
Terik sinar matahari masuk kedalam sela lubang jendela kamar milik Nella. Menyilaukan mata yang tertutup itu. Mengerang serta luruskan tubuhnya begitu kaku seharian tertidur.
Mengerjap-gerjap kedua bola matanya yang besar dan bulat itu menatap langit kamarnya berwarna putih abu - abu. Bangun dari tidurnya memandangi sekitar ruangan serta mengintip balik selimutnya. Pakaian telah di ganti, berusaha mengingat Siapakah yang menggantikan pakaian menjadi baju tidur.
Klik.
Suara pintu kamar mandi terbuka, muncul sosok dibalut handuk melingkar di pinggang yang rata di tambah kotak-kotak terbagi enam lalu badan berotot rambut basah, harum maskulin dari tubuh itu indera penciuman hidung milik Nella sendiri.
Nella tidak dapat mengedipkan kedua bola mata yang bulat sempurna itu. Apalagi mulutnya terbuka seperempat, merasa ini adalah mimpi bukan nyata. Kepala lurus pun kini menjadi miring menatap sesuatu yang amat di sukai oleh Nella sendiri.
Dari jauh Nella memperhatikan kotak berenam kemudian dua dada bidang berotot, dagu lancip mengemaskan, bibir seksi, hidung menggiurkan, dua mata tajam menusuk jantung dan hati memanas, alis tebal menekan gusaran jiwa.
Sungguh ini mimpikan? Begitu tampan dan gagah perkasa, ingin rasanya mencicipi tubuh yang indah seperti daging sapi di potong menjadi dua. ~ Nella mengkhayal sehingga air liurnya pun ikut keluar dari mulutnya.
"Apa yang kamu lihat?" suara menendang gendang telinga Nella, khayalan pun hilang seketika. Setelah mendengar suara yang familiar banget.
"Om! Kok, ada di kamarku?" sontak kaget Nella menanyakan pada Edy.
Edy sendiri mengernyit dari pertanyaan mulut cewek barbar ini.
"Kamu tidak ingat? Apa yang kamu lakukan setelah tengah malam menganggu tidur nyenyakku?" Edy kembali bertanya mencoba memberikan memori kejadian semalam.
Nella terbengong sendiri atas pertanyaan dari Edy itu. Dia pun mulai mencoba mengingat kejadian tengah malam.
Flashback Malam hari 12.30 P.M.
Duk! Duk! Duk!
__ADS_1
"Eh! siapa sih kunci pintunya! Buka!" teriak Nella dari luar kamar menempelkan kepalanya di daun pintu.
Edy yang tengah tidur, baru saja akan memejamkan mata harus terbuka kembali mendengar suara keributan di luar.
Ceklek. Klek! Klek!
"Ih... buka pintunya! Kak Luna, kok di kunci pintunya! Lala mau masuk!" teriaknya lagi.
Edy pun turun dari ranjang tidurnya, lalu membuka pintu terkunci, pada saat di buka, tubuh Nella ikut jatuh, sempat di tangkap oleh Edy. Tercium bau alkohol di mulut Nella oleh Edy.
"Mabuk! Hei, bangun!" ditepuk pipinya Nella, tetap tidak ada tanggapan.
Nella tertidur karena saat turun dari kamarnya karena haus. Dia mencari minum di dapur. Lalu di atas kulkas ada botol minuman berwarna kuning coklat. Nella mengira itu teh manis, di tuangkan sedikit lalu di minumnyalah, merasa aneh di lidah dan tenggorokan.
"Kok aneh, pahit, terus rasanya, wueek!" gumamnya.
Merasa haus lagi, Nella pun minum ada di botol itu hingga tiga kali dalam satu gelas. Merasa kepalanya pusing dan pandangannya kabur, jalan pun oleng - oleng. Nah waktu mau ke kamar ada dua bayangan di depan matanya. Ketika akan membuka pintu, Nella memang sudah salah masuk ke kamarnya. Dia mengendor pintu milik Edy. Dikira pintu itu terkunci sendiri.
Flashback Off
Nella langsung membungkam mulutnya, sudah mengingat semua kejadian tengah malam. Edy sudah selesai memakai baju kaus oblong dan celana kendor nya.
"Jadi, Om, kita nggak ngapa-ngapain dong! Ah, padahal Lala sudah tunggu pun! Kapan nih, Om, hamilin Lala! Jangan lama-lama. Apa, kita nikah saja! Boleh deh, nikah, yuk ke KUA!" seru Nella semangat 86 turun dari kasur Edy.
Edy memutarkan kedua bola matanya malas mendengar ocehan cewek barbar tidak penting itu.
"Kak Luna! Lala mau bicara penting! Kak Luna!" teriak Nella keluar dari kamar Edy membuat Luna baru saja beres kamarnya.
Edy ikut keluar dari kamarnya, Nella terus meminta Luna untuk adakan pernikahan sederhana untuknya.
__ADS_1
Edy sebenarnya tidak ingin buru-buru, perkataan dimana cewek barbar itu mengatakan kejujuran padanya ketika dia dalam keadaan mabuk.
Mata terpejam milik Nella, Edy menjauhkan dari wajahnya. Mata cewek barbar itu terbuka, Edy terdiam.
"Om," panggilnya
Edy tidak menyahut.
"Om, jangan tinggali Lala sendirian, Lala takut," ucapnya
"Lala janji enggak akan nakal lagi, Lala tidak sengaja buat Papa mama meninggal karena ceroboh Lala sendiri, kak Luna sendiri benci sama Lala, dia hanya kasihan saja," lanjutnya air mata jatuh dari ujung kelopak matanya.
Edy bisa melihat wajah lugu dan lembut itu. Ada sosok terpuruk dari cewek barbar.
"Om tahu kenapa Lala minta di hamili? karena Lala ingin Om mencintaiku seperti Kak Luna dan Kak Alex, Lala suka sama Om."
Edy terngiang kata-kata itu, menatap tubuh kecil di depannya berusaha membujuk Kakaknya mengadakan pernikahaan. Apa yang harus Edy lakukan sekarang.
"Ya, Kak. Lala mau nikah sama Om Edy! Lala cinta banget sama Om Edy, kok. Lala janji tidak akan merepotkan Om Edy, lagi!" Nella terus mendesak Luna yang dari tadi mengerjakan dapur untuk sarapan bersama.
Luna bukan tidak izinkan Nella menikah, dia hanya takut Edy akan di repotkan oleh Adiknya satu - satunya.
"Aku siap menikahi Nella," ucap Edy tiba - tiba buat Luna menghentikan pekerjaan dapur.
Alex langsung menoleh belakang, tidak salah dengar kalau abang sepupunya bakal menikahi Nella.
"Benar, Bang? Mau nikahi Nella?" tanya Alex sekali lagi. Edy mengangguk, yakin banget.
Nella menatap wajah Edy sekali, kebahagiaan Nella terwujud, langsung di peluknya membuat Edy mundur beberapa langkah.
"Benaran Om! Mau nikah sama Lala? Horeee!" Di peluk erat oleh Nella.
__ADS_1
Luna mendengus kasar, dia sendiri tidak bisa buat apa-apa kalau itu maunya. Dia pun menyetujui saja.