
Satu minggu lagi, pernikahan mereka berdua akan di adakan. Sekarang mereka sedang berada di salah satu tempat foto wedding.
Sesuai busana pengantin di pilih oleh Nella dan Edy tersebut. Gaya foto mereka bermacam - macam. Pokoknya background itu sangat bagus bangetlah.
Yang tukang edit fotonya 'kan pintar. Terus Nella bukannya mengganti pakaiannya malahan setia dengan busana itu. Masih sempatnya berpose lucuan di studio.
Tidak mau kalah si Edy, ia pun menunjukkan ekspresi lucu di studio pemotretan. Sehingga kemesraan mereka tidak dapat di hindari lagi.
"Lebih dekat, lagi, lagi, oke tahan ya!" si photographer nya mulai mengambil gambar mereka.
Edy menghadap arah depan sedangkan Nella mencium pipi kanannya dengan Ekspresi perlambatan, bibir di antara mereka berdua bersentuhan.
Sehingga para photographer pun tersenyum mendapatkan gambaran yang sangat bagus banget.
"Ih, Om! Kok malah cium Lala!" Enggak terima si Nella padahal ia ingin mencium pipi nya.
"Cium sama calon istri sendiri enggak apa-apa," balasnya senyum hasil kemenangan.
"Ya, kan, aku mau cium pipinya. Ihh... ternoda lagi!" cemberut si Nella.
Cup❤
"Jangan ngambek, itu ada kamera di mana - mana. Nanti sudah menikah, terserah kamu mau cium di mana saja!" seru Edy meninggalkan tempat itu dengan senyumab terlukis di wajahnya.
Sementara cewek barbar itu terperangah tidak percaya dengan perkataan dari calonnya.
"Yang, benar, Om!" Nella mengejarnya meskipun gaun menganggu aktivitas langkah kakinya.
__ADS_1
•••••
Hari demi hari, Nella sendirian di dalam rumah tanpa ada yang bisa di jadikan lampias maut gilanya.
"Ahh... kangen sama Om Edy!" merengek nya si Nella uring-uringan di kamar.
Teriakannya terdengar oleh Luna ada di luar kamar tersebut setelah meniduri putranya.
"Kamu kenapa, La!" tegur Luna masuk kamarnya.
Nella menoleh dari tidurnya, "Bete!" sahutnya.
"Bete kenapa, sebentar lagi menikah, kok makin aneh saja!" Duduk di sampingnya menarik bantal bentuk pigiun.
"Bete, dong, kak. Masa enggak boleh ketemu dulu sama calonnya. Benaran serasa bertahun-tahun enggak ketemu!" ngomel nya.
"Memang boleh? Tapi enggak boleh lihat tampang muka." tanyanya bangun
"Tapi, kangen, ya bolehlah!"
"Oke deh! Tapi langsung ketemu saja lebih seru. Biar bisa di sayang terus cium-cium. hehehe...."
Sifat Nella enggak pernah berubah masih saja barbar. Tidak heran Edy menjuluki dirinya cewek barbar.
••••
Sementara di kantor, Edy tengah sibuk dengan dokumen, brifing sampai bertemu dengan klien bisnis dari luar negeri.
__ADS_1
Baru saja istirahat sejenak di salah satu kafe Tea Garden.
Tempat favoritenya, ponselnya berdering terpampang foto cewek barbar memegang es krim.
"Halo, Om, ada di mana sekarang?" Belum sempat juga di sapa kata Halo darinya. Sudah main nyosor duluan.
"Ada di..."
"Oke, aku kesana sekarang!"
Lagi, lagi, di potong sama calon istrinya. Tak lama kemudian, Nella menutup kedua matanya Edy. Sontak ia terdiam sebentar. ada rasa dingin di sebelah telinganya.
Nella memang sengaja keluar mencari angin sesuai dengan saran dari Kak Luna. Namun tengah persimpangan dua, dia sempat beli beberapa es krim di sana. Tidak sengaja melihat calon suaminya di kafe tea garden tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam.
"Suprise!" Edy tidak menujukan ekspresi kagetnya.
Nella duduk di sampingnya, menciut cibir padahal ia ingin takuti Omnya.
"Loh, kok di sini?" tanya Edy, "Om, enggak kangen sama Lala? Ih... padahal Lala rela datang ke sini karena kangen loh!" jawabnya sedih
"Kangen, sih. Tapi, kalau begini mana kangen lagi. Kan, beberapa hari lagi sudah sering ketemu." kata Edy
"Itu masih lama, enggak sabar lagi belah dada, Om!" balasnya tak ada rasa malu di depan umum.
"Cup, cup, sudah enggak sabaran ya! Nanti sama - sama belahan ya. Tapi enggak pakai cakar ya!"
"Memang kenapa kalau pakai cakar? Biar ada tato sedikit. Kan bagus, enggak habis biaya." balasnya.
__ADS_1
Para pelanggan ada di dalam kafe ini hanya bisa senyum - senyum diam, mendengar perdebatan antara cewek dan cowok..