Nella in Action

Nella in Action
Hamidun


__ADS_3

Hari ini Nella akan ke rumah sakit mengecek kesehatan pada perubahan tubuhnya. Edy mengekori istrinya bagaikan anak ayam mengikuti induk ayam.



"Om, kenapa sih, buntuti Lala mulu?" cicitnya sedikit risih sama sikap aneh suaminya.



"Siapa yang buntuti kamu, Om mau ke dapur ambil minuman juga," balasnya melewati istri barbar-nya. Kemudian Edy mengambil gelas bening menuangkan air mineral ke dalam.



Nella memperhatikan setiap detik pengerakan pada suaminya itu. Edy mengintip lewat bening gelas mengamati setiap sela detik-detik berikutnya.



Nella pergi melangkah meninggalkan tempat dapur itu, kemudian melanjutkan langkah kaki ke arah pintu utama. Tante Della dan Kak Luna telah menunggunya di halaman parkiran mobil.



Ketika Nella masuk ke mobil, Edy juga menyusul masuk kedalam tepat tempat duduk jok belakang. Nella melirik dengan tatapan horor menyeramkan.



"Nah, kan, katanya nggak buntuti Lala? Ini kok ikut masuk ke mobil?!" suaranya meninggi merengek manja.



"Om, juga ada urusan di rumah sakit. Jadi sekalian saja, nggak habis Pertamax," kata Edy cuek.



Sementara Della, sama Luna saling menatap dari arah kaca depan. Senyuman mereka penuh arti. Nella merenggut ciut bibirnya buang muka ke samping kiri seperti nggak mau lihat muka suaminya.



Satu jam kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit pernah Nella opname sebelumnya. Wanita barbar ini pun turun, terus mengangkat kepalanya berbinar-binar. Ada sesuatu yang terpancar pada wajahnya.



"Ih, kalian tahu saja, kalau Lala kangen rumah sakit ini. Om, tahu nggak, Lala mau di periksa sama Dokter cakep. Dokter Hendra. Tante, nanti suruh dokter Hendra periksa Lala." cicitnya si Nella seperti anak-anak.



Luna mengelus bahunya si Edy, lebih bersabar lagi. "Sabar ya, pengaruh hormon," hibur si Luna pada Edy.



Edy senyum lesu, mengharap jangan dokter pria yang periksa kandungannya. Ia tidak rela, istrinya sedikit labil kalau apa yang di inginkannya.


__ADS_1


Masih menunggu, Nella malah sempatnya mengisap permen kaki yang warna merah sampai bersuara.



"Istrinya, Mas, ya?" tanya seorang ibu yang sekitar usia tiga puluh tahunan. Tengah menggendong seorang bayi keadaan tertidur pulas.



"Iya," jawabnya si Edy, "Manis ya, masih muda. Mau cek kandungan, ya?" tanyanya lagi.



"Hm... iya," jawab seadanya.



"Om," panggil si Nella, Edy menuntut, "Iya," sahutnya.



Ibu yang menggendong bayi itu terdiam sejenak, pasti berpikir kok di panggil Om.



••••




Edy kalang kabut menyusul istri barbar-nya lari tanpa memedulikan kondisi kandungan. Della dan Luna bisanya geleng kepala.



"Bagaimana suasana rumah ini kalau tingkah absurd Nella tahu hamil, waktu kamu hamil Marcello pernah seperti adikmu?" tanya Della menyusul masuk ke rumah.



"Tidak, sikap Nella memang sedikit aneh, kalau bisa dikatakan perempuan aneh bin ajaib. Pastinya dia senang banget. Karena keinginannya telah di kabulkan," jawab Luna.



Sementara di dalam rumah, sepasang pengantin itu tiada hari namanya perdebatan. Tidak menikah, pacaran sampai sudah mendapat kebahagiaan akan ada penghuni baru pun masih absurd.



"Nggak boleh," bantah Edy.



"Ih... boleh, ya! Kan, adeknya mau di elus sama Dokter Hendra, kalau nggak, Om telepon dokter Hendra datang ke sini, ya, mau, ya..." Mohon si Nella sama suaminya 

__ADS_1



Enak saja, suruh dokter Hendra ke sini. Aku ini suamimu. Yang elus perut kamu itu aku bukan dokter itu. Sarap nih, Biniku. batin Edy menjerit.



"Nggak! Pokoknya nggak ada dokter Hendra atau siapa pun. Yang boleh elus itu perut, cuma, Om. Om yang hamili kamu bukan Dokter Hendra!" bantahnya benaran marah banget si Edy.



Kedua mata Nella mulai berkaca-kaca, suaminya nggak mau kabuli permintaannya. Ke empat dewasa ini hanya bisa menyaksikan perdebatan pengantin tersebut.



"Hiks... Om... Jahat... Lala, kan, cuma mau minta di elus doang. Siapa yang bilang Dokter Hendra hamili Lala! Huaaa...." Nella bangkit dari sofa langsung naik ke atas masuk ke kamarnya.



Edy menyusul bukan itu maksud yang dia katakan. Makin salam paham nih, si bininya. Sedangkan empat dewasa ini terpingkal ketawa lihat pengantin baru yang begitu absurd.



"Aku yakin, dalam waktu tiga bulan, Edy pasti kewalahan lihat sikap istrinya, ini baru pemulaan Edy sudah naik pitam," kata Roy



"Betul, kamu mau taruhan lagi. Kira-kira Edy akan bertahan sampai berapa bulan menghadapi Nella," balas Alex



"Hm... sepertinya 2 bulan, eh, bukan 4 bulan," jawab Roy



"Kalau begitu, akun pastikan nggak sampai 4 bulan, Abang Edy pasti menyerah." Yakin seyakinnya si Alex



Taruhan penyiksaan untuk Edy, sungguh tragis. Di kamar atas lantai dua. Nella masih menangis terisak - isak. Edy membujuk sampai mencium bibir imutnya yang lucu.



"Ihh... Om, kok, cium Lala, sih! Ini untuk Dokter Hendra," cicitnya menciut.



"Gemes... kalau nggak diam, aku cium lagi. Biar Dokter Hendra-nya cemburu." 



Nella nggak bisa menolak, soalnya kangen juga sama ciuman darin suaminya. Edy makin cabul saja. Bininya lagi hamil asyik cium mulu.

__ADS_1



__ADS_2