Nella in Action

Nella in Action
Proses Persalinan


__ADS_3

Akhirnya masa kehamilan Nella tidak membuat Edy hantamkan kepalanya di tembok raksasa Guangzhou.



Selama ini penderitaan Edy benar menguji kesabaran dan kemarahan terhadap istri barbar-nya. Sekarang kehamilannya telah bulan delapan, sebentar lagi akan lahir debay.



"Om," panggil Nella.



Tubuh Nella semakin bulat dan bunder. Kayak bola. Kedua pipinya makin chubby serasa ingin di cubit atau di makan mentah-mentah.



"Iya," sahutnya si Edy. "Boleh minta tolong, ambil botol itu."Ditunjukan arah dengan mejanya nggak begitu jauh sih. Cuma ya karena perutnya membesar jadi sulit menjangkaunya.



"Untuk apa botol ini?" tanya Edy berikan kepadanya.



"Untuk pukuli kepala orang,jawabnya asal.


"Ya jelas, untuk minumlah! Gimana sih, Om ini. Lama-lama kok jadi bloon begini?" Nella semakin kesal sama sifat somplak nya.



"Bloon ini juga karena kamu, Lala!" di tekan akhir katanya.



"Ih... sakit, kok cubit sih! Nanti melar, jelek jadinya," nyerocos si Nella nya.



"Melar bisa di kencangkan, biar makin mulus." balasnya asal mulai menggombal.



Nella jadi malu, senyum-senyum bikin perasaan Edy jadi sayang banget.



****



Semua tengah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk debaynya. Edy tidak sabaran melihat buah hati keluar dari perut istrinya. Serasa bagaimana kehidupan lebih bahagia ini.



"OM... OM EDY...!" teriak Nella membuat Edy yang lagi menyusun barang di lemari.


__ADS_1


Saat mengangkat kepala tidak ia fokuskan bahwa dirinya ada di bawah meja. Duk!



Terbentur kepalanya, buat kepalanya sedikit gegar saking sakit berdenyut-denyut. Teriakan Nella masih terdengar memamggilnya.



"OM EDY...! OOMMM...!" teriaknya benar seisi rumah gempa akan lengkingan itu.



Dia pun berhamburan keluar dari kamarnya, Roy yang baru bangun sikat gigi ikut keluar.



"Massyallah!" Edy terkejut bertemu muka pocong.



"OM EDY...!"



Edy turun tergesa-gesa pada anak tangga itu, berlari arah suara di mana keberadaan istrinya.



"Iya, sayang! Ada apa?" Edy langsung bertanya kepada istrinya tengah duduk di teras depan rumah.




"Hah? Rumah sakit, tapi, kamu belum waktunya lahirin?" ucap Edy soalnya masa kehamilan Nella baru masuk delapan bulan.



"Aku mau sekarang nggak apa-apa, kan?" Mulai deh, ekspresi memeras mewek. Nella tahu banget kalau suaminya enggak akan larang dia ini itu.



"Ya, deh. Tapi nggak pakai melek dokter gantenya, ya!" Di peringati lagi.



"Iya, nggak akan deh." janjinya.



Edy memasukan barang yang di perlukan saja. Terus si Nella sudah duduk manis di depan sambil mengelus perut besarnya yang bulat.



Roy terpaksa menjaga rumah minimalis ini. Demi kelangsungan kehidupan keluarga baru itu. Edy menyalakan mobilnya lalu keluar dari rumah itu.


__ADS_1


Dalam perjalanan, Nella melihat arah luar jalanan. Menunggu lampu merah berganti warna hijau.



"Om, Om," di pukul lengannya itu. "Iya, ada apa, zeyeng!"



"Ih...  geli tahu panggil begitu. Ke sana yuk!" Di tunjukin arah sebuah minimarket seberang.



"Untuk apa? Katanya mau kerumah sakit." tanyanya.



"Ih... ini Om... Sebentar doang!" serunya.



Warna lampu merah telah menjadi hijau, dengan terpaksa Edy membelok arah tempat yang di tunjukin oleh istrinya itu.



Nella turun Secara perlahan-lahan di bantu oleh suaminya itu. Masuk ke sana, tak ada hal lain yaitu es krim. Kalau di ingat kembali awal pertama ketemu dengan Nella. Jadi seperti masa muda dulu deh.



"Nih, Om." Nella berikan es krim rasa jagung campur durian, Sedangkan dia rasa vanila dan coklat.



Mereka pun duduk di salah satu tempat yang tersedia untuk pengujung yang datang membeli. Nella menjilat begitu lahap sampai berlepotan di sudut bibirnya.


Edy membersihkan dengan tisu kertas tersebut. Kemudian melirik kiri-kanan nggak ada siapa-siapa. Kedua mata Nella membulat kaget. Edy tengah mencium bibir istrinya di depan umum. Rasa vanila campur coklat menjadi nano-nano rasa jagung durian di dalam rongga mulutnya.



"Om... kok..." Nella nggak bisa mengatakan apa-apa.



"Gemes, dari kemarin Om tahanin, tapi ... ya gitu deh."



Edy bangkit dari duduknya, terus Nella belum habis es krimnya. Ia pun  ikut bangun dari sana.



Melanjutkan kembali perjalanan ke rumah sakit. Sepertinya perut Nella sedikit mules, tetap saja ia bawaan santai.



Sampai di rumah sakit, di mana Nella rawat dulu dan periksa kandungan. Dokter Hendra sedang ada tugas di tempat lain. Yang menggantikan sekarang adalah Dokter Jenni.


__ADS_1


Dokter Jenni ini masih muda tapi sudah menjadi dokter kandungan yang sangat handal. Terus, Dokter ini kesemsem sama Edy. Cuma Edy tidak berpaling sama dokter ini. Bisa - bisa muka Edy di hancuri sama istri barbar kalau sudah melahirkan nantinya.



__ADS_2