
"Ihh.. Om, cepatan! Lama banget sih jalannya! Keburu hilang orangnya!" Merepet Nella dari kejauhan tempat kamar penginapannya.
"Iya, sayang. Sabar!" Edy tengah mengangkat tas ransel ukuran kecil, entah apa isinya didalam, padahal cuma jalan-jalan lihat menara Eiffel saja harus bawa barang sebanyak ini.
Satu hentakkan kaki dari Nella bikin Edy menuntut diam. Merasa heran sama sikap bininya ini. Sebentar-sebentar marah, ngambek, merengek, menangis, permintaannya pun aneh banget. Kalau manja masih mending, malahan makin di bodohi sama istri sendiri.
Kenapa honeymoon begini, malah makin terlihat keanehan pada istrinya, kemasukan makhluk halus ya, masa sih? Nggak mungkin kali. Sini mana ada makhluk halus seperti Indonesia. Golbin? Ah nggak percaya begituan.
"Om, Lala mau itu!" di tunjuk sebuah toko penuh dengan cemilan, ramai pengunjung untuk mengantri.
Padahal tempat itu sudah sering di kunjungi oleh mereka berdua. Kenapa harus ke sana lagi, apa tidak membosankan untuk Nella.
"Tapi, kemarin sudah ke sana?" Kata Edy menolak untuk membawa ke tempat itu.
"Memang kemarin kita ada ke sana? Kapan? Bukannya kemarin kita masih di Indonesia?" tanya Nella
Kok, dia jadi pelupa begini sih? batin Edy terdiam.
"Sudah yuk! Lala pengen makan es krim itu. Rasanya enak banget, terus itu juga, itu, itu, semuanya!" seru sambil menarik lengan suaminya ke tempat penjualan toko beraneka makanan.
Edy terus meminta maaf kepada orang yang tengah mengantri lebih dulu harus di lewati oleh Nella tanpa rasa malu atau pun bersalah.
Tetap saja penduduk asing disini tidak permasalahkan dengan tingkah wanita absurd ini. Malah mereka santai, permasalahannya Edy yang malu sama yang lain.
__ADS_1
"Sayang, kita mengantri dulu, ya. Kamu enggak kasihan sama yang lain sudah tunggu beberapa jam demi mengantri bergiliran?" Ia memberitahukan kepada Nella pasang wajah cemberut, padahal ia mau es krim itu takut keburu habis.
"Ya, aku maunya sekarang! Lapar! Mau lihat Lala ngeces karena saking pengen itu es krim! Kalau enggak Om minta tukar nomor antrian lebih awal saja. Pasti mereka mau," ucapanya memeras semoga di kabulkan.
"Tapi," Edy jadi bingung. Masa harus sih. Nah, loh, loh, kok berkaca-kaca lagi. Aduh please Nella jangan nangis.
"Oke, oke, Om akan minta tukar nomor dari mereka. Tapi, kamu nggak akan cemburu kalau mereka minta cium atau ambil foto mukaku?" Edy memastikan lebih dulu.
"Enggak! Sudah cepatan! Aku tunggu di sini!" cercanya kemudian.
"Oke, kamu tunggu disini jangan kemana-mana." Nella mengangguk menatap punggung lebar milik suaminya mulai menjauh dan kecil terus tak terlihat lagi.
"Huft! Ampes banget jadi cowok, hanya tukar nomor antrian saja harus sengsara begini. Untung, saja. Sayang, yuk..."
Oh... Ow... Nella menghilang, di malam hari begini kemana istri barbar ini pergi. Padahal sudah bilang tunggu disini.
Edy teringat kejadian pertama kencan buta, Nella takut keramaian. Bisa mampus kalau hilang istrinya. Ia coba menelepon, tapi enggak ada jawaban.
Sekali lagi ia coba telepon istrinya, semoga saja diangkat.
"Ya, halo, Om... ada apa?" tersambung suara Nella sedikit berbeda.
__ADS_1
"Kamu ada di mana?" Merasa lega tersambung juga.
"Aku ada di restoran Djawa, Kak, tambah satu porsi lagi, ya!" teriak Nella dari seberang.
"Om, cepat kesini. Makanannya enak, khas Indonesia." tut... tut...
Panggilan terputus, Edy menatap layar ponselnya terbentang sendiri, di cari lah menggunakan GPS nya.
Sekitar dua puluh menit akhirnya sampai juga di salah satu rumah makan dengan sebutan nama Djawa. Dari pantulan kaca bening, menemukan sosok wanita yang buat jantung Edy hampir lepas saking gelisah jika istrinya hilang dari negara asing.
Nella dengan lahap menyantap makanan khas Indoensia, ada beberapa piring telah kosong dan bersih. Edy duduk di seberang hadapannya memperhatikan cewek barbar yang dulu bikin hidup ieffel dan sekarang menjadi istrinya. Kadang buat hidupnya kiamat karena ulang tingkah absurdnya.
"Om, lama banget datangnya! Nanti pulang, aku mau minta Kak Luna masaki menu ini. Enak banget, biar tiap hari Lala mencicipi nya!" ucapnya sambil makan penuh didalam mulutnya.
"Iya, makanlah, kayaknya enak, Om minta ya!"
Plak.
"Pesan sendiri lah, ini jatah untuk nanti malam kalau Lala lapar!" sergahnya, Edy mengelus tangannya kok jadi pelit begini sih, biniku. batinnya.
Mau tak mau ia pesan sendiri dengan makanan berbeda. Tak berapa lama makanan itu pun datang sesuai dengan menu buku tersebut. Tapi, bukan Edy mencicipi makanan yang baru datang itu. Malahan Nella malah melahap begini buas. Edy semakin bingung, heran dengan sikap dan tingkah laku istrinya ini.
__ADS_1
Ada apa dengan biniku?