
Sean membawa mobilnya menuju ke swalayan miliknya. Ia sudah berjanji pada Gendis untyk mengajaknya belanja keperluan sehari-hari.
Mereka masuk ke dalam kantor terlebih dulu, Sean memperkenalkan istrinya pada semua staf kantor.
" Hari ini Pak Joko tolong semua di handle".
" Baik Pak Sean"
" Baik, terima kasih, kami akan ke swalayan".
" Ya pak, jawab mereka serempak sambil berdiri:.
Sedang Gendis menganggukkan kepala sebagai tanda pamit.
Sampai di swalayan mereka mulai memilih-milih bahan yang dibutuhkan, Sean menyerahkan salah satu kartu ATM-nya pada Gendis.
" Ini untuk kepentingan sehari-hari, yang ini bila kamu menginginkan belanja pakaian atau apa whatever".
Gendis menerima dua kartu ATM pemberian suaminya.
" Nggak Mas Sean aja yang pegang ?"
" Nggak, kamu aja".
Belanjaan mereka sudah selesai, Gendis banyak sekali belanjaannya hari ini, lebih tepatnya bukan Gendis tapi Sean, tadi dia yang memasukkan bahan belanjaan macam-macam ke troly.
Ingat itu Gendis tersenyum,
" Kenapa?" ternyata Sean melihat senyum Gendis.
Senyum dan mata bahagia Gendis memperlihatkan ketulusan sangat indah, sekilas tapi cukup membuat ada desiran aneh di dada Sean.
" Nggak pa pa'.
Mereka sedang membayar belanjaan saat tiba-tiba Sean meninggalkan Gendis tanpa ba bi bu.
Gendis kebingungan, ia mengikuti dengan pandangan kemana arah Sean pergi.
Dia sudah tak mempedulikan lagi para pegawai kasak-kusuk di belakangnya, ia berusaha mencari keberadaan Sean dengan menyeret troly besarnya.
Ia melihat Sean ada di tempat parkir, agak jauh, tapi ia tidak sendiri. Sean memeluk wanita itu, yang kelihatanya sedang menangis.
Gendis memandang dari jauh, tatapanya nanar, tiba-tiba ada ruang kosong di dalam hatinya. Sampai ia lihat Sean membaea maduk wanita tadi ke dalam mobil disamping tempat duduk Sean, tempat yang tadi ia duduki.
Tak terasa, ada sebening air menetes pelan di pipi putih Gendis. Ekspresi wajah Gendis sama, tapi perubahan matanya terlihat jelas. mata Gendis terlihat sedih.
Ia melihat Sean menghubungi seseorang lewat ponsel, dan ponsel Gendis berbunyi.
"Ndis, tolong kamu pulang sendiri naik taxi ya, nanti aku kirimkan alamatnya, aku ada kepentingan mendadak".
Sebelum ada jawaban dari Gendis, Sean sudah menutup teleponnya.
Ada satpam yang mendekatinya,
" Ibu mencari taxi ?"
" Ya Pak"
" Saya panggilkan bu ?
" Ya, terima kasih ".
__ADS_1
Tak lama kemudian taxi datang,
" Ibu masuk saja ke dalam mobil, belanjaan biar kami yang masukkan".
Gendis memandang satpam itu dengan linglung, seramah inikah semua pegawai di swalayan ini, atau karena mereka tahu aku istri boss?.
" Terima kasih".
Gendis masuk ke dalam mobil.
Sampai di apartemen, Gendis berusaha untuk kuat, ia tidak mencintai Sean, harusnya ia tak sesedih ini. Pikir Gendis.
Gendis memasukkan semua yang ia beli tadi sesuai dengan jenisnya, baik dalam kulkas atapun kitchen set.
Ia lihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore hari, tapi Sean belum pulang.
Ya bagaimana dia pulang, dia kan lagi asik dengan kekasihnya Alexa.
Gendis menarik nafas sangat dalam.
ia masuk ke dalam kamar,
Ini baru permulaan, dan ia merasakan sesakit ini, jalan masih amat panjang, apakah bisa ia menerima sakit yang ia rasakan ini terus menerus.
Gendis menelungkupkan kepalanya di bantal ia menenggelemkan diri dalam tangisan, biar lega.
Memang, Gendis dan Sean adalah suami isteri yang tidak saling mencintai, dalam kehidupan keseharian Sean tak pernah melihat bagaimana warna rambut Gendis, sepertinya Gendis tak mengizinkan, sebab dari kemarin mereka berkumpul Gendis tak membuka penutup kepalanya, ia terus menggunakan hijabnya.
Dadananya selalu tertutup rapat dari ujung rambut, sampai ke kaki.
Gendis berfikir, ia tak akan memperlihatkan keseluruhan dirinya, sebelum suaminya itu betul-betul memiliki rasa cinta pada dirinya, ia tak.mau mengumbar aurat, meskipun itu di depan suaminya.
Ialah yang harus menjaga martabatnya sendiri, bukan orang lain.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Gendis membuat salad buah untuk menemaninya nonton tv.
Ia mengenakan celana dan kaos oblong, tak lupa ia tutupi kepalanya dengan hijab. Tanda-tanda kesedihan tadi sudah menghilang, kali ini ia sedang nonton televisi.
Saat Sean datang sisa kesedihan itu sudah hilang.
" Mas Sean pulang ?"
Sean memandang istrinya, terlihat jelas dimatanya ada penyesalan disana. Ia mengira Gendis akan marah ditinggalkan begitu saja, tapi ternyata....
Ia mendatangi Gendis,
" Maaf tadi itu aku..."
" Dia nggak pa pa kan ? itu tadi yang namanya Alexa ?"
Deg....
Jadi Gendis tahu aku tadi dengan Alexa. Sean semakin merasa bersalah.
" Maafkan aku, dia tadi melihat kita, aku berusaha untuk menenangkannya".
"Tapi aku istrimu Mas, aku juga ada disitu, Mas Sean kan bisa mengunjungi rumahnya setelah antar aku pulang, aku cuma mau bilang, aku tak mau Mas seperti itu lagi, Mas memang nggak mencintaiku, aku tahu itu, tapi tolong hargai istrimu"
Beban itu sedikit berkurang.
" Ya maaf aku tak bermaksud, aku tak akan mengulangi"
__ADS_1
Gensis mengangguk-anggukkan kepalanya yang cantik.
" Mau salad aku bikinkan ?"
Haaa secepat itu Gendis menata hati. Pikir Sean
" Boleh", jawabnya singkat
" Mas Sean mau buah apa sayur ?!" teeiak Gendis dari dapur.
" Buah saja"
Sean mencoba salad yang dibuat oleh Gendis.
Enak. pikirnya.
Ia habiskan salad milik Gendis.
Setelah selesai membuat salad dengan porsi jumbo Gendis membawanya ke depan televisi, ia lihat salad-nya sudah habis dimakan Sean.
" Habis ??"
" Ya, saladnya enak".
" Ya udah, ini kita makan berdua"
Mereka berbagi salad dalam mangkok besar, sambil nonton televisi.
Beberapa kali Sean mencuri pandang ke arah istrinya, ia melihat makin lama istrinya semakin cantik, bahkan hatinya benar-benar jauh lebih cantik.
Sean mengganti chanel tivinya dengan chanel luar negeri, ia mulai mencari-cari saluran yang biasa ia tonton.
Ketemu, di tv sedang menayangkan film yang romantis, merwka diam menyaksikan televisi.
Ada debaran-debaran aneh di hati Mereka berdua. Semakin lama film semakin vulgar.
Gendis segera berdiri, desiran itu semakin kuat ia rasakan. Desiran yang sama juga dirasakan oleh Sean.
" Aku masuk dulu mas, takut besok kesiangan, kalau mas mau nonton terus silahkan".
Gendis berjalan menuju ke arah kamar.
Sementara sekarang, ada sesuatu yang hilang dari hati Sean. Ia menjadi sedikit linglung, mematikan tv dan masuk ke dalam kamar. Dengan debaran sama seperti yang dirasakan oleh Gendis.
Di dalam kamar, Sean mencoba untuk menenangkan hatinya, tapi justru debaran itu semakin kuat ia rasakan, saat membayangkan wajah cantiknya.
Apa ia aku mulai menyukainya? Baru juga dua hari jadi istriku. Aaah nggak salah, ini pasti gara-gara film romantis tadi, pikiranku jadi kacau.
Sean segera menuju ke kamarnya sendiri untyk beriistirahat.
Tapi ia tak bisa tidur juga, bayangan Gendis berseliweran, berputar-putar, Menari-nari, dan tersenyum manis di kepalanya.
Dia tidur sebentar dan bangun lagi, seolah bayangan istrinya tak.mau beranjak pergi.
Terakhir jam tiga dini hari, karena dia merasa sudah tidur walaupun sebentar, Sean ambil air wudhu untuk sholat malam.
Selesai sholat, Sean bermaksud untuk memgambil air minum, ia lihat ada sedikit sinar keluar dari kamar Gendis.
Sean melangkah ke kamar Gendis. Ia melihat istrinya sedang sujud. Lamat-lamat Sean mendengar ada suara sesenggukan dari dalam kamar.
Menangiskah Gendis ?
__ADS_1
Ada rasa bersalah yang Sean rasakan saat ini. Sean melangkah ke arah ruang televisi. Ia tidur di atas sofa depan tv.
Sambil tak sekalipun bisa memejamkan mata.