Namaku Gendis Wilhelmina

Namaku Gendis Wilhelmina
Episode 54


__ADS_3

Hari ini Sean berangkat kerja seperti biasa, menurut mamanya satu minggu lagi Gendis akan menikah,


kalau kamu masih pingin sama Gendis kamu harus kejar dia sekarang, kalau kamu berhenti, habislah sudah. Apa yang ingin kau raih harus kau kejar, jangan mengharapkan dia yang mengejarmu, atau kau hanya berpangku tangan, dia nggak akan melihat keseriusanmu. itu nasihat mama semalam.


Membayangkan Gendis melakukan pernikahan dengan pria lain, cukup membuat hati Sean panas. Apalagi jika dia betul-betul menikah dengan orang lain, apa nanti yang akan dirasakannya ?.


" Bu Nensi maduk ke ruang saya!"


" Baik Pak", Bu Nensi yang berusia hampir setengah abad ini menemani Sean dari pertama menggantikan papanya.


Walaupun Bu Nensi sudah hampir berusua l


ma puluh tahun, tapi kerjanya sangat cekatan dan cermat, Sean tidak belum bisa menemukan sekretaris yang seteliti bu Nensi.


tok. tok. tok


" Masuk"


" Ya Pak Sean, ada yang bisa saya bantu?"


" Bu Nensi tolong pesankan saya tiket pesawat sampai ke Delft Belanda, untuk pemberangkatan besok".


" Baik Pak Sean, saya permisi".


" Silahkan, oh ya Bu Nensi, tolong semua metting minggu ini, reschedul jadi minggu depan!".


" Baik Pak Sean".


Bu Nensi keluar dari ruang Sean. Beliau segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh boss mudanya.


Dua jam kemudian, Bu Nensi sudah mengetuk pintu ruang Sean


" Permisi Pak, ini tiketnya, pemberangkatan dari Jakarta ke Amsterdam langsung tidak transit Pak".


" Baik Bu Nensi, terima kasih"


Sean melihat tiket yang ada di tangannya, transit dua jam di Amsterdam baru lanjut ke Delft.


Hari ini aku harus pulang lebih awal, supaya bisa ngepak pakaian.


Sampai di rumah.


" Ma, besok aku mau ke Belanda .


" Kamu ? besok mau ke Belanda ?, ada acara apa Sean".


" Aku harus bertemu Gendis".


" Mau apa?"


" Mama kemarin bilang kan, aku harus mengejar Gendis kalau pingin dia jadi milikku".


"Ooh itu, ya tentu saja, mama dukung, salam buat Bu Indri, semangat Nak !"


Sean tersenyum melihat mamanya tampak antusias.


Keesokan harinya Pak Bandi mengantarkan Sean ke bandara.


Selama hampir enam belas jam, Sean duduk di pesawat, akhirnya ia sampai di Delft.


Kedatangannya tanpa diketahui oleh Gendis dan keluarga. Setidaknya dia sudah berusaha, sisanya ia pasrahkan pada sang pemberi hidup.


Sean menginap di salah satu hotel, ia mendapatkan alamat rumah Gendis dari mama-nya. Mama Sean dan Bu Indri masih sering komunikasi, sehingga alamat mereka di Belanda mama pasti tahu.


Perbedaan waktu yang sangat jauh membuat Sean sampai di Delft masih dini hari, lumayan dia bisa beristirahat.

__ADS_1


Begitu menginjakkan kaki di Belanda cuaca dingin menyambutnya, dinginya sampai menusuk tulang. Padahal disini s3dang musom semi.Untung ia sudah lihat di mbah google saat ini musim di sini adalah musim semi sehingga ia membawa beberapa baju hangat.


Lampu di sekitar tempatnya menginap sangatlah indah, ia cukup melihat dari balik jendela kaca. Perasaan nyaman dan tenteram menggayuti hatinya.


Suasana di sini tampak damai, makanya orang Indonesia betah jika tinggal disini, sebab suasanya memang jauh dari kata bising.


Sean nerebahkan tubuhnya, tanpa sadar dia tertidur.


Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang saat Sean terbangun, tapi di luar masih nampak teduh. Mataharinya hangat, sana sekali tak panas. Tapi hawa tetap terasa dingin di kulit Sean.


Ia segera mandi untuk selanjutnya menuju rumah Gendis.


Pihak hotel menyarankan supaya Sean menyewa sepeda saja, sebab alamat yang dituju tidaklah jauh, hanya kurang lebih tiga kilo dari hotel dimana Sean menginap.


Seperti penduduk asli Belanda yang memang lebih menyukai bersepeda, Seanpun mengikuti saran pihak hotel.


Belanda memang terkenal penduduknya memiliki jantung tersehat di dunia, sebab semua aktifitas kebanyakan dilakukan dengan bersepeda atau jalan kaki.


Dengan bersepeda dan menggunakan google maps membuat perjalanan Sean ke rumah Gendis semakin menyenangkan.


Dia tak sendirian bersepeda, justru yang mengendarai mobil bisa dihitung jari, dibanding dengan yang bersepeda.


Ia melewati kanal, di tengah kanal ada beberapa perahu yang dinaiki oleh turis. Di pinggir kanal ada cofee shop yang berjajar dan dipenuhi oleh pengunjung.


Sesuai dengan google maps Sean membelokkan sepedanya ke arah kiri, dan lurus, cuaca yang dingin tidak membuat Sean capek dan gerah. Badanya jadi terasa sedikit hangat.


Ia sampai pada rumah berhalaman luas, ciri khas rumah Eropa, klasik tapi sudah ada tangan-tangan modern yang menyentuhnya, tapi tetap tampak berwibawa.


Sean masuk ke halaman rumah yang ditanami bunga beraneka warna, tertata dengan rapi dan indah sesuai dengan jenisnya.


Di tengah kebun ada perawat kebun sedang memangkas beberapa rumput liar. Sean mendekat, wajahnya asia banget.


" Van Indonesie ?"


" Ya pak".


" Cari ibu Indri atau Pak Herold ?"


" Saya cari Gendis Pak".


" Oooo mbak Gendis, ada mas, masuk saja", bahasa jawanya yang medok banget memperlihatkan darimana dia berasal.


" Dari Blitar ya Pak".


" Nggih mas hehehe, kok tahu ?"


" Gendis kan darisama juga, pasti bapak dibawa dari sana juga".


" Nggih mas, mari saya antar saja, biar bisa langsung ketemu".


" Ya Pak, makasih ".


Tukang kebun berjalan di depan Sean yang sedang menuntun sepeda.


" Saya tak maduk dulu Mas, namanya mas siapa?"


" Sean".


" ooooo ya ya, mas Siyon".


" Sean Pak !"


" Ya ya saya ndak bisa ngomong seperti itu mas, saya panggilkan saja, silahkan sampean duduk"


Di teras memang disediakan sofa, untuk duduk jika mereka, sedang membutuhkan sinar matahari.

__ADS_1


Tukang kebun masuk sambil bergumam. Dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Cah zaman saiki jenenge angel-angel, ra iso omomg aku". ( Anak zaman sekarang namanya sulit disebut, sampai aku nggak bisa ngomongnya)


" Bu Indri, itu di luar ada tamu".


" Siapa Pak ?"


" Ndak tahu, orang Indonesia, jenenge angel?"


Bu Indri tersenyum, beliau maklum, Pak Slamet pasti sulit menyebut nama tamunya.


" Nggih pak matur suwon".


" Eh bu lupa, itu sebetulnya yang dicari mbak Gendis og".


" Oh ya?" Timbul rasa penasaran di hati bu Indri.


Beliau segera keluar, dan terkaget-kaget saat dilihatnya Sean di teras, sedang melihat-lihat bunga.


" Sean !" Sapa bu Indri pada Sean


" Ibuk", Sean segera menjabat tangan dan mencium punggung tangan mertuanya.


" Kok nggak kasih kabar mau kesini ?"


" Mendadak bu".


" Kapan sanpai?"


" Tadi dini hari".


" Ayo masuk di luar dingin, ada apa ini kok tiba-tiba kamu ada disini?"


" Boleh saya bertemu Gendis bu ?"


" Boleh saja, ayuk sini masuk dulu, duduk Sean".


Mereka duduk di ruang tamu yang terlihat luas dan lega.


" Ibuk lagi masak, tar lagi ayah Gendis pulang buat makan siang, kamu ikut ya ?"


" Ya buk, Gendis ?"


" Oh ya, dia di belakang, akhir-akhir ini, dia suka menulis, ayok aku anter ke teras belakang".


Ibu menggandeng tangan Sean, sambil bertanya-tanya, layaknya dengan anak sendiri.


" Tuh dia sedang menulis".


Tampak dari pintu dalam Gendis sedang menulis sesuatu di laptopnya, dengan kacamata dan hanya menggunakan pasmina yang dikerudungkan saja, Gendis terlihat sangat cantik.


Gendis tak menyadari kehadiran mereka, dia sangat serius dengan kegiatanya.


" Nduk, ada tamu ".


Gendis baru sadar ada orang disampingnya, ia mendongakkan wajahnya dan terkejut, dengan orang yang berdiri disampingnya.


🍒🍒🍒🍒


Besok lagi ya kaaa


Jangan lupa tinggalin jejak


Saranghaeyo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2