
Edy kembali ke mejanya tidak menemukan Nella di tempat duduknya, ia pun segera menyusul ke parkiran setelah meletakkan uang beberapa lembar di meja. Ketika berada di parkiran tidak di temukan sosok cewek barbar dalam mobilnya. Edy mulai panik ke mana perginya si Nella, pertanyaan demi pertanyaan menempel di kepala Edy. Ia mencoba menelepon ponsel Luna, apakah Nella ada di kantor.
“Halo, Luna... Apa Nella bersamamu?” Edy bertanya seberang telepon.
“......”
“Begitu, tidak, aku hanya memastikan saja,” kata Edy tidak ingin membuat Luna mencemaskan adiknya saat ini.
Panggilan telepon berakhir, ekspresi Edy berubah, mengharap kalau Nella ada di sana. Ternyata Nihil tidak ada sama sekali, lalu ke mana perginya. Kalau dia memang tidak ada di kantor, apakah pulang ke rumah sendirian? Pertanyaan berputar – putar oleh Edy sendiri.
Ia masuk ke dalam mobil menekan tombol angka dua, nama kontak muncul dari layarnya Cewek Barbar. Deringan ponsel terdengar dalam mobilnya, Nella meninggalkan ponsel di mobilnya. Edy mulai frustrasi benar kehilangan cewek barbar itu, daripada panik, ia lebih baik ke rumah mudah – mudahan feelingnya mengatakan dia ada disana.
Sampai di rumah kediaman Kusuma, Edy segera turun. Kemudian masuk ke dalam rumah langsung naik ke atas menuju kamarnya. Edy menarik napas dalam-dalam, semoga cewek barbar ini ada di kamar, doanya. Di buka gagang pintunya mendorong sedikit daun pintu mengintip sedikit, tidak ada siapa – siapa. Nella tidak ada di kamarnya, lantas ke mana dia pergi.
•••••
Suara hujan di atas genteng terdengar sangat keras, sama seperti Nella merenung dunia kekosongan semata. Duduk di atas genteng yang telah basah seluruh tubuh oleh air hujan. Biarkan dia begini, dia memang benci hujan. Hujan memang selalu membawa penderitaan tidak akan kembali utuh tetap saja ada luka berbekas.
Seluruh tubuh mengigil adanya hujan menyelimuti nya, bibir gemetar, napas memburu menahan suhu pada tubuhnya yang dingin, kedua tangan tidak merasakan sakit, benar seperti berada di Kutub Utara dingin seperti es mengeras. Mata merah tidak terlihat air mata yang membasahi wajahnya, parasnya pucat seperti kertas tisu.
__ADS_1
Sebentar lagi, mungkin sebentar lagi dia akan segera pergi menyusul kedua orang tua menanti sepanjang hidupnya. Pandangannya mulai redup, semakin di kedip, semakin hilang pandangan alam yang terang menjadi gelap gulita.
BRUK!
Nella seperti mendengar seseorang memanggil namanya, namun kedua mata tidak dapat membuka untuk melihat siapa orang tengah memanggilnya. Ia mengenal suara itu, sentuhan hangat yang pernah di genggam.
..... Tit .... Tit .... Tit ....
Edy, Luna, Alex, tengah diam menunggu keadaan Nella sadar dari kritisnya. Edy merasa bersalah pada Luna telah membuat kondisi adiknya semakin buruk.
Luna tidak bisa menyalakan siapa pun, ia hanya mengharapkan adiknya segera sembuh dan berkumpul kembali. Mendengar penuturan dari dokter, keadaan Nella kemungkinan kecil hidup 50℅. Koma bukan keinginan Luna, ia sayang pada adiknya.
Secarik surat di temukan oleh Edy ketika berada di kamarnya.
"Tak ada pernikahan yang bahagia, memberi harapan palsu adalah keindahan yang kosong. Salahkah Lala menikah dengan Om Edy, tapi dia hanya kasihan pada Lala. Apa cinta itu menyakitkan? Lala cinta padanya, tapi dia tidak mencintaiku, cintanya hanya untuk tante Jessica. Boleh, kan, Lala merebutnya? Egois, kah, itu? Kak Luna bahagia karena cinta dengan Kak Alex, kenapa Lala tidak bisa? Lala juga ingin seperti kak Luna bisa di sayang, di puji. Lala memang cewek konyol dan barbar, karena Lala ingin di perhatiin. Lucu ya. Lala memang cewek lemah, lemah sehingga papa dan mama pun pergi tinggali Lala. Lala juga akan menyusul, menyusul mereka. Berkumpul."
__ADS_1
Edy membaca semua isi diary dari Nella. Ia juga tidak tahu kenapa begitu bersalah, dari awal Edy memang tidak ada hati pada cewek barbar ini.
Ia tahu, Nella mencoba cari perhatian agar Edy bisa luluh padanya. Selalu lengket, Kata-kata tidak di pikirkan lebih dulu. Edy mengingat semuanya seharian kehidupan Nella.
"Sayang, kamu harus makan. Kasihan kandunganmu. Nella pasti akan sedih kalau melihat kakaknya kurus tidak terurus," bujuk Alex.
Luna memang sedang hamil, ya, baru hamil. Luna tidak selera untuk mengunyah makanan di mulutnya. Rasa mual adalah pengaruh hormon seorang ibu hamil.
Edy sendiri mata kepalanya melihat Luna pasti lebih terpukul kalau Nella terbaring lemah. Ia bangkit, dan keluar dari kamar rawat. Alex mendongak melirik Edy pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.
Ketika keluar dari rumah sakit, tidak sengaja melihat seorang anak kecil menarik tangan ibunya untuk memberi Ice cream yang lewat itu.
"Ini enak, loh!"
Ia pun pergi mendekati penjual Ice cream kemudian Edy mengambil es itu bentuk jagung. Rasa pertama kali di rasakan olehnya saat Nella menyodorkan ke mulut.
Semua memori tentang Nella berputar kembali pada Edy sendiri. Menyesal, kesempatan, kecewa, berakhir.
__ADS_1