
Kembali ke kantor, Nella memilih diam seribu bahasa daripada berbicara dengan Om Edy.
Edy malah biasa saja setelah kembali, hanya ada beberapa pasang mata memperhatikan mereka berdua. Bisik-bisik seperti nyamuk pun terdengar di telinga Nella dan Edy.
Nella memilih naik tangga darurat daripada berdua dengan Om Edy. Baru saja akan melangkah kaki, cekal tangannya menahan Nella untuk pergi dari tempatnya.
Nella mendongak menatap Edy, Edy membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Nella. Kedua mata Nella mendelik lebar, dilirik sekitar lobi tengah melihat mereka berdua.
Edy senyum kemenangan, entah apa yang di bisikkan olehnya. Lebih penting Nella enggak bisa berkata-kata saja deh. Seperti kejadian dua tahun lalu di rumah sakit. Serius atau enggak, tetap bahaya untuk Nella nantinya.
Posisi berada di lift, tangan mereka berdua masih bergenggam erat. Bahagianya untuk Nella berbunga-bunga di dalam dirinya.
Ihh... bahagianya Lala di genggam terus sama Om Edy. - batin Nella dalam hati.
Lift terbuka lebar, Nella akan melangkah untuk keluar. Eh, Edy menarik lengannya menubruk dada bidangnya sendiri. Kaget benar Nella, jantungnya benar tidak bisa berhenti.
"Om... eh... Pak..." Nella asyik salah menyebutkan panggilan Edy.
"Sudah aku bilang, jangan panggil Pak Bos, tapi Om Edy-mu," ucap Edy datar
"Tapi, di sini kantor kalau Lala panggil seperti itu, enggak hati sama yang lain," kata Nella
"Biarkan mereka tahu kalau ada seorang cewek sudah menerobos pintu yang tertutup rapat terbuka kembali. Kamu itu calon istriku, Nella. Jadi ingat yang aku bisikkan. Siap-siap untuk ketika menikah nanti." Senyum Edy mengecup bibir Nella
__ADS_1
Nella seperti orang bego, kenapa lelaki yang di cintai Nella semakin hari, makin mesum. Soal hamil, masih di pegangnya. Padahal Nella dulu memang ingin hamil dari Om Edy. Tapi, sekarang jauh beda, ia lebih suka seperti ini.
"Sekarang giliran aku yang mengejar kamu. Seberapa pun kamu menghindar dariku, tetap aku menangkapmu. Ingat cinta itu buta, seberapa butanya tidak akan bisa mengukur ke pendamkan selama dua tahun ini ku tunggu." Ungkap Edy memberitahukan kepada Nella isi hati sebenarnya
•••••
Nella masih terngiang kata-kata di lift tadi, apa benar Edy mencintainya seperti dulu ia mencintai dan merebut cintanya.
"Aaarrgh! Pusing!" teriak Nella membuat Edy perhatikan dari pantulan kaca hitam itu.
kring... kring...
"Halo, selamat sore dari sekretaris Nella ada yang bisa saya bantu?" sapa Nella lebih dulu, buat seberang sana terdiam.
"La," panggil Edy
"Iya, Pak," sahut Nella
"Hatiku lagi bermasalah, bisa kamu kesini sebentar?"
"Hah? Hati? Kenapa dengan hati Bapak?"
"Tidak tahu, sudah kesini sebentar."
"Eh, tapi, Pak. Saya ada..."
"Sebentar saja, sayang..."
"Iya, iya."
__ADS_1
Nella bangun dari tempat duduknya, di buka pintu kantor Edy, di sana Edy tengah duduk memejamkan matanya.
Sebenarnya Nella bahagia sih bisa injak kantor milik bosnya sendiri. Berasa punya sendiri, kadang Nella sebal juga sama Edy suka-suka menghilang dari hidupnya.
Nella pun mendekati Edy yang tengah tertidur itu. Kalau dari dekat masih sama menurut Nella sendiri.
"Tampan, si Om Edy. Enggak pernah berubah tetap sama. Lala kangen tahu!" gumamnya pelan.
Kedua mata Edy terbuka tiba-tiba buat Nella kaget seketika. Di tarik duduk pangkuannya, memang tidak ada siapa-siapa di kantor ini. Hanya berdua Nella dan Edy. Siapa yang berani menganggu aktivitas bebas seperti ini.
Kedua mata mereka kembali bertemu sekian kali terakhir di rumah sakit, kalau Luna tidak mengatakan sesuatu kepada Edy tentang hubungan serius menikahi Nella. Mungkin sekarang Edy dan cewek barbar ini sudah memiliki seorang putra - putri yang cantik dan tampan.
Karena dua tahun yang lalu usia Nella masih kecil, takut kehidupannya terancam kalau Edy belum siap menerima kehidupan Nella walaupun sudah mempunyai hati untuk cewek barbar ini ada di depannya.
"Eh... Pak..." Nella gugup banget, Edy mendekatkan telinganya mengatakan sesuatu.
"Tapi, Pak... eh... Om..." Nella kehilangan kata - kata. Gugup, degupan jantungnya seperti permainan halilintar dari atas terjun ke bawah.
"Jangan, takut, ini enggak akan sakit," kata Edy senyum menggoda Nella.
"Enggak deh, kalau... menikah... Oke, Lala siap. Sekarang..."
__ADS_1
Tak ada kata lanjutan dari mulut Nella, apa yang terjadi di kantor Edy adalah momen mereka berdua. Edy sudah lama menahan rasa ini untuk cewek barbar yang tergila padanya. Sekarang berpindah posisi Edy akan tergila pada Nella.