Nella in Action

Nella in Action
Extra Part 3.


__ADS_3

Masih Belum berakhir untuk Edy, meskipun sudah pukul 12 malam juga. Nella dan Rara, sang putri pertamanya berceloteh soal warisan ketika Edy akan pergi jauh. Dalam kurung waktu yang lama akhirnya Edy memutuskan untuk menutup laptopnya, kemudian ikut nimbrung dengan dua manusia bar-bar ini.


"Mama mau yang mana? Biar nanti Papa tidak salah kasih ke orang lain, atau ini saja, Ma?" Rara menunjukkan gambaran kepada Nella.


"Tidak! Mama mau ini, akan lebih bagus sambil jalan ke mana pun cocok," jawabnya kemudian.


Edy berjongkok menatap dua manusia ini? Meskipun apa yang mereka bahas tetap tidak buat dirinya itu tenang. Sebegitu bahagia mereka mementingkan sesuatu daripada dirinya.


"Nanti Papa tidak ada, warisan itu tidak akan Papa bagi ke siapa pun," ucapnya kemudian, dua manusia itu pun menoleh cepat ketika mendengar suara yang menendang..mtelinga mereka berdua.


"Tidak bisa, Pa!" protes Rara cepat. Edy mengangkat satu alisnya, "Kenapa, tidak bisa?" Edy balik bertanya.

__ADS_1


"Tetap saja tidak bisa, walau pun Papa pergi jauh tak akan kembali lagi ke pangkuan Mama. Papa tetap harus menyisihkan warisan kepada kami!" jawab Rara antusias seakan dia mengerti apa yang diucap, padahal masih umur 5 tahun sudah mengerti soal harta gono-gini.


"Hak Papa dong, Papa yang atur. Kalau Papa tidak kasih apa pun bagaimana? Kalau Papa tetap pilih harta warisan ke orang tidak mampu, bagaimana?" cerca Edy tetap bersikeras untuk mengindahkan kalimat kepada putrinya.


Rara langsung menaikkan satu ujung jarinya, lalu menggerakkan ke kanan-kiri. Edy makin lama melihat sikap putrinya semakin pintar saja. Sekiranya siapa mengajari dia seperti, ya? pikir Edy dalam dirinya sendiri.


"Tetap tidak boleh begitu, Papa! Berarti Papa memang sudah tidak sayang dan cinta kepada Rara serta Mama! Bukannya Papa sangat sayang sama Mama? Tentu juga dengan Rara, Rara 'kan putri Papa. Meskipun bukan keluar dari rahim Papa, tetapi keluar dari rahim Mama! Ya, ciptakan Rara di dunia ini siapa?" giliran Rara mempertanyakan kepada Edy.


"Itu! Papa yang ciptakan Rara di dunia ini. Jadi, Papa tetap harus mewariskan harta gono-gini ke Rara. Untuk apa punya kertas surat pernyataan, rumah, tanah, mobil, perusahaan jika salah satu orang tua meninggal. Peninggalan itu harus diberikan oleh salah satu wakil meneruskan tugas-tugasnya. Betul, kan, Ma!" Nella cuma manggut-manggut. Padahal dia sendiri tidak begitu pikir sejauh ini.


Edy sendiri makin bloon diceramahi sama putri sendiri yang masih umur 5 tahun. Apa zaman sekarang otak anak kecil seusia dia sudah berpikiran dewasa seperti ini? Bagaimana nanti diusia 20 tahun nanti, apakah pikiran dia lebih tinggi dari orang genius? Edy ingin pingsan.

__ADS_1


"Bagaimana, Papa? Sudah pikir matang-matang belum? Permintaan terakhir untuk Rara dan Mama, kalau sampai Papa cari seribu bayangan, ucapkan selamat tinggal untuk Mama!" ancam Rara kemudian.


"Eh, eh, enak saja! Papa belum mati! Yang ajari kamu bicara seperti itu siapa?" Rara tanya pada Edy.


"Om Alex!" jawab Rara cepat.


Edy langsung mengingat nama itu, dia merasa tidak terlalu asyik sama nama disebut oleh putrinya. Alex, adik sepupunya yang paling menyebalkan. Edy tidak bisa berkata-kata lagi, membiarkan putri dan istrinya bahagia atas penderitaannya. Biarlah dia mengalah dulu. Lebih baik dia masuk ke kamar, kemudian tidur.


****


maaf ya, kalau pendek. hehee...

__ADS_1


part ini tidak ada lucu. maaf jika bahasa dan penggunaan kata warisan. tidak maksud untuk gimana gimana. saya juga gk gitu tau peraturan. maaf sekali lagi.


__ADS_2