
Di saat yang sama, Sean juga memasuki apartemennya, dua hari dua malam ia harus menunggu Alexa, mau pergi ada rasa tak enak pada papa dan mama Alexa.
Sementara, keesokan hari kemudian Alexa tersadar.
Alexa tak mau ditinggalkan oleh Sean barang sedetikpun. Ia terus-terusan memegang tangan Sean.
Makanpun, jika bukan Sean yang menyuapi, ia tak mau makan. Jadilah Sean menunggu Alexa di rumah sakit sampai pulang ke rumah, keesokan harinya.
Sebetulnya Sean ingin menghubungi istrinya di rumah, tapi ponselnya juga dalam kondisi kehabisan daya.
Ia membuka pintu, gelap, kesunyian menyergapnya dengan serta merta. Ia menghidupkan lampu, hatinya sudah merasa tidak enak. Gendis tak ada di apartement.
Ia duduk di sofa ruang tamunya, pandanganya kosong ke satu titik.
Sean menangis, semakin lama guncangan pundaknya semakin keras. Ia menangis sesenggukan. Hatinya hampa, benar-benar hampa.
Ia tak menyalahkan Gendis. Ia sangat sadar dan memaklumi jika Gendis meninggalkannya.
" Kita akan berpisah, untuk selama-lamanya", kata Gendis dua hari yang lalu, dan dia tidak mengancam, dia betul-betul membuktikan ucapanya.
" Gendiiiiiiis, maafkan aku, maaf..... aku memang tidak layak untuk dipertahankan, aku memang lelaki tanpa bisa mengambil keputusan, maafkan aku Ndiiiis, aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu, aku tak bisa kehilanganmu, maafkan aku Ndiiis".
Sean menangis sesenggukan, ia tak bisa apa-apa lagi, ia tak bisa meraih Gendis lagi.
************
Lima bulan telah berlalu, Sean kembali dengan kesibukannya, begitu juga dengan Gendis
Ada teman Gendis satu kantor yang menyarankannya supaya memakai pengacara jika ingin berpisah dengan suaminya. Ia memiliki nomor telepon pengacara canggih tersebut.
"Saya tidak menyarankan Mbak Gendis untuk berpisah, tapi jika Mbak Gendis sudah yakin dengan keputusannya berpisah dengan suami, saya ada nomor teleponnya".
" Ya, terima kasih Mba Mawar".
Mereka semua sekarang sudah semakin akrab, kerja sungguh-sungguh Gendis mendapat apresiasi dari semua pihak, baik atasan maupun teman sejawatnya.
Ia tak segan menyelesaikan sendiri pekerjaanya jika belum selesai.
Semua sudah paham dengan kebiasaan Gendis.
Semua karyawan sudah keluar, saat Tio mengetuk pintu.
" Silahkan masuk Pak Tio".
Tio memasuki ruangan,
" Masih ada kerjaan ?"
" Tinggal sedikit lagi Pak ".
" Oke aku tungguin".
" Nggak usah Pak".
" Aku mau ajak kamu makan malam, di cafe yang ada di mall saja".
Gendis memandang boss-nya itu.
" Apa tidak apa-apa ?"
" Memang kenapa ?"
" Kita punya pasangan masing-masing Pak".
" Tapi kita sama-sama berpisah tidak sedang bersama kan ?, sudahlah Ndis, kita kan hanya makan saja, tidak macam-macam, mau ya?"
" Baiklah"
" Ya sudah bereskan, itu bisa dikerjakan besok lagi".
" Tapi ini tinggal sedikit Pak".
" Baiklah, aku tunggu, seberapa lama".
__ADS_1
Gendis menyelesaiakan pekerjaanya tiga puluh menit kemudian, dia juga tidak enak ditungguin oleh atasanya.
" Mari Pak"
Betul saja sampai di cafe mereka hanya ngobrol masalah pekerjaan. Pak Tio juga memperlakukannya dengan sopan tidak macam-macam. Hanya, saat sauce tomat dari ayam gorengnya yang menempel di sudut bibirnya, sempat dibersihkan oleh Tio.
Sebetulnya Gendis kaget, selebihnya ia hanya bisa menunduk, dengan muka merah karena malu.
" Maaf bukan maksudku, tapi aku risih ada wanita cantik tapi belepotan".
Gendis tersenyum,
" Ya terima kasih Pak".
Sejurus kemudian mereka berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing, dan seperti biasa, Tio selalu mengawal sampai Gendis masuk ke dalam rumah.
**********
" Bagaimana Mbak Gendis sudah diputuskan ?"
" Yang kemarin ?"
" Ya"
" Ya Mbak aku sudah putuskan".
" Semoga itu keputusan terbaik".
" Insha allah".
Saat istirahat, Gendis janji bertemu dengan pengacara tersebut. Setelah disepakati harga dan selesai sampai berapa lama mereka saling bersalaman.
Masih ada waktu sedikit lagi sebetulnya untuk mengisi perut, tapi Gendis tak bisa makan, dia memilih untuk mengisi sisa waktu istirahatnya untuk sholat dan berdoa
Tangisnya tumpah di atas sajadah, berat rasanya dia memilih berpisah dari Sean. Tapi jalan itu harus ia pilih, jika ia tak ingin terus menerus menderita memikirkan Sean yang tak mau meninggalkan Alexa.
Setelah selesai menumpahkan tangisnya di sajadah, ia menuju ke kamar mandi kantor dan membasuh mukanya, supaya tak jelas terlihat jika dia habis menangis.
" Mbak Mawar, kenapa Gendis?"
" Nggak tahu, mungkin ada masalah" Jawab Mba Mawar. Tapi ia langsung masuk ke ruangan Gendis.
" Mbak Gendis nggak pa pa ?"
" Entahlah mbak, perasaanku nggak karuan, aku menyayangi keluarga suamiku, aku juga mencibtai suamiku, tapi....".
" Sudahlah... keputusan sudah diambil, Mbak Gendis harus mengikhlaskan".
" Ya Mba", jawab Gendis sambil menahan suara tangisnya keluar.
" Butuh teman buat ngobrol".
Gendis masih terisak saat ia menjawab,
" Nggak pa pa mbak, hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya".
" Baiklah, aku tinggal, ikhlaskan, jangan lupa bahagia".
Gendis menganggukkakan kepalanya.
Mbak Mawar kembali ke mejanya,
" Mbak Gendis kenapa Mbak?"
" Ada masalah keluarga".
" Kelihatanya berat?"
" Ya begitulah".
" Apa perlu malam ini kita temani ?"
" Nggak usah, yang dia butuhkan saat ini adalah sendiri"
__ADS_1
" Ya siapa tahu ditemani kita mekewati malam ini nggak begitu berat, sampai jam sepulub malam pasti Mbak Gendis dah ngantuk tuh".
" Ya bener mbak Mawar", timpal mbak Ningrum.
" Baiklah, kita nanti bareng-bareng pulang ke kontrakan Mbak Gendis".
Jam pulang telah tiba, Mbak Mawar bilang sama Gendis tenan-teman pingin main ke kontrakan.
Dengan senang hati Gendis menerima teman-temannya di kontrakanya.
Saat di bawah Gendis membeli banyak bread dan minuman serta buah-buahan, untuk makanan berat dia nanti bisa pesan lewat go food saja.
Semua teman membantu membawakan makanan yang dibeli oleh Gendis.
" Kita jadinya ngrepotin ya Mbak Gendis ?" kata Sisca.
" Nggak, nggak pa pa kok, aku seneng ada banyak teman".
Mereka pulang ke rumah kontrakan Gendis sambil ngobrol, sehingga tak terasa mereka sudah sampai di depan kontrakan Gendis.
" Wow asri banget kontrakanya mbak, di tengah kota Jakarta ada rumab seadem ini".
" Rezekiku nemu rumah sebagus ini".
Saat mereka masuk, tampak rumah yang ditempati oleh Gendis tertata dengan rapi, ada dua kamar.
" Mbak Gendis, ini ada dua kamar ? tanya Mawar.
" Ia mbak, kamarnya dua".
" Kenapa nggak cari teman kontrakan lumayan bisa dibagi dua"
" Ya ya mbak, kok aku ngga kepikiran".
" Aku mau Mbak Gendis", serobot Sisca yang rumahnya memang agak jauh dari kantor, jadi dia berangkat dari rumah ke kantor harus pagi-pagi sekali.
" Ok kamu bisa temani aku mulai besok, nggak usah bayar, yang penting ada temanya aku senang".
" Asiiiik", jawab Sisca.
Sisca adalah staf Gendis satu-satunya yang masih gadis, sementara yang lain sudah menikah.
Mereka ngobrol sebetulnya dengan tujuan untuk menghibur Gendis sampai pukul sembilan malam.
Setelahnya baru mereka berpamitan pulang.
Sisca berjanji akan pindah ke rumah kontrakan Gendis mulai besok.
Dengan senang hati Gendis mempersilahkan.
Tio melihat rumah kontrakan Gendis yang ramai, ia menunggu sebentar dan melanjutkan saat ia lihat salah satu pegawainya keluar untuk merokok.
😊😊😊😊
Cukup untuk hari ini
besok lagi
Jangan lupa
like 👍👍👍👍👍
koment 💬💬💬💬💬
vote 🤳🤳🤳🤳🤳
n
rate 🌟🌟🌟🌟🌟
makasih yang udah tinggalin jejak
Saranghaeyo 😘😘😘😘😘
__ADS_1