah.
Hari ini mereka berdua janjian untuk jalan nonton film. Film-nya bagus kata Sean. Sean pulang lebih awal, jam empat dia sudah sampai di rumah.
Mereka sama-sama menggunakan baju kasual, jadi tampak seperti pasangan model yang terlihat santai tapi elegan.
Gendis walaupun berasal dari daerah ia tak pernah ketinggalan zaman dalam hal berpenampilan. apapun yang dipakai tampak selalu pas di tubuhnya. Walaupun sederhana.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tak perlu ungkapan kata cinta. Tindakan nyata cukup menunjukkan rasa yang tak terucap.
Sebelum masuk ke theather mereka jalan-jalan dulu di sekitaran studio. Masih ada satu jam lagi nunggu diputarnya film. Sean sudah memesan tiket lewat online, jadi mereka tak perlu lagi antri.
Mereka berdua duduk di bawah pohon yang rindang, yang dibawahnya diletakkankursi melingkari pohon.
Sean pergi ke dalam untuk membeli popcorn dan cola, tapi saat akan membeli popcorn ia bertemu dengan Alexa dan teman-tamannya.
" Sean, Sean !!" Panggil Alexa
Sean kaget, di depannya telah berdiri Alexa n gangs.
" Kamu akhirnya datang juga, di telepon nggak diangkat, pesen juga ngga dibalas, kirain kamu nggak baca, lagi sibuk, ternyata kamu nyusul ?? Makasih ya sayaaaang".
Sean mematung, ia tak sempat bicara apapun, Alexa sudah menggampit lengan Sean untuk dibawa masuk ke studio.
Sementara Gendis sudah mulai resah menunggu suaminya nggak balik-balik.
Ia menuju ke tempat parkir mobil. Mobil masih ada disana. Lalu Sean kemana ?
Gendis khawatir, ia berusaha mencari mengelilingi studio.
__ADS_1
Apa iya Mas Sean masuk sendiri, lupa bawa aku ?
Gendis menunggu sampai satu jam, dua jam telah berlalu, ia menunggu di luar kedinginan. Walaupun masih ramai, jam sufah menunjukkan pukul sebelas kurang. Gendis hampir menangis. Pesan yang ia kirim ke Sean sama sekali tidak dibaca.
Saat ia beranjak akan menuju mobil, ia lihat Sean digandeng oleh seorang wanita, Alexa.
Hati Gendis terasa sakit, saat itu juga dan disitu.
Ia memandang suaminya memasukkan Alexa ke dalam mobil. Gendis melihat itu sambil berdiri dan bercucuran air mata.
Selama ini ternyata aku terlalu berharap. Suamiku masih mencintai kekasihnya. Dia hanya menginginkan memberi cucu pada orang tuanya. Tidak lebih. Dia tidak mencintaimu Gendis, kamu jangan berharap.
Airmata semakin deras turun ke pipi Gendis.
Perempuan bodoh. Kamu terlalu berharap suamimu mencintaimu. Bodoh. bodoh. bodoh.
Gendis memesan taxi online ia minta diturunkan di salah datu hotel. Untuk sementara ia akan menenangkan diri. Ia tak mau ketemu siapapun. Apalagi Sean.
Gendis masuk ke dalam kamar hotel dengan berurai air mata. Ia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Rasanya, saat ini juga ia ingin pulang ke Jawa. Menangis di pelukan ibunya.
Jam dua belas malam lebih ada telepon masuk. Dari suaminya, ia tak angkat, beberapa kali suaminya memghubunginya ia tetap tak mau angkat.
Hatinya sakit. Torehan luka yang hampir sembuh, akhirnya tergores lagi, itu ternyata semakin perih. Luka di atas luka.
Ada pesan masuk dari Sean.
Tapi tak dibaca oleh Gendis
'Plis sayang, hubungi aku jika kamu baca pesan'
Beberapa kali Sean telepon lagi, tapi tak ada satupun yang dibuka oleh Gendis.
Sebetulnya Gendis juga belum tidur, bukan belum, tapi tak bisa.
Ia masih sakit mengingat bagaimana suaminnya pasrah saja digandeng oleh wanita lain, sementara istrinya menunggu kedinginan sendiri di luar studio, tanpa teman.
Entah sudah berapa jam Gendis menangis tanpa disadari ia mulai tertidur.
Sementara di apartemen Sean masih kelimpungan resah memikirkan istrinya.
Ia ambil kunci mobilnya dan turun untuk mencari istrinya yang pergi entah kemana.
Sean menyisir seluruh jalan ibukota, dia sama sekali tak merasakan kantuk. Kantuknya hilang entah kemana.
__ADS_1
Gendis pasti tadi.melihat aku bersama Alexa. Dia pasti berfikiran macam-macam. Mungkin dia mengira aku.... aaaaah... Gendis, dimana kamu.
Ada separuh hati Sean yang terasa hilang. Hampa. Ya, Sean merasa hampa tanpa Gendis disampingnya.
Tak terasa sepanjang jalan mencari Gendispun, air mata Sean luruh jatuh juga. Ia sangat takut kehilangan Gendis. Ia tak mau Gendis pergi dari sisi-nya, bahkan sedetikpun ia tak mau.
Aku akan memutuskan Alexa, saat itu juga, jika aku menemukan kamu sayang.
Sean menepikan mobilnya. Ia menangus sesenggukan di pinggir jalan itu.
Tak pernah Sean semelow ini. Biasanya ia adalah pria yang tegar, menghadapi apapun.
Tapi rasa takut kehilangan yang sangat besar, membuatnya menjadi rapuh.
Ia masih dalam kondisi seperti itu sampai satu jam ke depan. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Sean membawa mobilnya menuju rumah orang tuanya. Ia tak sanggup sendiri, menghadapi masalah ini.
Sean akan mengaku kepada kedua orang tuanya, bahwa selama ini ia masih berhubungan dengan kekasihnya, dan Gendis menunggu hatinya luluh dengan sabar.
Ia membunyikan bel rumah.
Mama terkejut, tidak biasanya ada tamu sedini ini. Pasti ada sesuatu.
" Pa, papa bangun, ada tamu di luar".
" Jam berapa ini, sepagi ini ?!" papa berdiri setelah melihat jam di atas nakas.
Saat mereka keluar dari kamar, Sean sudah masuk ke dalam rumah, dengan kondisi yang sangar awut-awutan, Sean terlihat sangat tidak peduli dengan keadaannya saat itu.
Ia langsung menjatuhkan diri di sofa depan televisi.
" Sean ?!" mama berteriak
" Mana Gendis ?? kok nggak ikut ?? Sean!!"
Ada perasaan tak enak masuk ke dalam relung hati kedua irang tua Sean.
Papa sean meletakkan jari telunjuk di atas mulutnya, supaya istrinya tidak bertanya lagi pada Sean. Kelihatanya Sean sedang terpukul.
😢😢😢😢😢😢😢😢😢
Yuk ka....
Like, koment, vote
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘