Nella in Action

Nella in Action
Terbongkar


__ADS_3

Hari ini Edy mengambil cuti beberapa hari mengurus persiapan acara pernikahan dirinya dengan cewek barbar ini. Mungkin dengan ini dia bisa mengambil keputusan mencintai cewek barbar itu.



"Om, ini bagus, enggak?" Di ambil gaun pendek selutut tanpa lengan terbuka mungkin.



"Bagus," kata Edy



Edy dan Nella berada di salah satu butik langganan milik kakanya Nella yaitu Luna. Di sana banyak gaun cantik-cantik.



Nella masuk ke ruang ganti mencoba gaun itu. Mudahan cantik sesuai tubuhnya, menunggu satu jam memang lama banget ya, kalau cewek ganti baju. Entah apa yang salah.



Nella keluar dari kamar ganti, gaun yang dia pakai sangatlah praktis dan cantik menawan. Tidak ada yang bisa menandingi kesempurnaan milik dirinya sendiri. Edy sendiri yang tengah membilah baju yang di gantung tempat sana, membuang kebosanan dan kebetean itu.


“Om!” panggil Nella mencolek tiga kali, Edy menoleh sejenak mendelik matanya lebar – lebar sangat sempurna. Kedua kalinya dia melihat sosok bidadari yang ada di depan mata kepala sendiri. Pertama kencan buta dengannya di hotel berbintang lima. Sekarang di ajak untuk memilih gaun untuk pesta pernikahannya.


“Bagaimana? Bagus enggak?” Nella memutar – mutar tubuhnya beberapa kali sehingga gaun yang dia pakai ikut menari.



Senyuman Nella tidak bisa di lepas atau pun menghindar selalu membuat Edy terpaku diam tanpa berkata-kata.


Nella berhenti dari putar – putar tubuhnya, merasa kalau Edy tidak menanggapi penampilannya. Di gembungkan kedua pipi dan bibir bawahnya masuk beberapa senti ke depan mengernyit alis rasanya jengkel pada Edy.


“OM!” panggilnya lebih keras membuyarkan lamunannya. Edy mengedip beberapa dari kelopak matanya.


“Ah iya! Bagus, bagus, kok.” Jadi salah tingkah sendiri, untung di toko butik ini masih sepi, kalau tidak, mungkin rasa malu untuk Edy berlipat ganda.



“Sudahlah, ganti saja!” merenggut si Nella putar tubuh kembali ke kamar ganti, satu cengkaraman dari Edy menghentikan.


__ADS_1


Nella tidak kembali ke tempat ganti. Dia ingin melihat sebentar, karena Edy sudah sering melihat penampilan seorang perempuan mengenakan gaun seperti ini. Tapi ada yang berbeda dari penampilan cewek barbar di depannya. Rasanya Edy benaran ingin Nella memakai terus.



Nella sambil mengerut kening lalu dia bertanya, “Ada apa, Om? Ada yang salah sama penampilan, Lala?”



“Cantik,” jawabnya pelan, buat Nella mencondongkan lebih dekat tidak salah mendengar jawaban dari Edy.



“Tentu, Lala cantik dong, Om. Baru sadar, ya?” Mulai besar kepala si Nella, senang banget kalau Edy memberikan jawaban yaitu Cantik.



•••••



Perjalanan pulang, Nella asyik mengintip bungkusan gaun di pilihnya. Benaran dia enggak sabaran lagi segera menikah. Edy sendiri mengemudi sambil melirik arah kaca depan perhatikan cewek barbar ini, tidak pernah lepas senyumannya. Lama-lama Edy mulai suka sama senyuman bukan orangnya.




“Kamu mau makan apa?” tanya Edy basa – basi.



“Lala mau makan, Om. Bercanda... He he he...” cekikikan Nella bisa saja bercandanya



Edy memutar kedua bola matanya, tidak pengaruh lagi untuk dirinya atas sikap cewek barbar ini bereaksi. Malahan Edy sudah tidak bosan sikap konyolnya itu, malah suasana kehidupannya mulai bersinar terang. Bedanya dengan kekasih lamanya yaitu Jessica. Seperti redupan lampu selalu gelap.



Nella turun dari mobilnya, di dongak kepala sebuah rumah minimalis yang unik, tapi di dalam kafe, kafe yang selalu di kunjungi oleh Edy dan Nella ketika pertama kali mereka bertemu.


__ADS_1


Edy berdiri di samping Nella, tanpa perlu izinkan lagi. Tangan Edy di genggam oleh cewek barbar ini. Degupan jantungnya berdetak cepat, seperti lari beribu kilometer.



“Ayo, Om!” seru Nella melangkah kaki masuk ke dalam.



Tetap tidak pernah berubah, Nella pesan Ice cream lebih dulu. Karena menu utama memang andalannya Ice cream. Sehingga Edy ikut memesan Ice itu.



Tertular dari sikap barbar-nya buat Edy sulit terhindar lagi. Tapi, memang menunggu pesanan datang paling tidak membosankan adalah Ice cream. Tepat cuaca hari ini sangat panas.



"Om, nanti setelah menikah, Lala benaran enggak sabaran cepet hamil." bisiknya pelan. Edy tidak merespons sedang sibuk dengan ponselnya.



Nella mengoceh terus membahas soal kandungan, kehamilan, proses persalinan segalanya. Pesanan mereka pun datang, Nella baru saja habiskan Ice creamnya. Sedangkan Edy bangun dari duduknya terus melangkah ke tempat toilet.



Cukup lama Edy berada di toilet, Nella pun menyusul mencarinya. Ada bayangan punggung dari Edy, Nella baru saja akan menghampirinya. Terdengar suara pertengkaran antara Edy dengan seorang wanita.



"Kamu yakin akan menikahi cewek aneh itu?" pertanyaan dari wanita itu.



"Iya, aku akan menikahinya, kamu tahu dia terus mengejarku, meminta untuk hamilinya," jawab Edy



"Lalu, aku bagaimana? Kita sudah pacaran cukup lama. Aku mengakui ini kesalahanku terhadapmu ketika pergi memiliki selingkuhanku. Tapi, kamu sudah janji kita akan perbaiki semuanya. Sekarang apa? Kamu malah menyetujui menikahi cewek itu yang tidak kamu cintai!"



"Aku menikahinya karena kasihan padanya, bukan maksud apa - apa. Cintaku hanya untuk kamu, Jes!"

__ADS_1



Nella bagai di ambang angin badai, pengakuan Edy bukan tulus menikahinya, tapi hanya kasihan. Nella mengira kalau Edy benar menikahinya atas dasar suka. Tapi kasihan, air matanya jatuh terus menerus. Nella pergi dari kafe itu, dia butuh sendirian.


__ADS_2