Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 31


__ADS_3

Gendis masih bermalam di Jakarta untuk malam ini. Besok ia berencana untuk pergi ke kota kelahirannya. Ia akan melupakan semua yang terjadi di kota ini.


Untuk mengingat saja ia sudah tak mau. Saat ini ia menyewa salah satu kamar di salah satu hotel, Gendis memilih kamar di atas, supaya ia bisa melihat kota Jakarta untuk terakhir kali.


Ia melihat dari jendela kaca, saat ponselnya berbunyi.


" Siapa ini ?" Tak ada nomor muncul


" Halo selamat siang"


" Selamat siang ibu, saya bicara dengan ibu Gendis Wilhelmina ?"


" Ya betul".


" Ini dari mall W, beberapa bulan yang lalu, ibu melamar kerja di mall kami, hari ini bisa ibu ke mall, ditunggu sampai pukul dua siang ini".


Ya Allah, apakah mungkin ini rezeki dari-Mu ?. Fikir Gendis.


" Bagaimana ibu Gendis ?"


" Baik, nanti saya ke mall".


" Baiklah ibu, kami tunggu sampai jam dua siang ini".


Gendis menengok ke arah jam di tangannya. jam dua belas lebih, sekarang waktu istirahat, nanti jam satu ia akan berangkat ke mall tadi.


Gendis harus memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Ia akan lihat akan tetap bertahan disini ? atau menyusul orang tuannya untuk ikut mengelola perusahaan ayahnya di Belanda.


Beberapa hari yang lalu ibunya sudah felling soalah terjadi sesuatu pada anaknya, sehingga beliau menghubungi Gendis.


Ibu bilang jika beliau saat ini tidak di rumah, tapi ikut ayah Gendis di Belanda, tapi jika Gendis pulang ke Blitar, ibu juga akan pulang, itu pesan ibu pada Gendis. Jika Gendis mau, Gemdis bisa memyusul ayah dan ibunya ke Belanda.


" Gendis, kamu bisa ijut nengelola perusahaan ayah di Belanda, kapan saja kamu bisa ayah tunggu" kata ayah saat itu.


Baiklah, ada dua kesempatan yang Tuhan berikan padaku saat ini, jika mall menyanggupi permintaanku, aku tidak akan ke Belanda, aku akan mencoba kemampuanku sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi jika mall tersebut menggajiku rendah, aku memilih ikut ayah ke Belanda.


Dengan keyakinan tersebut saat ini Gendis sudah duduk di kantor pengelolaan mall tersebut.


" Ibu Gendis, silahkan masuk".


" Ya terima kasih".


Gendis mengikuti langkah wanita yang menyuruhnya masuk tadi,


" Silahkan bu..."


Gendis memasuki sebuah ruangan yang lebar, posisinya berada di paling atas gedung, pemandangan kota Jakarta tampak terlihat jelas dari ruang yang hanya dibatasi kaca dari ruang yang ia masuki.

__ADS_1


Dari dalam ruang lain, muncul pria berjas dengan pakaian tampak keren, memasukkan kedua tanganya ke dalam saku celana.


" Ibu Gendis ?"


"Ya Pak, saya ".


Mereka berjabat tangan


" Silahkan duduk".


Pria berusia sekitar tiga puluh tahunan, di depannya dengan dandanan modis, dan tampak percaya diri.


" Maaf ibu Gendis, saya mewakili ayah saya, yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Harusnya ini bagian personalia juga, tapi ayah saya menginginkan saya mewawancarai Bu Gendis secara langsung".


" Ya Pak, tidak apa-apa"


" Nama saya Bramantyo, biasa dipanggil Tio".


" Ya, Pak, saya Gendis"


" Setelah saya mempelajari pengalaman kerja Ibu Gendis, serta melihat transkrip nilai Ibu, sepertinya saya tidak perlu banyak tanya ya? untuk rekomendasi nanti saya bisa minta Pak Adinata untuk mengirimkan ke saya, sebab ibu Gendis memang tidak menyertakan rekomendasi dari perusahaan sebelumnya".


" Iya Pak, tapi seandainya sekarang saya harus diwawancarai sesuai prosedur saya siap Pak".


" Saya sudah membaca riwayat kerja anda di kota kelahiran anda, dan di Bekasi, saya kira cukup, lalu berapa gaji yang anda minta ?"


" Baiklah kita deal, selamat bergabung dengan perusahaan kami".


Bramantyo mengulurkan tangan sebagai ucapan selamat kepada Gendis.


Gendis ternganga, ia belum percaya bahwa nominal yang ia sebutkan disetujui tanpa banyak pertanyaan, tangannya juga belum terulur untuk menerima selamat dari Pak Bramantyo.


Pak Bramantyo maklum, beliau tersenyum


" Ibu Gendis ?!"


" Oh ya Pak, maaf ... saya...saya masih tidak percaya"


" Tidak apa-apa, mulai besok Bu Gendis mulai kerja, kantor buka jam delapam pagi, selesai jam tiga sore jika tak ada lembur, oh ya, lembur ada perhitungan tersendiri bu Gendis".


" Baik Pak, terima kasih, saya sudah boleh keluar?"


" Silahkan !"


Setelah Gendis keluar, baru Bramantyo berfikir, wanita secantik dan secerdas ini, kenapa Sean tinggal demi Alexa, sayang sekali.


Pak Adinata dan Pak Handoko adalah teman bisnis, mereka tidak terlalu dekat, tapi saling kenal. Mereka berada dalam satu naungan organisasi pengusaha indonesia.

__ADS_1


Sedangkan Bramantyo dan Sean, sama-sama tergabung dalam organisasi pengusaha muda juga. Biasanya Bramantyo menjadi mentor untuk pengusaha-pengusaha rintisan. Ia sering membagikan pengalamanya untuk mencapai sukses.


Bramantyo, memiliki istri yang cantik dan berkelas. Mereka memiliki satu anak yang diasuh oleh Ibu dari Bramantyo, sebab istri Bramantyo lebih suka jalan-jalan dan shoping ke luar negeri dengan teman-temannya, daripada menunggu suaminya yang jarang pulang ke rumah karena lebih banyak di luar ngurusi bisnisnya.


Mereka menikah karena hubungan bisnis kedua orang tuannya, sehingga jika belum tumbuh cinta di hati mereka masing-masing sampai saat ini, itu bukan hal yang aneh, meskipun mereka sudah memiliki satu anak, tapi itu tetap belum bisa menyatukan hati mereka.


Bagaimana Bramantyo kenal dengan Gendis, dia pernah datang di pernikahan Gendis dan Sean. Saking banyaknya tamu, tentu Gendis tidak hafal satu persatu orang yang hadir.


Tapi Bramantyo tidak, ia hafal betul dengan istri dari temannya itu. Bukan karena ia jatuh cinta pada Gendis. Tapi karena ia tahu Sean sudah memiliki kekasih tapi menikah dengan orang lain.


Sean pernah membawa Alexa, pada pertemuan pengusaha-pengusaha muda. Kekasih Sean itu membuntuti kemanapun Sean pergi, ia kurang pandai berbaur dan bergaul dengan teman-teman Sean. Sehingga pengusaha muda lain hafal betul dengan pasangan ini.


Pun saat Sean menikah dengan wanita lain tapi masih tetap berhubungan dengan kekasihnya,mereka tahu, itu merupakan rahasia umum diantara mereka.


Gendis melangkah keluar dari kantor mall yang berada di puncak lantai dengan senyum.mengembang.


Aku punya potensi diri, aku tidak boleh jatuh hanya gara-gara masalah ini.


Terima kasih Allah, Kau berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki diri.


Aku berjanji, tidak akan menyerah begitu saja dengan cobaan yang Kau berikan. Aku yakin tujuan-Mu adalah menaikkan kelasku.


Dalam perjalanan menuju kembali pulang, Gendis sengaja mencari kontrakan yang ada di sekitar mall, masih ada, sore ini ia berniat pindah ke kontrakan tersebut.


Kesedihannya kemarin terbayar dengan hasil usahanya hari ini.


Berkah dari suatu peristiwa pasti ada, dan Gendis mendapatkan saat itu juga.


😊😊😊😊😊😊


Tambah satu episode lagi niiiiii


mana


like. 👍👍👍👍


koment 💬💬💬💬


vote 🤳🤳🤳🤳


n


rate-nya 🌟🌟🌟🌟🌟


Kencengin yaaaaa


Saranghaeyo 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2