
Gendis menghubungi kedua orang tuanya.
" Ayah dimana, aku cari dari tadi?"
" Ayah dan ibu di kamar Nak, kamu kesini saja".
" Baik aku akan menyusul"
Gendis menyusuri koridor hotel, ia tak sadar ada yang terus membuntutinya dari jarak aman. Sean. Sementara, Gendis mengetuk salah satu pintu. Ayah membuka pintu dan mempersilahkan Gendis untuk masuk.
Ada kelegaan di wajah Sean melihat siapa yang membukakan pintu. Sepertinya Gendis memang masih sendiri. Ada senyum mengembang di wajah Sean.
Hampir dua tahun tak pernah berkomunikasi sebetulnya mulai menghilangkan bayang-bayang Gendis di hatinya.
Akan tetapi, pertemuan yang sebentar tadi, mampu menghapus dua tahun keinginannya untuk mulai melupakan Gendis.
Ia sangat berharap Gendis akan datang ke rumah malam ini dengan kedua orang tuanya.
Benar saja, dengan membawa beberapa oleh-oleh tanpa memberi kabar terlebih dahulu, mereka datang ke rumah Sean.
Bapak dan ibu Adinata sangat senang dengan kedatangan mereka. Ibu Diana dan Bu Indri yang merupakan teman dekat saling berpelukan sambil menangis terharu, sebab sudah lama mereka tidak saling bertemu.
" Kalian menginao disini saja, akh siapkan kamarnya", ujar bu Diana.
Tapi tangan bu Indri melarangnya supaya jangan kemana-mana.
" Besok kami harus kembali ke Blitar pagi-pagi sekali, jadi kami nggak bisa mengjnap disini".
" Memang kenapa ?, aku kangen sama kalian, Gendis, sini Nduk"
Bu Diana mencium pipi Gendis.
" Aku rindu banget sama kamu cah ayu, kamu tambah cantik selama di Belanda di kasih makan apa si, kok bisa cantik gini?"
" Dikasih makan coklat terus sama ayah, makanya jadi gendut gini", jawab Gendis sambik berkelakar.
" Masih langsing kamu Nduk, ayu tenan cah iki, loh Sean kemana, masih di kamar ya, sebentar tak panggil dulu", mama Sean sangat antusias, sebetulnya beliau masih menginginkan supaya Gendis masih tetap menjadi menantunya, tapi apa daya takdir berkata lain.
Sementara papa Sean dan ayah Gendis sudah ngobrol berdua di luar rumah.
Ibu dan Gendis duduk di ruang keluarga, para asisten mendekati Gendis dan memberikan salam. Mereka tentu saja sudah saling kenal. Sebab jika main di rumah ini, Gendis selalu menyapa mereka dengan ramah.
Sean bukan tidak tahu Gendis ke rumah, mendengar ada suara mobil mendekat, ia segera mengintip dari jendela, begitu tahu yang keluar dari mobil adalah ayah Gendis, seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta, ia segera berlari ke kamarnya di lantai atas untuk mematutkan diri di depan kaca.
Dia melihat dirinya di kaca tampak terlihat tampan dengan celana pendek berwarna kheki dipadu dengan kaos berwarna hitam. Ia tersenyum sendiri.
" Sean, Sean, turun Naaak, ada tamu !"
__ADS_1
Sean pura-pura kekuar dengan ogah-ogahan
" Ada apa Ma ?", tanyanya dengan berpura-pura.
" Keluar yuk, tuh ada Gendis di bawah, tambah cantik lo dia, cepetan", sambil menyeret tangan anaknya.
Sean tampak senyum-senyum di belakang ibunya, benar-benar mirip ABG yabg lagi kasmaran.
Di bawah, Gendis dan ibunya sedang ngobrol dengan adik Sean, Airin.
" Mba Gendis aku pingin ke Belanda, enak nggak disana?"
" Bareng sama keluarga ya enaklah".
" Hawanya dingin ya?"
" Tentu saja, aku disana musim semi dan panas aja masih pakai jaket".
" Sedingin itu ?"
" Di aku, kita biasa hidup di iklim tropis jadi ya gitu deeeh".
" Haaai ini Sean, di kamar aja dari tadi".
Mama Sean memotong obrolan mereka, Sean mengulurkan tangannya.
Sementara Gendis melihat-lihat ke atas dan sekeliling, kok Alexa nggak kelihatan?.
" Eh ... enggak", senyum malu mengembang di bibir Gendis.
Mereka ngobrol ramai, terutama mama Sean, dia sangat senang dengan kedatangan mereka.
Dari atas terdengar suara tangisan putra Airin.
" Aku ke atas dulu, kayaknya ada yang protes ditinggal", kata Airin sambil tersenyum.
" Ya, antengin dulu si dede", jawab mama. Mama menggandeng tangan sahabatnya menuju keluar, beliau meminta bu Indri untuk menyusul suami-suami mereka.
Di ruang keluarga tinggal Gendis dan Sean, yang tampak kaku untuk memulai pembicaraan.
" Gendis kamu pasti lulus nggak sampai dua tahun ya ?", tanya Sean dengan pertanyaan yang sebetulnya menurutnya sendiri adalah pertanyaan yang tak perlu dilontarkan. Garing. Batin Sean sendiri.
Gendis tersenyum sambil mengangguk. Ini juga sama saja. Mereka menyadari pertanyaan itu tak perlu, karena saking groginya ya pertanyaan itulah yang keluar.
Menyadari ketololan itu, mereka berdua tertawa kecil.
" Pertanyaan yang nggak perlu ya?" kata Sean.
__ADS_1
Gendis menganggukkan kepala sambil tersenyum.
" Aku boleh kapan-kapan main ke Belanda ?"
" Main saja, Airin juga pingin kesana, kalian bisa liburan di Belanda, nggak usah nginep di luar, kami menyediakan tempat".
" Ndis...", Sean tidak melanjutkan bicaranya, justru menggantung karena ragu untuk bertanya.
" Ya", jawab Gemdis sambil menoleh ke arah Sean, yang tidak disadari Gendis duduk mereka ternyata sangat dekat, sehingga saat menoleh mukanya menghadap langsung ke muka Sean.
Menyadari itu Gendis segera menundukkan kepala, dan beringsut menjauh.
" Maaf", kata Sean.
Sementara muka Gendis tampak merah karena malu, sangat malu malah.
" Ndis.... ( menggantung lagi), kamu .... masih.... sendiri....?"
Mendengar pertanyaan itu, dada Gendis berpacu dengan cepat. Dia tidak akan menyembunyikan hubunganya dengan Larry, tapi untuk menjelaskannya, langsung ia belum siap.
Yang bisa ia lakukan adalah menarik nafas panjang dan menganggukkan kepala.
Melihat isyarat itu, Sean menjadi lemas, seluruh badan dan otaknya menjadi tak bisa diajak bekerja normal.
" Kamu sendiri ? aku kira sudah menikah dengan Alexa ?" tanya Gendis dengan pelan.
" Aku... memutuskan hubungan kami setelah surat perceraian kita turun".
" Kenapa?, bukankah itu kesempatan kalian untuk melangsungkan pernikahan?"
" Entahlah.... aku merasa tidak bisa saja melanjutkan hubungan kami".
Sebetulnya, ada yang Sean sembunyikan, dulu, ia tak bisa melanjutkan hubungan dengan Alexa, sebab setelah Gendis pergi, ia sadar tak sedikitpun cinta tersisa untuk Alexa. Semua sudah pergi bersama perginya Alexa. Bahkan Sean sempat jatuh sakit setelah perpisahan itu.
Saat ini, dia tak mungkin cerita, sebab Gendis sudah menemukan tambatan hatinya di Belanda. Sebagai pria dewasa dia tidak boleh, merusak hubungan yang sudah terjalin.
" Hubungan kalian serius?"
Gendis menganggukkan kepalanya. Ia teringat betapa baiknya Larry, dia selalu menghibur dan membagi kebahagiaan dengan Gendis. Dengan Larry, hidupnya penuh dengan kebahagiaan.
Senyum kecil mengembang di wajah cantik Gendis, itu tidak lepas dari pengamatan Sean.
Sean mengartikan senyum Gendis adalah senyum bahagia, sebab sebentar lagi dia akan menikah.
Luluh lantaklah perasaan Sean. Gendis sudah tak mencintaiku. Dia sudah jadi milik orang lain.
Mereka sama-sama terdiam. Setelah melihat rona bahagia di wajah Gendis, tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Sean, selain diam dan memasrahkan diri, bagaimana nasibnya selanjutnya.
__ADS_1
Pada dasarnya, mereka memiliki perasaan yang sama. Sama-sama merasa sedih, sama-sama masih saling mencinta.
Dan kesalahpahaman mengenai perasaan ini, cukup membuat mereka berdua bungkam. Sampai keluarga Gendis berpamitan untuk pulang.