
Sekarang mereka berada di salah satu taman yang cukup seluas lapangan golf. Duduk menghirup udara segar, nanti malam yang di nantikan Nella adalah menara Eiffel. kapan lagi bisa ke sini dengan keindahannya.
Sekali-kali ia melirik paras wajah suaminya, ia tidak membayangkan bisa berada tempat ini di usia mudanya. Seumur hidup ia belajar bahasa asing demi mewujudkan impiannya. Sekarang sudah terkabulkan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Edy bertanya kepada istrinya ada di sampingnya sambil menjilat es krim kesukaannya.
"Enggak, siapa juga lihat, Om," mengelak mengalihkan pandangan sebelah kiri.
Edy tahu banget bahwa istri barbar nya ini meliriknya dari tadi. Tetap saja ia membiarkannya.
"Terima kasih, ya, Om. Sudah kabulkan impian Lala," di lanjutkan percakapannya. Edy menoleh dengan kerutan kedua alisnya melipat itu.
"Terima kasih, untuk?" Edy bertanya sebaliknya.
"Untuk semuanya," jawabnya dengan satu tangan ke atas peragakan kepada semuanya.
"Om, tahu enggak..." Belum selesai melanjutkan kata-katanya langsung dipotong oleh Edy, "Enggak tahu."
"Iih... dengari dulu, jangan suka memotong pembicaraan orang lain, apalagi kata-kata itu belum selesai di ceritakan." Nella menceramahi suaminya.
Mulai sejak kapan Nella sedewasa ini, Edy pun menegakkan tubuhnya kemudian menghadap arah kepadanya ia siap mendengar apa yang akan istrinya bahas itu.
"Oke, Om diam sekarang, sekarang apa yang mau kamu ceritakan? Ceritalah."
Dengan satu gigitan terakhir es krim itu, Edy masih perhatikan kesibukan istri barbar-nya membersihkan mulutnya yang di penuhi oleh es krim tadi, terus membuka botol minuman di tekuk hingga setengah air mineral itu.
__ADS_1
"Haaa...." rasa lega menyegarkan tenggorokannya.
"Tadi sampai dimana pembahasan Lala?" tanyanya.
"Terima kasih untuk semuanya," jawab si Edy
"Oh iya, sampai di situ. Begini, Om pasti enggak tahu kenapa Lala bisa menguasai beberapa bahasa asing?" Nella mulai menceritakan rahasia dalam dirinya. Edy menggeleng kecil
"Karena, Lala itu dulu ingin sekali keliling dunia di negara asing. Terus, bahasa asing yang selama ini Lala kuasai masih pasif, apalagi belum terlalu mendalam. Tujuan Lala itu adalah tempat ini, soalnya tempat sangat romantis banget, terus kalau sama pasangan apa enggak lebih romantis. Cuma Om pasti mikir kenapa harus di pendamkan bakat tarian itu dan bahasa asingnya?" ceritanya panjang lebar sebentar melirik suaminya
Tatapan manik kedua bola hitam coklat itu membuat Nella sulit untuk melanjutkannya.
"Jangan lihatin Lala seperti itu," Nella jadi malu kalau di lihatin sama suaminya sendiri.
"Percuma kalau menggunakan di negara lokal, karena kita orang Indonesia ya pastinya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan sopan. Buktinya orang asing datang ke Indonesia malah menguasai bahasa kita. Terus Lala belum pernah pun ke luar negeri apalagi negara asing yang sekarang. Jadi di pendamkan saja, mana tahu suatu hari berguna walau tidak di tunjukkan kepada yang lain," jawabnya panjang lebar.
"Ya, bedanya apa Bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Waktu kamu sekolah juga belajarnya bahasa asing di dalam mata pelajaran?" pertanyaan dari Edy membolak-balik kata mulu.
"Om, begini ya, Lala jelaskan, tetap berbeda. Bahasa Indonesia tetap Indonesia, bahasa asing tetap bahasa Asing. Perbedaannya adalah Om lahir di negara mana?" Nella bertanya
"Indonesia," jawabnya kok makin bego nih suaminya.
"Nah itu, Om lahir di negara Indonesia, terus belajar bicara juga menggunakan bahasa Indonesia, kan?" Edy mengangguk kecil.
__ADS_1
"Terus, nama Om juga Indonesia, kan? Edy Susanto Kusuma, bukan Samuel Gabriel Oscars, betul?"
Edy menjawab, "Iya, betul."
"Terus, kalau biasanya orang pertama kali tidak tahu kalau orang memberi pertanyaan satu di tambah satu pasti jawabannya dua, kan. Enggak mungkin di jawab tiga, benarkan. Kalau di jawab benar berarti di sebut apa, Om?"
"Bodoh," jawabnya.
"Pintar banget, sih, suamiku." Di elus-elus kepala rambutnya seperti bocah.
Nella senyum kejahilan mau saja di dengar karangan darinya. Edy benaran seperti orang idiot percaya kata - kata dari istrinya itu.
"Je t'aime." ucapnya si Nella
"Apa itu?" tanya Edy makin bloonnya.
"Cari saja sendiri apa itu Je t'aime. Katanya pintar bahasa asing si Om ini. Percuma CEO & Direktor perusahaan perhotelan banyak di kunjungi orang asing. Tapi Je t'aime apa saja enggak tahu, huh, payah!"
Nella pun bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan suaminya dengan ekspresi terbengong-bengong. Dengan kesimpulan ia tangkap, di kejar nya si Nella.
"Kamu katai suami sendiri, bodoh?"
"Enggak, siapa juga katai Om, bodoh. Jangan prasangka buruk ya! Lala cuma bilang, payah! Bukan Bodoh! Payah sama bodoh jauh beda!"
Perdebatan mereka belum berakhir, hingga honeymoon mereka usai, dan apa yang akan terjadi setelah tiga minggu depan mereka kembali ke negara asalnya?
__ADS_1