Nella in Action

Nella in Action
Masa Kehamilan


__ADS_3

Masa-Masa Kehamilan + Kesabaran telah di uji oleh Edy.



Kehamilan pertama untuk Nella sendiri, ia ingin ke suatu tempat yang selalu bikin kepala Edy ingin hantamkan ke tembok yang besar dan tak bisa roboh.



"Lain kali saja, ya, kita pergi. Kan, kamu masih hamil muda. Nanti kalau kecapekan bagaimana? Nanti kayak kemarin siapa yang salahi?"



Edy mencoba nasehati Nella untuk tidak minta yang aneh-aneh deh. Masa suruh suaminya ke Dufan naik yang ekstrem. Gila apaan itu, bisa-bisa nyawanya dulu melayang kalau sampai terjadi sama telur yang masih masa proses pertumbuhan. Nggak benar ini istrinya, hamil nggak hamil sama saja buat hidup seorang pengusaha perhotelan harga diri semakin turun..



"Nggak! Aku mau sekarang! Kalau Om, tetap nggak kasih, makan itu Mie keriting, pilih yang mana? Ke Dufan atau makan itu Mie!" Ancaman seorang wanita hamil bikin Edy mengelus dada. Bobot badannya sudah menurut satu kilo karena dia benaran phobia sama namanya Mie.



Glek.



"Ya, nggak harus begitu dong, La... Ini namanya menyiksa suami," protesnya pelan pokoknya sangat pelan banget.



"Habiskan! Salah sendiri, suruh beli Mie balap belinya Mie keriting bisa-bisa anakku jadi keriting!" Di omeli lalu pergi meninggalkan Edy seorang diri di ruang tamu.



Roy hanya bisa menepuk pundaknya memberikan kesabaran kepada keponakannya itu.



"Sabar ya, biasa kalau wanita hamil ada rasa tergeser otaknya, sekaligus uji kesabaran sebagai seorang suami dan papa yang baik." Itu kata Roy kepada keponakannya.



Kehamilan berikutnya, permintaan semakin aneh dan aneh segalanya. Kehidupan sebentar lagi akan berakhir, berakhir tak terlihat lagi.



Selama kehamilan awal hingga bulan keenam. Sifat absurdnya bikin kepala Edy dicabut saja dari tubuhnya. Para karyawan di hotel sampai memberikan nasehat sabar, jangan terlalu bawa emosi. Demi adik bayi.



"Sabar ya, Pak. Sudah wajib suami menghadapi tingkah absurd wanita hamil bin ajaib. Beberapa bulan lagi kok pasti normal kembali," kata salah satu staf bagian Marketing.

__ADS_1



Kring... kring...



Ponsel Edy berdering dan bergetar di saku celananya. Rogoh kantong dan foto wanita tengah menjilat es krim siapa lagi istrinya.



"Hal-"


"Om... Lala mau Jerry! Beli ya, Om! Mau ya, Om! dia lucu, gemes, terus pengin di peluk terus."


"Iya, nanti Om beli, ya. Om lagi sibuk."


"Sekarang! Lala tunggu, pokoknya beli sekarang! Kerjaan, kan, bisa di tinggal. Lala mau jerry!"


"Iya, tapi nanti sore, ya."


"NGGAK, SEKARANG!"



Edy menjauhkan ponsel dari daun telinganya. Suara nenek lampir sudah mengamuk. Karyawan ada di seberang tengah duduk menunggu tanda tangan darinya harus tertunda.




Karyawan yang ada di ruangannya saling berganti pandangan satu sama lain.



"Semoga saja mbak Nella enggak aneh mulu ya, sungguh suami yang sabar dan penyayang. Aku juga pengin punya suami kayak Pak Edy..." seru staf bagian accounting



"Makanya Pak Toni, dekat sama kamu. Malah kamu menghindar. Keburu, kan, kecantol yang lain." sindir stafnya lain.



Mobil Lexus LS berhenti di sebuah rumah yang minimalis. Nella tengah duduk di taman berayunan sambil mengelus perutnya mulai membesar. Bobot berat badannya semakin berkembang. Tapi masih manis saja mukanya, walau timbul lemak di kedua pipinya.



"Om, ini lama banget. Jerrynya keburu di ambil sama yang lain," cicitnya menunjukkan bulu halus dan lembut berwarna coklat kuning, mukanya seperti harimau, namun imut.


__ADS_1


Seekor kucing yang selalu diinginkan Nella dari kemarin. Edy herankan adalah bagaimana bisa mendapat kucing itu. Bukannya itu kucing liar.



"Loh, bukannya ini kucing ...."



"Tadi kucingnya nggak bisa turun dari pohon mangga. Terus Lala kasihan sama kucingnya. Jadinya, ya, Lala pakai tangga yang ada di sana. Panjat deh, jadinya sekarang kucingnya jadi milik Lala. Kan, sudah di langkahi sama Lala tiga kali." ceritanya



"Ya Tuhan... terbuat dari apa istriku ini." gumamnya menatap langit yang cerah itu.



"Terbuat dari manusia dong! Masa dari kayu... Om, ini aneh deh!" sambungnya.



Makin gemes saja lihat tingkah absurdnya. Tinggal di rumah minimalis penuhi halaman seluas lapangan basket, ada beberapa pohon buah-buahan. Bunga, cuma ya sekali dua kali Alex dan Roy datang bermain ke rumah ini.



Sebenarnya sih, Edy nggak mau pindah dulu sampai istrinya melahirkan. Permintaan istrinya nggak bisa di bantah.



"Om,"


"hmm...."


"Bobok yuk! ngantuk!"


"Ya sudah tidurlah, nanti aku menyusul."


"Om, ini kok nggak peka banget sih! Lala sudah minta kode nih."


"kode apa? Om, lagi sibuk, Lala. Besok ada pembukaan salah satu property di kota tetangga."



Nella merenggut ciut, di putar tubuh membelakangi suaminya. Edy menoleh sekilas sama tubuh istrinya yang berisi itu. Di tahan agar tidak mudah tergoda sama otak kotornya.



Tubuh kalau berisi makin tergoda saja si Edy. Selama beberapa bulan Edy jarang cium istrinya karena sibuk tak menentu.


__ADS_1


Di tutup laptopnya, terus ia pun ikut berbaring menyamping memeluk istrinya mengelus perut bulatnya itu.


__ADS_2