
Gendis mulai membuka mata, tapi dia bingung sedang berada dimana?.
Tapi, ibu ada di sampingnya,
" Ibu, kita ada dimana ?"
" Gendis, Nduuuk kamu sudah sadar ?, kamu ingat ini bu siapa?" sambil memeluk mami Tio.
" Maminya Pak Tio", jawab Gendis
" Jadi, kita dimana buk?"
" Kita di rumah Pak Tio".
Gendis tampak terkejut,
" Di rumah Pak Tio ? Kenapa ?"
" Kamu belum makan, makan dulu nanti ibu ceritakan".
" Ya sayang, kamu makan dulu, mau dipanggilkan Chiko", tanya mami Tio.
Mata Gendis langsung berbinar.
" Maaf ibu, saya merepotkan ya?"
" Nggak kok, aku malah seneng, ada temennya ngobrol" sambil memeluk bu Indri, ibu Gendis.
" Oke, Ibu panggil Chiko dulu ya?"
" Ya bu, terima kasih".
Saat mami Tio keluar, Gendis penasaran kenapa dia berada di rumah ini.
" Ibu, kenapa kita disini ?, apa yang terjadi ?"
Ibu Gendis tersenyum, sambil berucap,
" Nanti Ibu ceritakan, sekarang kamu makan dulu".
Sementara di tempat lain, mami Tio menghubungi Tio.
" Io, ini Gendis sudah ingat, dia mengenali kita, coba kamu telepon dokter, kita harus apa?"
" Syukurlah Mi, ya aku coba tanya dokter".
Tio menghubungi nomor dokter yang pertama merawat Gendis.
" Dokter ini saya dapat kabar dari rumah, Gendis sudah ingar".
" Oh syukurlah, termasuk cepat itu".
" Lalu bagaimana selanjutnya?"
" Biarlah dia mengembalikan ingatannya sendiri, supaya dia tidak kaget".
" Tapi, jika nanti dia bertanya kenapa dia ada di rumahku ?"
" Katakan saja yang sebenarnya, boleh siapa saja selain Mas Tio".
" Kenapa ?"
" Dia pasti akan sangar malu".
" Baik dokter, terima kasih".
" Sama-sama Mas".
Ada telepon masuk, dari maminya
"Tio, ini Gendis memaksa untuk pulang".
" Biarkan saja Mi, nggak pa pa".
__ADS_1
" Kamu ditunggu, Gendis mau ngomong sama kamu".
" Baiklah, aku pulang"
Tio mengambil motornya di bawah dan segera membawanya untuk pulang.
Benar saja, sampai di rumah semua sudah siap, Kopor Gendis dan ibunya sudah dibawz oleh Pak Bandi untuk diletakkan di bagasi.
" Ndis, kamu sudah ingat ?"
" Ya pak, maafkan saya selama disini saya merepotkan bapak dan keluarga, saya tidak tahu apa yang terjadi, bagaimana saya jadi berada si rumah ini, ini sangat membingungkan saya".
" Nanti ibu yang akan menceritakan, kamu tidak merepotkan jangan khawatir, Chiko malah senang ada teman bermain".
Tio memandang ibu Gendis
" Ibu, bisa bicara sebentar?"
" Oh ya Nak silahkan".
" Kita keluar sebentar".
" Baik, ibu keluar sulu ya Ndis".
Setelah sampai di luar
" Ibu, mohon maaf sebelumnya, apapun yang ditanyakan oleh Gendis, tolong nanti dijawab apa adanya, tapi dengan cara ibu, supaya sia tidak malu dan tersinggung, sebab berada disini".
" Oh itu, baiklah Nak, nanti ibu usahakan untuk bicara dengan Gendis, dengan bahasa ibu, selain itu, ibu sangat berterima kasih sebab selama disini kami sangat merepotkan".
Tio tersenyum
" Ibu tahu itu tidak benar, kami senang ibu dan Gendis tinggal disini, Cgiko dan mami punya teman".
Mereka tertawa bersama,
" Mari masuk bu".
" Sudah Pak ?!, tanya Gendis".
" Ya sudah" jawab Tio sambil tersenyum.
" Ibu, Pak Tio, apapun yang terjadi selama saya disini, pasti sangat merepotkan saya mohon maaf sebesar-besarnya".
Mami Tio mendatangi Gendis dan memeluknya.
" Nggak pa pa Ndis, jika sewaktu-waktu kamu kangen dengan Chiko kamu boleh kesini".
" Baik bu, terima kasih".
Mereka saling berjabat tangan. Dan diantar sampai di depan rumah.
Entahlah, ada yang kosong di hati Tio, tapi ia sadar Gendis bukan siapa-siapanya untuk dipertahankan. Dengan lesu, ia berangkat lagi ke kantor.
Sementara Gendis masih berfikir keras bagaimana ia bisa berada di rumah Tio.
" Buk".
" Yo Nduk ?"
" Sebetulnya apa yang terjadi, sampai aku berada di rumah Pak Tio ?"
" Nanti kalau kita sudah ada di rumah ibu akan cerita".
Sampai di kontrakan mereka Sisca belum pulang kerja, tapi Gendis selalu membawa kunci itu si tasnya, tapi ia tak menemukan. Ia lihat dari jauh Sisca terengah-engah membawa bahan belanjaan yang sangat banyak sambil berlari-lari kecil.
" Mbak Gendiiiiis", ia segera menghambur ke arah Gendis dan memeluknya. Mereka saling berpelukan.
" Mbak Gendis ingat aku kan?"
" Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan cewek secentil kamu".
Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
" Ibu", sapa Sisca sambil menjabat tangan bu Indri sambil mencium punggung tangannya.
" Aku bawa kunci, tadi Psk Tio bilang katanya mbak Gendis pulang, makanya aku minta izin untuk mengantar kunci rumah, sambil ini ada titipan dari... ", Sisca berhenti bicara, ia lupa tadi sudah diwanti-wanti Tio supaya jangan bilang bahwa bingkisan itu darinya,vsrbab jika tahu Gendis pasti menolak.
" ....Dari teman-teman sekantor, mbak Gendis kan suka masak tuuuh, ini ada makanan instan dan mentah, diolah yang banyak ya, jadi nanti aku pulang dari kerja tinggal makan, hehe".
" Aaah terima kasih, kalian baik, tiga kantong plastik besar gini, salam buat teman-teman ya...".
" Baik mbak, aku berangkat lagi ya, sini cium dulu ".
Mereka berpelukan lagi, dan tak lupa Sisca menjabat tangan bu Indri.
" Saya berangkat lagi ibu, assalamuallaikum...".
" Waalaiku sallam".
Mereka.masuk.ke dalam rumah. Rumah tidak berbeda, tetap seperti sebelumnya.
Mereka membawa bahan belanjaan yang tadi dibawa dan diletakkan ke dalam kitcen set.
" Kamu mau dimasakin apa Nduk?" tanya Bu Indri pada anaknya.
" Masak ayam bumbu rujak yok buk, aku kangen masakan ibu, setiap bikin nggak pernah seenak punya ibu".
" Halah gombal".
Mereka mulai memasak, sambil memasak mereka ngobrol panjang lebar mengenai keadaan ibu selama di Belanda. Ibu menceritakan betapa ia sudah tak betah lagi di Belanda, ia selalu ingat Gendis.
" Ah ibu, anak ibu disini kan bahagia, jangan khawatirkan aku" .
" Ya begitulah hati seorang ibu Nak, walaupun sudah dewasa, anak akan tetap dianggap sebagai anak-anak buat ibu, nanti sekali-kali kamu jenguk ibu dan ayah di Belanda ya?"
" Baik ibuuu, siap, eh buk gimana aku bisa tinggal di tempat Pak Tio setelah terjadi kecelakan itu ?"
" Nanti habis makan, ibu ceritakan".
Setelah selasai makan, Gendis menuntut jawaban dari ibunya. Ibu mengajak Gendis untuk duduk di ruang tamu, sambil melihat hiruk pikuk suasana luar.
Ibu Gendis mulai menceritakan asal mula Gendis betada di rumah Tio, dari awal sampai akhir, Dengan kembut, supaya bisa diterima baik oleh Gendis.
Tapi tetap saja, Gendis merasa malu, wajahnya tampak merah saat mendengar cerita ibunya. Bagaimana mungkin ia bisa mengira bossnya adalah suaminya.
" Sudah Nduk sekarang kamu hanya perlu memulihkan keadaanmu saja, jangan memikirkan hal lain".
" Ibu, boleh aku ikut ibu ke Belanda ?"
" Tentu saja boleh, ayah dan ibu akan senang jika kamu ikut ibu, tapi kenapa?"
" Aku bisa bantu usaha ayah disana kan ?"
" Tentu saja, ayah pasti sangat senang".
" Kita berangkat minggu ini bu !"
Wajah Gensis tampak memgeras
" Baiklah, terserah kamu saja Nduk, tapi kamu kan harus ngurus macam-macam dulu ".
" Ya, satu minggu lebih dari cukup, besok aku akan mulai mengurusnya ".
Ia harus terpaksa meninggalkan orang-orang baik yang mengelilinginya. Ia tak mau menyakiti salah satu dari mereka.
Ia harus pergi jauh neninggalkan Jakarta.
🙂🙂🙂🤗🙂🙂🙂
Maaf ya kaaaa, kemarin libur lagi, lusa aku sambung lagi, srbab ada kerjaan di dunia nyata yzng harus aku kerjakan.
Di tengah kesibukan dunia nyata, aku berusaha menyelesaikan satu episode ini.
Jangan lupa like, koment n vote nya yaaa
Saranghaeyo 😘😘😘
__ADS_1