Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 30


__ADS_3

Sean duduk di samping tempat tidur, dimana Alexa terbaring.


Sebelah tangan kiri Alexa diperban tepat di nadi.


" Lexaaa, kenapa kamu berbuat seperti ini ?? Ini semua memang salahku, tapi nggak seharusnya kamu berbuat seperti ini, Oh Tuhaaan, bagaimana aku bisa menyakiti semua orang ??"


Sean tertunduk sedih. Ia terus mengkhawatirkan kondisi Alexa.


Alexa adalah dua bersaudara dari keluarga Bapak Hadi Wijaya, walaupun berlatar belakang orang kaya tapi dia sangat sensitif dan rendah diri, sehingga untuk membuka pertemanan dengan orang lain hal itu sangat sulit.


Dia tidak memiliki banyak teman, hal itulah yang membuat Sean dan Alexa dekat, dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.


Alexa yang begitu penakut, dan selalu tidak berani memgambil keputusan sendiri, membuat Sean jatuh hati.


Sebetulnya mereka memiliki sifat yang berbeda, tapi rasa dibutuhkan dari lawan jenis yang membuat Sean merasa mendapat perhatian.


Malam itu Sean menunggu Alexa ia tak pulang, ia menunggu sampai Alexa terbangun. Malam itu ia tak bisa tidur.


Begitu juga dengan Gendis, malam ini dia tak bisa tidur, ia memikirkan kondisi Alexa sekaligus mengkhawatirkan suaminya.


Jika Alexa kenapa-napa ia tk mau Sean yang disalahkan.


Sampai mereka capek dan tertidur entah jam berapa.


Pagi harinya Gendis melihat di sampingnya masih rapi, berarti semalam Sean tidak pulang.


Kesedihan tak bisa disembunyikan dari hati Gendis.


Kenapa Mas Sean memilih menunggu Alexa, apakah dia memang berat meninggalkan Alexa.


Baiklah tak ada yang bisa aku harapkan dari Mas Sean, kalau dia tidak bisa memutuskan, akulah yang akan memutuskan.


Sekali lagi, Gendis harus pergi meninggalkan apartemen ini, cuma bedanya, kali ini, ia akan pergi untuk selamanya


Gendis memandang sekali lagi apartemen tempat dimana dan orang yang ia cintai memadu kasih.


Kali ini, aku akan meninggalkanmu untuk selamanya. Terima kasih, telah memberiku kisah yang indah, semuanya akan aku kenang sebagai sejarah yang tak akan pernah kulupakan.


Ia memandang sekeliling, dan keluar dari apartemen dengan berurai air mata.


Sambil menyeret koper berisi sisa baju yang ada di lemari, Gendis melangkah dengan pasti semakin maju ke depan.


Mungkin kehidupan pribadiku tak seberuntung orang lain, Tapi karierku tak boleh stag, aku harus semakin maju tanpa Mas Sean.


Dalam perjalanan menuju ke rumah mertuannya untuk berpamitan air matanya tak berhenti jatuh, Beberapa kali ia harus mengusap air yang terus mengalir di pipinya.


" Gendiiiis sayaaaang, kamu dimana saja ?"


Mama mertuanya menyambut dengan gembira kedatangan Gendis.


Beliau memeluk sangat lama, begitu juga dengan adik Sean, mereka berkumpul di ruang makan, tempat favorit keluarga.


" Itu Mba Gendis, bawa koper besar mau dibawa kemana?"

__ADS_1


" Sebetulnya aku ada perlu kesini, lebih lengkap jika ada papa".


" Wah kamu mau pindah sini ya Nduk ? Ya biar rame " tanya mama terlihat bahagia.


" Bukan Ma, aku mau pamit ".


" Pamit ? pamit piye to Nduk? kamu mau kemana ?"


" Kami,..., aku dan Mas Sean sudah nggak sejalan Ma, kami tidak bisa bersama lagi".


" Gendiiiiis !! apa maksud kamu ?"


" Mbak, ada apa ini ?"


" Lebih baik, Mas Sean yang bercerita langsung mengenai hal ini, intinya kami sudah tidak bisa bersama lagi".


" Gendiiiis, tidak kamu tidak boleh pergi dari mama, apa ini ada hubunganya dengan perempuan itu ?" Tanya mama.


" Perempuan itu ? Siapa ? Siapa mba ? Mas Sean selingkuh ?"


" Aku tidak bisa cerita, kalau kamu mau tahu ceritanya, tanyakan pada Mas Sean. Mama aku sudah lelah, aku tidak bisa menerima ini lagi".


" Gendiiiiis, Sean bodoh kalau tidak memilih kamu, dia benar-benar bodoh!" bicara seperti itu mama sambil menangis.


Menyadari kenyataan akan ditinggalkan oleh Gendis itu cukup membuat mama menangis sesenggukan.


" Maafkan Gendis Ma, Gendis sudah berusaha bertahan, Gendis sudah memberi waktu mas Sean, tapi ternyata dia tak bisa lepas dari kekasihnya, biarlah Gendis yang mengalah. Sebab bersatupun hanya akan menyiksa kami berdua.


" Tak bisakah kamu beri satu kesempatan lagi pada Sean ?"


" Mama ingin kami tersiksa dalam pernikahan ini?"


" Oalaaah Nduk, tentu saja nggak, yang mama inginkan kalian bahagia".


" Maka, biarlah kami lepas Ma, mungkin ini lah yang terbaik bagi kami berdua".


" Ya Allah Nduuuuuk, maafkan kamiii".


Mereka masih mengusap air mata, saat papa datang.


" Loh Nduuk, kamu datang kapan ??, lo lo lo kenapa ini kok pada nangis?".


Gendis langsung mendatangi mertuanya dan mencium punggung tangan beliau.


" Ada apa ini ?"


" Gendis mau pamit pa, dia mau meninggalkan kita".


" Ada masalah apa Ndis, super market yang di Bekasi maju pesat sejak dipegang kamu, kamu mau pergi kemana ?"


" Saya ada tujuan Pa, ada perusahaan yang menawari pekerjaan pada saya", Gendis bohong, sebab ia yakin jika ia jujur, papa tidak akan mengizinkannya.


" Nanti papa pindah kamu ke pusat, ada dua super market yang perlu swntuhan tanganmu".

__ADS_1


" Papa, Gendis sudah tidak bisa".


" Gendiiiiis, kami sangat mencintaiku Nak"


" Gendis juga mencintai keluarga ini Pa, melebihi cinta Gendis pada diri sendiri, tapi Gendis juga tak mau merusak diri sendiri, semakin ditahan perasaan Gendis akan semakin hancur Pa".


" Entah kenapa Sean bisa sebodoh itu ?"


" Jangan Pa, biarkan saja, ini bukan salah Mas Sean, saya yang datang terlambat saat Mas Sean sudah jatuh cinta dengan yang lain, Mas Sean tidak salah, wanita itu juga tak salah, kami dihadapkan pada posisi dilema, terpaksa menerima keadaan".


" Oalaaah Ndis, maafkan kami yang egois ini, menyuruhmu untuk menikahi anakku yang bodoh itu, membuang berlian hanya untuk memungut perhiasan imitasi".


" Maafkan Gendis Pa, percayalah tidak ada dari kami bertiga yang mau keadaan seperti ini, Walaupun kami berusaha bertahan, kenyataanya kami tak sanggup, tapi kami juga tidak menyalahkan papa, mama dan ibu, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia".


" Maafkan kami Nak", kata papa sambil menunduk. Beliau sangat terpukul dan kecewa sebab harus kehilangan menantu kebanggaan.


" Gendis yang minta maaf Pa, Gendis tak bisa memenuhi keinginan mama dan papa".


Mereka semua tak bisa menyimpan rasa sedihnya,


Ruangan seketika senyap, hanya sesekali terdengar isakan tangis.


"Pa, Ma, Airin, aku pamit, mohon maaf bila selama ini tak sengaja bikin salah".


Mereka saling berpelukan dengan rasa sedih yang mendalam.


" Lalu, kamu mau kemana Nduk ?"


" Jangan khawatir Ma, saya ada tujuan".


" Hati-hati yo Nduk, jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami, kami siap membantu kapan saja".


" Nggih Ma, assalamuallaikum...."


" Waalaikumsalam..."


Gendis dintar sampai di depan pintu, sebetulnya papa menawarkan diri mengantar Gendis kemana saja, tapi Gendis menolak, dia bilang sebentar lagi ada yang menjemputnya.


☹☹☹☹☹☹


Next ya kaaa


Dukung terus Gendis, dengan


Like. 👍👍👍👍👍


Koment. 💬💬💬💬


Vote. 🤳🤳🤳🤳


Rate. 🌟🌟🌟🌟🌟


Saranghaeyo 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2