Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 56


__ADS_3

Untuk mengurangi beban di batinya, tak ada beda antara laki-laki dan perempuan, jika memang harus menangis, menangislah.


Jika beban itu tak mau kau bagikan pada orang lain, setidaknya dirimu sendiri akan merasa sedikit lega.


Sean membawa sepedanya ke arah jalan pinggir kanal. Kanal terlihat sangat ramai, Sean mencari tempat yang lebih sepi. Ia ingin menyendiri. Sambil melihat indahnya pemandangan di pinggir kanal.


Tempat ini sangat romantis, seandainya..... aaaaah jangan berkhayal Sean, Gendis sudah bukan milikmu.


Sean menemukan tempat yang dicarinya. Sepi, jauh dari keramaian.


Ia berdiri di pinggir kanal, sendiri.


Sampai tiba-toba ada seseorang yang menemaninya berdiri di pinggir kanal.


" Sendirian?", tanya pria tampan di sebelahnya


Sean memandang orang disampingnya, dia berwajah bule, tapi pandai berbahasa Indonesia.


"Ya, Indonesia ?"


" Ya, setengah Indonesia," kata pria disebelahnya sambil.mengulurkan tangan.


" Larry"


Sean menyambut jabatan tangan teman yang baru dikenalnya.


" Sean".


" Jika aku punya fikiran, aku juga biasa kesini", kata Larry.


" Kamu tonggal di Belanda ?"


" Ya, tapi aku fasih bahasa Indonesia, ayahku disiplin mengajariku".


" Ayahmu ?"


" Ya, dia asli Indonesia, ibuku asli Belanda".


" Sorry Sean, aku tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraan kalian".


" Maksudmu ?"


" Kamu dan Gendis".


Sean tampak terkejut, siapa pria ini? kok bisa ada di rumah Gendis. Pandangan Sean yang mengarah pada Larry tampak bertanya-tanya, terlihat jelas dari matanya.


" Aku tunangan Gendis".


Sean baru paham, dia melihat lagi ke arah kanal.


" Jadi, kamu jauh-jauh dari Indonesia, menempuh hampir lima belas jam perjalanan untuk mengungkapkan itu ?"


" Maaf. Ya, setidaknya, aku harus jujur pada hatiku. Dan Gendis harus tahu bagaimana perasaanku".


" Ya, aku paham".


" Seperti yang kau dengar, dia tetap memilih kamu. Aku hargai keputusannya, aku tidak akan mengganggunya lagi. Sudah ada kamu, tolong jaga dia baik-baik".


Larry tersenyum.


" Ayahku memang orang Indonesia, tapi seperti orang barat lainya, keputusannya selalu menggunakan logika, tak tersisa perasaan, jika itu menyangkut masa depan".


Sean memandang Larry tak paham.


" Aku mencintai Gendis. Sangat. Tapi ini juga masa depanku. Aku juga tidak mau energiku habis hanya memikirkan istriku yang mencintai pria lain. Sorry mungkin pola pikirku berbeda dengan kamu. Tapi, aku akan lebih tenang jika tidak menikahi Gendis".

__ADS_1


Sean merasa takjub dengan pola pikir Larry. Tapi ia juga paham bagaimana Gendis. Akhirnya yang keluar hanya senyum tak berdaya dari Sean.


" Entahlah Larry, aku kenal Gendis, dia tak akan mudah kembali padaku juga".


" Aku juga tidak menyuruhnu untuk kembali, tapi kalau memang kamu inginkan Gendis kamu harus memperjuangkannya, supaya ia mau kembali padamu".


Sean terdiam lagi, luar biasa calon suami Gendis ini. Selain rasional dia ternyata juga baik hati.


" Baiklah, aku akan menemui Gendis, semoga kamu beruntung" Sambil menepuk pundak Sean, dan meninggalkannya sendirian di pinggir kanal.


Larry mengarahkan mobilnya kembali lagi menuju rumah Gendis.


Seperti tadi, ia langsung menuju teras belakang. Larry sudah hafal, Gendis memang sangat suka di teras belakang. Menurutnya, disana ia merasa sangat damai.


Ia lihat Gendis masih dalam posisi seperti tadi, menutupi sebagian mukanya dengan bantal.


Larry memegang pundak Gendis.


" Gendis", panggilnya lembut.


Gendis segera mengusap air matanya, walaupun begitu, muka sembabnya tak bisa disembunyikan.


" Larry, kapan kamu datang ?, ada bias gembira di mata Gendis dengan datangnya Larry".


" Baru saja, are you ok ?"


" Ya, aku nggak pa pa".


Larry mengusap pipi Gendis yang masih menyisakan air mata.


" Kamu habis menangis?"


" Aku nggak pa pa ".


Larry duduk disamping Gendis.


" Apa?"


Larry mulai menceritakan kedatangannya ke rumah tadi saat Gendis dan Sean ngobrol, dan tanpa sengaja ia mendengar sebagian pembicaraan, sehingga ia tak jadi bergabung.


Dari pembicaraan yang terdengar tadi ia dapat mengambil kesimpulan.


" Hubungan ini tidak bisa dilanjutkan Gendis, kamu, tidak boleh menyiksa batinmu sendiri, sekaligus hatiku, itu namanya egois".


Jika Larry sudah memdengar pembicaraanya dengan Sean, ia sudah tak bisa mengelak lagi.


" Maafkan aku Larry, tapi aku memiliki keyakinan suatu saat aku bisa merubah hatiku, kamu baik aku yakin sangat mudah hatiku berubah untuk kamu, tapi.... maafkan aku, aku tak nenyadari itu tak adil bagimu".


Gendis mulai menangis lagi.


" Hubungan harus dilandasi dengan kejujuran, kamu tidak mencintaiku, itu sudah cukup untuk mengakhiri hubungan ini".


" Larry".


" Ini Belanda, gagal menikah bukan aib disini, menikah harus membawa kebahagiaan, bukan kesedihan dan kekecewaan. Kita harus bahagia Gendis. Kamu dan aku, kita tak boleh melanjutkan pernikahan ini".


Gendis menelungkupkan wajahnya ke bantal.


" Maafkan aku Larry, maaf".


Larry mengelus kerudung Gendis yang menutupi rambutnya.


" Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu, kondisi yang memaksa kita harus mengambil keputusan ini, aku harus pamit. Sudahlah jangan berfikir apa-apa. Mulai sekarang kamu harus bahagia".


Gendis bangkit dan untuk pertama kali memeluk pria yang baik ini.

__ADS_1


" Maafkan aku Larry, aku .... maafkan".


Gendis menangis di dada Larry. Rasa bersalah benar-benar melekat di hatinya. Ia telah menyakiti hati orang baik ini.


" Kamu tahu kan aku baik ? Sebentar juga aku pasti melupakanmu", katanya sambil bergurau.


Mendengar perkataan Larry Gendis tersenyum kecil. Dalam kondisi seperti ini, orang ini masih saja bisa bergurau.


Gendis melepaskan pelukannya, Ia memandang pria tampan yang gagal.menjadi suaminya.


" Semoga kamu mendapatkan istri yang cantik dan sebaik dirimu".


" Oooo pasti, pasti aku akan segera mendapatkannya". Sambil membetulkan baju hangatnya dengan lagak sombong yang dibuat-buat.


Gendis memukul kecil dada Larry.


Larry mengusap air mata Gendis yang tersisa.


" Aku pamit , jangan lupa, kita harus bahagia".


Sekali lagi mereka saling berpelukan sebagai salam perpisahan.


Gendis tahu betul Larry pasti sedih. Tapi begitulah Larry, ia tak ingin orang lain tahu apa yang ia rasakan.


🍒🍒🍒


Dua hari setelah kejadian itu, Sean datang lagi ke rumah Gendis. Ia ingat Larry memberinya dorongan untuk memperjuangkan Gendis.


" Sean, kamu belum pulang ke Indonesia?"


" Aku akan pulang besok, tapi sebelumnya aku ingin sekali lagi memastikan bahwa kamu betul-betul tidak mau kembali padaku sehingga aku bisa pulang ke Indonesia dengan tenang".


Bukan jawaban yang didapatkan oleh Sean, justru tanpa disangka Gendis memeluk Sean dengan penuh cinta. Kalau seperti ini, kelihatanya Sean tak memerlukan jawaban, Ia membalas pelukan Gendis.


Lama mereka dalam kondisi seperti itu, sampai Gendis melepaskan pelukannya.


" Gendis, maukah kau menikah denganku.... lagi, aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku sudah jera. Aku tidak bisa jauh darimu, itu betul-betul sangat menyiksa batinku".


Gendis menutup mulut Sean dengan jari tengahnya. Dan menganggukkan kepalanya. Sean sangat bahagia melihat persetujuan Gendis. Ia segera mengabari mamanya di Jakarta.


Seminggu setelah itu, mereka menikah dengan cara sederhana di Belanda. Saat melemparkan bunga, ternyata bunga mengarah ke Larry, padahal dia sama sekali tidak ikut bergabung dalam merebut bunga.


Larry hanya tersenyum senang mendapatkan bunga itu. Dengan gurauannya ia berucap.


" Ayo sini gadis cantik yang mau sama aku, aku siap menikahimu saat ini juga". Semua tertawa mendengar gurauan Larry.


Tak menghitung berapa lama, banyak gadis berkumpul mengitari Larry. Mareka tampak bergurau seru dalam satu lingkaran.


Acara sudah usai, Gendis tampak kecapekan, ia tidur lagi dengan Sean.


Sean keluar dari kamar mandi, ia sudah bersiap-siap untuk belah duren. Saat dilihat istrinya sudah tertidur pulas dengan mengenakan baju piyama. Ia hanya bisa tersenyum kecut.


Sean menyelimuti istri tercinta dan berbaring di sampingnya. Ia memeluk Gendis dan mengecup dahinya.


" Selamat tidur sayang, mulai hari ini, aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku janji".


🍒🍒🍒🍒🍒


Terima kasih kaka, atas perhatiannya selama ini. Yang suka, yang marah sebab ending nggak sesuai dengan keinginan.


Apapun itu terima kasih, Tanpa kalian karya ini bukan apa-apa.


Semoga mampu menghibur di tengah riuhnya pandemi.


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


Sampai jumpa di karyaku yang lain


lope lope ❤❤❤❤


__ADS_2