
Semua hadirin bertepuk tangan dengan gembira. Beberapa dari mereka terutama yang wanita membelalakan mata dan terkejut. Mereka tidak menyangka ada moment romantis, di saat seperti ini.
" Terima terima terima terima!!" Teriak teman-teman Gendis.
Gendis memandang bingung Larry, sebab ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan, semengejutkan ini.
Ia tidak segera menjawab tapi menyeret Larry masuk ke dalam rumah.
" Maaf, saya harus bicara dulu dengan Larry", katanya. Hadirin tertegun, apa iya, Gendis mau menolak pria idaman seperti Larry ?, berbagai benak bertanya-tanya.
Mereka menhentikan tepuk tanganya setelah tahu Gendis menyeret tubuh Larry.
" Larry, kamu serius dengan apa yang barusan kamu sampaikan ?"
" Aku serius Gendis".
" Tapi kamu nggak tahu siapa aku yang sebenarnya".
" Aku memang nggak tahu, yang penting saat ini dan sekarang, aku tak peduli masa lalumu".
" Tapi selama ini kamu hanya menganggap aku teman".
" Siapa bilang ?, dari awal kita bertemu kamu memiliki tempat spesial di hatiku".
" Tapi perlakuanmu padaku biasa saja seperti teman".
" Lalu menurutmu aku harus bagaimana ? jika dari awal kamu sudah bilang akan memikirkan kuliah dulu baru mikirin yang lain. Aku mwnghormati keputusanmu dengan menunggumu sampai kamu selesai menimba ilmu, fer kan ?"
" Tapi ini...."
" Terlalu mendadak ?"
" Aku sudah memikirkan dari kamu bilang padaku ingin menyelesaikan S 2 dulu, aku memang nggak romatis, aku nggak bisa, tapi percayalah aku benar-benar jatuh cinta padamu. I Love You".
" Larryyyy aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan, aku... aku janda". Sambil berbicara seperti itu Gendis menundukkan wajah. Bukan malu, tapi ia menyesal kenapa tidak bicara dari dulu pada Larry sehingga semuannya terbuka sebwlum waktunya.
" Kamu fikir aku peduli itu, aku memang belum pernah menikah, tapi salahnya dimana, jika aku mencintai wanita yang pernah menikah ?"
Gendis kaget dengan jawaban Larry, dia fikir Larry akan mundur setelah tahu statusnya. Dia lupa sedang berada dimana saat ini, orang barat tidak begitu mempedulikan hal-hal yang melankolis seperti ini.
" Tapi orang tuamu ?" jiwa timurnya masih memunculkan rasa tak percaya diri.
Larry mengambil tangan Gendis dan menggenggamnya.
" Mereka tak akan peduli statusmu, jangan rendah diri seperti ini".
__ADS_1
Gendis mulai goyah, di relung hatinya yang paling dalam, masih ada Sean disana, tapi, dia harus terus maju supaya hidupnya berjalan terus ke depan, tidak mundur ke belakang.
"Bagaimana ?"
" Apa?", tanya Gendis bingung
" Lamaranku ?"
" Kamu yakin ini tak bermasalah ?"
" Tentu saja tidak".
" Baiklah, aku menerima lamaranmu ".
" Yes... !!" teriak Larry " Aku pakaiakan cincinya ?"
Gendis menganggukkan kepala
Larry memakaikan cincinya dengan mata Gendis berkaca-kaca.
Saatnya aku mulai melupakan mas Sean, aku tak mau terbelenggu masa lalu. Semoga benar Larry adalah jodohku Aku tak mau sakit lagi.
" Ayo kita keluar, dan mengumumkannya, kita beri surprise mereka".
Mereka berjalan sendiri-sendiri dengan langkah lesu menuju para tamu. Semua tamu melihat mereka dengan pandangan bwrtanya-tanya. Bahkan ada yang terlanjur sedih. Sebab mengira Gendis menolak Larry.
" Maaf, minta perhatiannya sebentar", kata Larry dengan suara sedih, sambil mempersilahkan Gendis berdiri di sampingnya.
Para tamu sudah banyak yang mengira bahwa lamaran Larry sudah ditolak oleh Gendis.
Tapi kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Larry, membuat mereka berubah ikut bahagia.
" Kami segwra menikah !!", sambil menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manis Gendis.
Semua tamu bertepuk tangan, mereka turut bahagia dengan peristiwa ini.
Teman-teman mereka segera berkerubut untuk memberikan ucapan selamat.
" Selamat Gendiiiis, Larry!!"
Mereka berdua tersenyum, melihat tingkah temannya yang saling meledek.
🍒🍒🍒
Satu bulan setelah Gendis diwisuda, Larry bermaksud untuk melamar Gendis secara resmi dengan mendatangkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Acara lamaran sederhana dengan konsep batik, hanya dari kedua belah pihak saja yang hadir, acara dilaksanakan secara intimed, tampak rona kebahagiaan di wajah mereka.
Gendis memang belum merasakan cinta pada Larry, tapi setiap berada dekat dengan Larry ia tidak pernah diberi kesempatan Larry untuk bersedih. Larry tidak bisa melucu, tapi dia selalu bisa membuat suasana menjadi ceria. Sehingga berada di dekat Larry membuat Gendis menjadi nyaman.
Dia yakin cepat atau lambat, ia akan bisa mencintai Larry.
Acara lamaran telah usai, keluarga Larry juga sudah dari tadi meninggalkan rumah Gendis. Seharusnya hati Gendis bahagia, tapi justru sebaliknya, ada ruang kosong yang mengisi relung hatinya.
Dia sudah dilamar oleh pria idaman setiap wanita, kurang apa lagi. Aku nggak boleh terus menerus mengenang masa lalu, biarlah hatiku merasakan bahagia mulai saat ini.
Tapi bohong, walaupun suara hatinya berkata seperti itu, hati kecilnya tetap masih memikirkan Sean.
Dan hal ini betul-betul menyiksanya. kapan ia akan melupakan Sean. Ia tak mau menyakiti Larry dan keluarganya yang sangat baik. Aku akan berusaha melupakan kamu Mas Sean. selamat tinggal.
Tapi sebelumnya Bu Indri ingin berziarah ke makam leluhur di kota asal. Untuk pulang ke Indonesia sendiri itu tak mungkin, sehingga keluarga kecil ini berencana pergi ke Indonesia bersama-sama.
Mereka harus ke Jakarta dulu, sebab penerbangan yang langsung ke Surabaya tidak ada. Sehingga rencana mereka berhenti di Jakarta menginap disana dua hari baru pulang lagi ke Blitar naik kereta api, lebih simpel, nggak perlu ke Surabaya.
Jam dua belas malam mereka sampai di Jakarta, dan sudah dijemput oleh mobil hotel. Mereka menginap di salah satu hotel di Jakarta yang terkenal paling bagus pelayananya.
Ayah Gemdis menyewa dua kamar, untuk ia dan istrinya dan untuk Gendis.
Keesokan harinya, mereka baru menyadari bahwa ada acara di hotel tersebut, yang akan dihadiri oleh pengusaha-pengusaha muda di seluruh Indonesia.
Mereka tahu dari spanduk ucapan selamat datang yang teroasang di luar hotel, sebelumnya mereka kurang memperhatikan.
Dan doa Gendis hanya satu, jangan sampai bertemu dengan kedua orang yang pernah hadir di masa lalunya. Sean dan Tio.
Hari ini, karena masih capek mereka berencana nanti sore untuk jalan-jalan, sekarang cukuplah di hotel saja, walaupun di dalam hotel mereka bisa cuci mata, kebetulan disana ada event UMKM yang menawarkan barang daganganya untuk menarik para pengusaha supaya investasi pada barang yang mereka buat.
Mereka berjalan-jalan seputar stand sampai orang tua dan anak terpisah. Gendis menyukai motif batik dari dayak. Dia masih memilih-milih, saat ayahnya tertarik dengan stand yang lain.
Sehingga mereka terpisah tanpa saling menyadari. Akan tetapi karena masih di ruang aula hotel tentu saja itu bukan menjadi masalah.
Gendis masih asik dengan kain batik di tangannya, saat suara panggilan terdengar olehnya.
" Gendis !"
😊😊😊😊😊
Besok lagi 😁😁😁
Jangan lupa tinggalin jejak ya kaaaa
like, koment, vote
__ADS_1
Saranghaeyo 😘😘😘