
Keesokan harinya, Gendis sudah mulai kerja di mall tersebut, dia langsung mendapat ruang sendiri. Ruangan yang tampak feminim disebelah ruang Pak Bramantyo.
" Selamat datang untuk ibu Gendis sebagai manager akuntan di mall ini, semoga kita semua mendapat angin segar dengan kedatangan Bu gendis, dan mall akan semakin maju dan sukses".
" Terima kasih Pak Bram, terima kasih semua !" Pak Bramantyo memeperkenalkan staf yang nantinya membantu Gendis saru persatu, disitu tampak ada empat orang.
" Mohon dukunganya Bapak Ibu, kita harus kerja kompak". Ujar Gendis.
" Pasti Bu Gendis" jawab mereka.
" Baiklah ibu Gendis, mari saya tunjukkan ruang Bu Gendis."
" Ya Pak Bram".
" Ini dia, mohon maaf ini adalah kerjaan yang harusnya diperiksa oleh akuntan yang lalu, tapi karena beliau risign akhirnya terbekalai, bisa Bu Gendis lanjutkan ?"
" Bisa Pak".
" Silahkan, saya permisi selamat bekerja"
" Terima kasih Pak".
Gendis mulai membuka satu persatu berkas, ada kurang lebih tiga puluhan berkas yang harus ia periksa.
Ternyata sangat rumit, dan tak bisa ia selesaikan satu berkas satu jam, ia harus beberapa kali mencoret bebrapa berkas dan harus diperbaiki.
Saat jam makan siang tiba, ia tak pedulikan. Ia tetap memeriksa berkas-berkas, sampai teman-temannya kembali dari makan siang mereka.
Dalah satu staf mengetuk pintu
" Masuk ".
" Maaf bu Gendis. ibu belum istirahat".
" Jam berapa ini mba?"
" Hampir jam satu".
"Masyaallah... saya belum sholat, tempat sholat dimana mba?"
" Ruang itu bu, di dalam ada kamar mandinya, ibu bisa wudhu disitu".
" Terima kasih Mbak", Gendis segera berjalan menuju mushola yang ditunjuk sambil membawa mukena kecilnya yang selalu ia letakkan di tasnya.
" Akuntan baru luar biasa, bisa gitu yak, nggak inget makan".
" Emang kita, perut dulu yang diingat" canda yang lain.
Mereka tertawa tertahan.
" Hiiis kira-kira sudah punya suami belum ya?"
" Kayaknya belum, masih muda gitu, energik "
" Cantik banget kayak bidadari".
" Mas Toni, nggak boleh genit, dah punya istri".
" Nggak cuma mengagumi ciptaan illahi yang nemplok di atasan kita sudah cantik, pinter, ibadahnya luar biasa".
" Iya bener, hush diam beliau dah selesai".
Saat Gendis lewat, ia menganggukkan kepala kepada para staf-nya
" Ibu nggak.makan dulu ?" Sapa salah satu staf pada Gendis.
" Saya bawa roti, bisa makan sambil kerja, banyak yang harus diperiksa, makasih", jawab Gendis sambil tersenyum ramah kepada para staf-nya.
" Aje gile, kita dapat atasan perfect niiiih hati-hati jika nanti...." belum selesai Toni bicara dari dalam ruang, Gendis keluar,
__ADS_1
" Mohon maaf, ini sudah saya periksa fan perbaikan sudah saya tulis disampingnya, minta tolong untuk diperbaiki".
Ada delapan berkas yang sudah dibawa oleh Gendis.
Staf-nya melongo, bagaimana mungkin dalam waktu setengah hari gadis cantik ini bisa memerijsa delapan berkas.
" Delapan bu ?" Tanya mba Mawar bingung
" Ya mba, tinggal diperbaiki yang salah-salah saja, angka-angkanya sudah saya ganti, tinggal nyontoh sebelahnya yang saya tulis pakai pena. baik saya masuk.lagi melanjutkan yang belum saya periksa", bicara seperti itu Gendis sambil menunjuk ruangannya dan tersenyum ramah.
" Ya bu silahkan ".
" Luar biasaaaaa, biasanya cuma dicorat coret saja, ini sudah ada perbaikannya, coba dibagi ini kemarin kerjaan siapa ?"
Mba Mawar membagi berkas yang diserahkan oleh Gendis tadi.
Gendis masih di ruang saat teman- temannya akan pulang. Mereka nggak enak melihat Gendis masih di dalam ruangan.
Gendis keluar,
" Mau pulang ?"
" Ya bu", jawab mereka serempak.
" Ndak pa pa silahkan, saya hanya tinggal menyelesaikan beberapa lagi nanti menyusul pulang"
" Oooo ya terimakasih bu, kami pamit dulu".
" Silahkan".
Gendis melihat ke arah jarum jam tanganya, ya makanya resah ini lewat dari jam pulang.
Gendis melanjutkan pekerjaanya lagi.
Dia masih tekun, saat ada seseorang yang mengetuk pintu.
Psk Bramantyo masuk ke ruanganya.
" Kamu belum pulang Ndis ?"
Gendis segera berdiri, dia juga agak kaget, bagaimana Pak Bramantyo bisa sesantai itu bicara pada bawahanya saat tak ada orang.
" Saya belum selesai Pak".
" Santai saja Ndis nggak usah kaku, umur kita cuma beda enam tahun".
" Saya nggak bisa Pak".
" Biasakan, siapa tahu kita bisa jadi teman. Itu nggak harus selesai sekarang, besok dilanjut lagi boleh, ini sudah hampir isya'"
" Baik Pak".
Gensis membereskan berkas-berkas dan bweniat membawa beberapa untuk dibawa pulang.
Ada kekaguman di mata Bramantyo
Benar-benar wanita tangguh, bisa semandiri ini.
Sebetulnya Gendis rikuh dipandangi bossnya seperti itu, sambil.menyilangkan tangan dan bersandar di pintu. Tapi apa boleh buat.
" Ayok jalan bareng", ajak Pak Bramantyo.
Mereka berjalan bersama sambil berbincang.
" Jadi Pak Bramantyo sudah tahu saya menantunya Pak Adinata".
" Ya, waktu pernikahan kalian aku datang".
" Oh ya ?" Gendis merasa surprise
__ADS_1
" Ya, kalian baik-baik saja kan?"
" Maksud bapak".
" Aaah tidak lupakan, mau ikut aku ?"
" Tidak Pak, saya kontrak di dekat sini".
" Loh, bukannya kamu serumah dengan Pak Adi ?"
" Nggak Pak!" jawab Gendis sambil menunduk.
" Oooh maaf, Ndis aku mau ke basement ambil mobil, kamu ?"
Saya lewat keramaian mall aja Pak sambil jalan-jalan, senyum Gendis.
" Aku temani ?"
" Nggak usah Pak terima kasih".
" Oke, aku ambil mobil ya".
" Silahkan Pak".
Tidak Pak Bramantyo tidak mengambil mobil, dia masih nemperhatikan Gendis yang tampak memandang lantai bawah sambil berpegangangan pada pagar kaca.
Perempuan ini sangat luar biasa, rasanya Bramantyo tidak ingin pergi meninggalkan pemandangan yang sangat indah ini.
Apalagi saat ia lihat Gendis menengok ke atas, dan ada bias lampu mengelilingi wajahnya, itu sangat luar biasa, cantik dan soleha.
Bramantyo menggeleng-gelengkan kepalannya.
Ia segera pergi untuk mengambil mobilnya di basement.
Gendis melangkah pelan di pinggir jalan sendirian. Di hatinya tampak kosong jika tak diisi dengan kesibukan, makanya ia tadi memasukkan berkas ke dalam tas-nya, supaya ia tak memikirkan suaminya.
Jalanan masih sangat sibuk dan ramai.
Saat keluar dari bassement Bramantyo melihat Gendis sedang berjalan sendirian. Ia mengikuti dari belakang, ia takut terjadi apa-apa pada pegawainya ini.
Bram terus mengikutinya dengan membawa mobilnya pelan, sampai di sebuah rumah kontrakan yang tampak asri dengan banyak tanaman di depannya. Bram menghentikan mobilnya, ia diam disana sampai Gendis masuk ke dalam rumah dan menghidupkan lampu. Baru Bramantyo pergi.
Kenapa aku seperhatian ini pada Gendis, bukankah dia hanya pegawaiku ?, bukankah dia istri temanku?, istri tenanku? Lalu kenapa dia ngontrak sendirian jika dia punya suami.
Bramantyo menarik nafas dalam.
Ini bukan urusanku, kenapa aku mau tahu ? Ia melajukan lagi mobilnya menuju ke rumah. Ia madih tinggal dengan papi dan maminya. Rumah yang ia beli saat akan menikah dengan istrinya sekarang hanya ditinggali oleh orang-orang yang diupahnya.
Ada berbagai kenangan buruk saat ia tinggal di rumah tersebut.
😉😉😉😉😉😉
Nanti satu episode lagi ya kaaaa
jangan lupa
like. 👍👍👍👍
koment 💬💬💬💬
vote 🤳🤳🤳🤳🤳
n
Rate 🌟🌟🌟🌟🌟
Yang udah, makasih banyaaaak
Saranghaeyo 😘😘😘😘😘
__ADS_1