
Semua berjalan seperti seharusnya, Gendis sudah melupakan Sean, begitu juga dengan Sean.
Mereka bagai saudara yang terpisah jauh. Walaupun Gendis masih melakukan kontak lewat telepon dengan orang tua asuhnya, tapi tak sekalipun ia berusaha untuk menghubungi Sean, begitu juga sebaliknya.
Di kampus itu, tidak hanya mahasiswa Indonesia yang menyukai Gendis, bahkan teman mahasiswa dari luar negara pun banyak yang menyukaianya, tapi sayang, Gendis sama sekali belum.memikirkan membuka kembali hatinya untuk orang lain.
Dia masih ingin sendiri, menikmati masa mudanya yang belum sempat ia nikmati selesai kuliah dulu.
Ia sering jalan bareng dengan teman-teman kuliahnya saat ini, setiap akhir pekan mereka pasti punya rencana untuk jalan-jalan keliling Belanda. Sekarang di tempat wisata ini, besok di tempat yang lain.
Sampai hampir satu setengah tahun Gendis kuliah disana, dia sudah selesai dengan tesisnya, tinggal ujian, selesai sudah.
Hari ini mereka bertiga, ibu, ayah dan Gendis jalan-jalan ke Amsterdam, disana sedang musin semi, swhingga sepanjang perjalanan mereka ditemani oleh indahnya bunga tulip, untuk menikmati bunga tulip tidak harus selalu ke suatu tempat, sebab Amsterdam memilikinya di sepanjang pinggir jalan.
Ayah ada pertemuan pengusaha coklat di salah satu hotel di Amsterdam, beliau mengajak anak dan istrinya untuk ikut serta.
Hari ini, ayah sengaja mengajak ibu untuk pertemuan dengan istri-istri pengusaha, sebetulnya Gendis diajak tapi dia memilih untuk jalan-jalan sendiri seputar hotel.
Musim semi tahun ini menurut Gendis yang biasa hidup di daerah tropis masih terasa dingin di kulitnya, orang Eropa cukup menggunakan kaos atau jaket tipis, tapi bagi Gendis pakaian segitu tidak bisa menghangatkan tubuhnya yang berkulit lebih tipis dibandingkan dengan orang Belanda, dia harus menambahkan jaket agak tebal untuk menghangatkan tubuhnya
Dia masih asik melihat-lihat bunga tulip yang digunakan untuk menghias ruang Selamat datang, saat tanpa sadar dia menabrak orang yang melakukan kegiatan sama dengan dirinya, melihat-lihat bunga tulip.
" Oh Sorry..." Dia menghadap ke arah orang yang ditabraknya sambil.meminta maaf.
Seorang pria bertubuh atletis dengan tinggi menjulang, dibandingkan dengan Gendis, dengan wajah indo seperti dirinya.
" Het is okey, dat was niet de bedoeling ( tak apa, anda tidak sengaja)"
Gendis tersenyum, dia melihat-lihat kembali bunga tulip. Saat ayah dan obu menghampirinya,
" Gendis !" panggil ibu, sementara ayah mendatangi pria yang tadi Gemdis tabrak mereka tampak ngobrol dengan akrab, dan terlihat jelas ayahnya sangat menghormati orang tersebut.
Usianya nggak beda jauh dari Gendis, tapi melihat begitu hormat ayah menghadapinya, pasti dia bukan orang sembarangan.
" Gendis, sini Nak", sambil.melambai ke arah Gendis.
" Ya yah", Gendis menghampiri ayah dan pria tersebut.
" Kenalkan, ini teman ayah Larry, dan ini anak saya Gemdis".
__ADS_1
" Ooooh, kita tadi sempat tabrakan ya?" kata Larry kepada Gendis.
" Bisa bahasa Indonesia?" tanya Gendis tanpa menjawab pertanyaan Larry.
"Bapak saya orang Indonesia walaupun saya tinggal di Belanda".
" Ooooo sama ya." mereka tertawa bersama
Dari situlah, hubungan mereka berawal. Larry laki-laki disiplin dan tegas, tapi di sisi lain dia ternyata pria yzng baik hati dan romantis.
Sejak perkenalan itu mereka menjadi semakin dekat, tapi bukan berarti mereka berpacaran. Sebab selain Larry belum menyampaikan perasaanya, dia juga memperlakukan Gdndis dengan sopan.
Tak ada alasan Gendis untuk berbesar kepala menganggap Larry jatuh cinta padanya, selain teman dekat saja.
Sejak berkenalan dengan Larry, kehidupan Gendis menjadi berubah, ia menjadi wanita yang ceria, sebab Larry memang paling pandai menghibur hati Gendis.
Setiap akhir pekan ada saja acara yang Larry buat baik berkumpul dengan teman-teman Gendis maupun teman-temannya sendiri, sehingga mereka saling kenal.
Seperti hari ini, Larry mengajak Gendis untuk ikut dirinya bergabung dengan teman-temannya yang menyukai hoby berenang.
Tapi di luar dugaan Gendis menolak
" Kenapa Ndis ?"
" Oo oke kalau begitu, semoga sukses, aku ikut berdoa buat kamu".
" Thanks, selamat bersenang-senang".
😊😊😊😊
Saat ini Gendis sedang menghadapi empat dosen-nya untuk menguji tesisnya, banyak teman-teman dari Indonesia yang mendampinginya untuk memberinya dukungan. Tiga jam di dalam ruangan, akhirnya Gendis keluar, dengan wajah yang lelah, tapi tentu saja ceria. Ia dinyatakan lulus.
Teman-teman dari Indonesia menyambutnya dengan gembira di luar ruang uji.
Mereka.memang kompak. Gendis bahagia tak terkira, teman-teman seperjuangan semua sangat baik.
Gendis mengundang sahabat-sahabatnya hari ini untuk makan-makan di rumah saja.
" Ibu, alhamdulillah Gendis lulus", telpon Gendis pada ibunya.
__ADS_1
" Alhamdulillah Nak, semoga ilmumu berkah dan bermanfaat".
" Aamiin...., ibu boleh nggak aku nanti ngajak makan teman-teman di rumah".
" Dengan senang hati Nak, nanti ibu pesankan makanan padang aja di tante Venny, mereka pasti kangen makanan Indonesia".
" Baik bu, makasiiih, muaah".
Bu Indri tersenyum sambil.menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat senang Gendis tampak sangat bahagia, biasanya ia tak secerah ini.
Senang, tapi sikapnya selalu wajar tak berlebihan, tapi akhir-akhir ini, terlihat pancaran bahagia yang lebih bisa bu Indri lihat dari wajah Gendis, dan membuatnya menjadi semakin cantik.
Bu Indri menghubungi suaminya untuk nmemberitahu bahwa Gendis lulus ujian, dan rencananya malam ini.
Tentu saja ayah sangat gembira, Ia segera menghubungi beberapa temannya untuk datang nanti malam.
Acara makan malam yang direncanakan berubah menjadi pesta, sebab tamu yang diundang mereka ternyata tidak sedikit, hampir seratus orang,
Acara digelar di halaman rumah mereka.
Semua teman Gendis datang, termasuk Larry, dia membawakan bunga paling indah untuk Gendis, berisi bukket mawar.
Keluarga ini tampak begitu bahagia, tamupun jiga berwajah ceria.
Satu persatu wakil dari masing-masing undangan memberikan sambutannya, dari teman ayah Gendis, teman Gendis diwakili oleh salah satu wakil dari Indonesia, tak lupa Larry juga memberikan sambutannya.
Saat Larry maju, teman-teman mereka menyambut riuh rendah. Memang kebanyakan dari nereka menginginkan Gendis dan Larry menjadi sepasang kekasih.
" Dari pertemanan kita, aku tahu, kamu sudah tidak.ingin berpacaran lagi, katamu yang pertama karena kamu sudah tak muda lagi, padahal aku lihat kamu masih sangat muda ( disambut tawa oleh para hadirin). Yang kedua, aku tahu, kamu tak akan nenerimaku, jika masih menempuh pendidikan, maka tidak berlebihan jika aku menyampaikan ini. Gendis tak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan selain, Will you marry me". Sambil mendatangi Gendis dengan memberikan kotak perhiasan terbuka berisi cincin.
Semua hadirin bertepuk tangan dengan gembira. Beberapa dari mereka terutama yang wanita membelalakan mata dan terkejut. Mereka tidak menyangka ada moment romantis, di saat seperti ini.
" Terima terima terima terima!!" Teriak teman-teman Gendis.
Gendis memandang bingung Larry, sebab ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan, semengejutkan ini.
😊😊😊😊😊
Besok lagi ya kaaa
__ADS_1
jangan lupa, like, koment n vote nya
Saranghaeyo 😘😘😘