
Sean membalikkan badan, dia tahu betul suara siapa yang memanggilnya.
Mata Gendis terlihat sedih, ia melihat Sean tampak kurus, tidak seperti dulu.
Sean menghampiri Gendis, sementara mami Tio terpaku melihat mereka berdua.
" Sean ? Gemdis ? kalian ?" Tanya mami Tio dengan bingung.
" Kami suami istri tante".
" Ooooo di pernikahan kalian aku datang, tapi aku pangling sama Gendis".
" Ayo sini masuk, kita ngobrol dulu".
" Nggak tante, aku mau jemput Gendis, jika urusan disini sudah selesai".
Mami Tio melihat dengan jelas, pasangan ini nampak canggung.
Jadi mereka punya masalah ? makanya Tio semangat mendekati Gendis.
" Oh ya ya silahkan, Pak Satpam ini Chiko dibawa ke dalam, awas jangan meleng lagi".
" Siap bu, maaf" berkata seperti itu sambil membukukkan badan tanda hormat.
" Mama, mama nggak mau mama, iko mama iko mo mama", Tangan Chiko terulur ke arah Gendis, melihat itu Gendis menjadi terharu.
" Mas, aku menenangkan Chiko dulu".
" Oh ya ya silahkan".
Mami Tio melihat mereka lagi
pasangan kok kaku gini
" Ayo Sean masuk, tante temenin ".
" Baik Tante".
" Kalian sudah menikah berapa lama sampai hari ini?"
" Satu setengah tahun".
"belum punya momongan ?"
" Belum dikasih tante".
" Ya sabar aja, mungkin memang belum waktunya".
" Yuk masuk"
" Makasih tante".
" Waktu kalian nikah tante datang, bareng Tio juga, kok bisa nggak ingat Gendis ya?"
" Mungkin karena dulu, dirias tante jadi tante lupa".
" Iya ya, sudah tua juga, jadi maklumi umur ya ", mereka tertawa bersama.
" Kata Tio Gemdis kerjanya cekatan lo, bagus kok nggak diajak kamu aja?"
" Dia nggak mau tante, katanya mau mandiri".
" Ooooh gitu ".
" Chiko sudah tidur tante, mungkin dia kecapekan".
" Ooh ya, makasih Ndis, maaf lo ngerepoti kamu gini".
Gendis hanya tersenyum.
" Saya pamit tante".
" Ya, hati-hati di jalan".
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil Sean. Hari sudah mulai petang, Sean membawa mobil ke arah luar kota.
Sekama perjalanan tak ada kata yang terucap, baik Gendiz maupun Sean tidak berusaha untuk memulai pembicaraan.
Karena sudah tak tahan, akhirnya Gendis yang memulai pembicaraan.
" Sejak kapan Mas Sean tahu aku di Jakarta".
Sean menarik nafas dalam, ada rasa kecewa, marah sekaligus rindu yang ia rasakan pada Gendis. Kenapa satu kota bisa tak jumpa satu berbulan-bulan.
" Karena inikah kamu menggugat cerai aku ?"Sean tidak menjawab pertanyaan Gendis, justru ia bertanya balik.
" Apa?"Jawab Gendis.
" Tio ?"
" Maksud mas?"
" Selama kamu pergi, aku terus menghindari Alexa, aku berusaha dengan sekuat tenaga mencari alasan supaya Alexa tidak nendekat padaku, tapi kamu justru....".
Rasa cemburu sudah menguasai fikiran Sean, sehingga apa yang keluar dari mulutnya sudah di luar kontrolnya.
Menyadari maksud Sean, ada rasa terhina di hati Gendis, semakin kuat di hatinya untuk berpisah dengan Sean. Sean tak tabu diri, dia yang selingkuh tapi dia berkata sebaliknya.
" Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, tanda tangani itu, setelahnya selesai".
" Jadi apa yang aku fikirkan benar ?"
" Terserah kamu berfikiran seperti apa, otakmu sudah dipenuhi rasa tak percaya aku bilang jujurpun bagimu itu hanya kebohongan".
" Maka jujurlah padaku, katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi sehingga kamu ingin berpisah dariku"
" Yang terjadi adalah kamu tidak berhenti menyakitiku dengan terus berhubungan dengan Alexa, aku capek aku ingin hidup dengan tenang".
" Jangan mengalihkan masalah, kamulah sekarang yang berpaling dariku. Kamu sudah mulai dekat dengan Tio sampai anaknyapun memanggilmu mama".
" Aku tidak ada hubungan dengan Tio ! hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan".
" Panggilanmu sudah akrab ya ? Memanggil atasan tanpa embel- embel pak".
Wajah Sean masih datar, ia tanpa ekspresi, sepertinya kecemburuan sudah menutup matanya. Sementara Gendis mencengkeram jok mobil dengan kencang, matanya terpejam, ia sangat ketakutan.
Air saling berlomba meluncur ke pipi Gendis karena takut. Ia begitu benci dengan pria di sebelahnya, jika bisa ia ingin meloncat keluar.
Ya Allah lindungilah kami, ya Allah. Gendis terus menerus berdoa dalam hati. Jika Sean begini terus sudah dipastikan Gendis akan semakin sulit ia raih.
Gendis masih memejamkan mata ketakutan saat tiba-tiba mobil Sean tak terkendali, mobil masuk ke dalam jurang sedalam lima meter.
Sebetulnya luka mereka tidak akan berat jika mobil tidak dibawa Sean dengan kencang, tapi berhubung Sean membawa mobil dengan kencang sehingga luka yang dialami oleh Gendis cukup parah. Sean tak separah Gendis.
Mereka sama-sama pingsan,
Beberapa warga yang melihat kejadian segera menolong mereka berdua.
Mereka dibawa oleh mobil ambulance ke Rumah Sakit terdekat.
Beberapa warga mencari identitas mereka dan ketemu. Mereka masih berstatus suami dan istri dan beralamat sama.
" Coba itu dihubungi keluarganya mungkin ada yang bis dihubungi".
Salah satu warga mencari nomor telepon, ia menemukan nama papa dan segera menghubungi.
" Ada apa Sean", jawab papa di ujung telepon.
" Mohon maaf betul ini orang tuanya Pak Sean".
Papa Sean mulai merasa tidak enak hati.
" Ya berul bagaimana Pak".
" Ini anak bapak dan istrinya kecelakaan", pria tersebut menyebutkan alamat dimana trmpat kejadian.
Papa langsung terduduk lemas, beliau tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
" Ada apa Pa, Pa ?!" sambil menggoyangkan lengan papa yang tampak lemas.
" Sean dan Gendis Ma ..."
" Kenapa mereka ?:
" Mereka kecelakaan".
"Inalillahi wainaillahi rojiun, ato oa kita segera menyusyl kesana, Pak Bandiiiii Paaak".
" Nggih bu".
" Antar kami, Sean dan Gendis kecelakaan!"
" Oooh nggih bu",Pak Bandi segera menyiapkan mobil.
Airin mendekat mendengar ramai-ramai
" Ada apa Ma ?"
" Kakakmu kecelakaan".
" Inalillahi.... ,aku ikut Ma"
" Nggak usah, kamu ngurusi anakmu saja, ayo pa".
" Ma, kabari ya jika ada apa-apa".
" Ya, nanti mama kabari".
Pak Bandi melajukan mobil dengan pelan
" Agak cepat Pak, jangan terlalu pelan".
" Baik Pak"
Pak Bandi mulai memacukan mobilnya.
Sampai di rumah sakit, Sean sudah sadar walau luka disana sini tapi ia berusaha menunggu Gendis di ruang operasi.
" Sean! syukurlah Nak kamu ndak pa pa", ucap mamanya sambil mencium dan memeluk anaknya. Sementara papa mencari keberadaan Gendis
" Gendis dirawat dimana ?"Tanya papa
" Gendis di operasi Pa"
" Apa yang terjadi ?"
" Saya nggak bisa cerita sekarang Pa, ini semua salahku, ini salahku, aku terus menerus menyakiti Gendis, bodoh bodoh" sambil.memukul kepalanya sendiri beberapa kali.
Mama segera memeluk Sean,
" Kita berdoa semoga operasinya lancar, dan Gendis baik-baik saja".
Sean sesenggukan di pelukan mama-nya, ia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi.
" Padahal sudah beberapa kali Gendis mengingatkan, tapi aku tak mau dengar" ceracau Sean.
" Iya sayang, ya, kita berdoa untuk kesehatan Gendis ".
" Jika terjadi sesuatu pada Gendis aku yak akan memaafkan diriku sendiri, aku bodoh bodoh".
Mama mengelus-elus bahu Sean, ia ikut menangis melihat kenyataan ini.
Gendis adalah anak asuh yang ia cintai dan anggap seperti anak sendiri, sedangkan Sean adalah anak yang sangat ia cintai.
πππππΆπΆ
Besok lagi ya kaaa
Doakan swmoga Gendis baik-baik saja
Jangan lupa like, koment n votenya
__ADS_1
Saranghaeyo ππππ