
"Lala hitung sampai tiga, kalau, Om tidak menjawab. Berarti Om cuma beri harapan palsu, jika hitungan Lala belum sampai tiga, enggak ada namanya ciuman gratis," lanjut Nella bersuara.
"Satu..."
Nella mulai menghitung, Edy masih menyimak kata-kata dari mulut cewek barbar
"Dua..."
Suara Nella mulai menghitung dengan urutan terakhir, otak Edy masih loading apakah dia sedang lemah otak atau...
"Tiga..."
Nella bangkit dari duduknya, kaki yang ada di pangkuan itu pun biarkan begitu saja. Tidak memedulikan kakinya Edy ber denyutan luar biasa atau segalanya ia tidak mau tahu lagi bagi dirinya.
"Kamu mau kemana?" Di genggam tangan Nella.
"Mau pulang, lah! Kemana lagi? Om saja enggak jawab. Buat apa lagi Nella pertahankan perasaan cinta ke Om, kalau Lala hanya menerima cinta palsu kedua kalinya!" jawabnya melepaskan genggaman tangan Edy.
__ADS_1
Nella pun pergi, ketika Luna baru saja akan memanggil mereka untuk makan bersama. Wajah Nella datar main pergi begitu saja tidak menghiraukan panggilan dari kakaknya sendiri.
"Nella, La, Lala! Ada apa dengan Nella? Berantem lagi?" Luna bertanya pada Edy, Edy-nya malah mengedik bahu.
Nella sudah turun ke lantai dasar menoleh belakang, Ih... kejar Lala kek, apalah. Kok di diami sih! Hu-uh... sebal sama Om Edy. Jadi lelaki kok nggak peka banget! Kesal kalau begini naik taksi pulang, yaa.. keluarin ongkos lagi. Sebal - sebal - sebal. Mengomel Nella dalam hati karena kesal sama Edy.
Edy baru saja menyusul untuk kejar Nella, keburu cewek barbarnya pergi menggunakan taksi pulang. Terpaksalah Edy menyusulnya dari belakang, soalnya dari tadi ia memikirkan sesuatu untuk melamar cewek barbarnya.
Eh.. malah pergi begitu saja, merajuk nya kalau begini susah di baikkan. Nella mengutak-atik ponsel sampai kesal sendiri, si supir taksinya pun terheran sama Nella.
Nella melirik kaca spion depan, sudah bapak-bapak, sih. Tak ada salahnya curhat sama Bapak supir.
"Kesal sama lelaki enggak peka, itu, Pak!" Mulai curhat si Nella.
"Loh, kenapa dengan lelaki. Pacar Eneng?" Supir Taksi asal tebak.
__ADS_1
"Pacar sih, enggak. Cuma kesal saja sih, Pak. Dua tahun aku ungkapin perasaan ke dia, sampai sekarang enggak ada jawaban sama sekali. Padahal ya, Pak. Aku ini sudah serius sama dia, eh, malah mikir aku main-main soal perasaan, pokoknya aku sebal sama dia-lah Pak," kata Nella mencurahkan semua unek-unek ke Supir Taksinya.
"Ya ampun Neng, mungkin saja pacar kamu lagi banyak pikiran atau pekerjaanlah. Biasanya lelaki itu banyak gengsi daripada cewek. Kayak Bapak dulu masih muda, paling gengsi soal perasaan. Sampai istri Bapak mati-matian berjuang dapatin hati saya. Padahal sudah sekian kali menolak. Walau pun Bapak enggak cakep banget kayak jaman sekarang. Kalau memang cinta pun, biarkan saja, nanti juga pacar Eneng mengerti kalau kamu menyuekinya terus." Cerita supir Taksinya beri saran kepada Nella.
"Memang manjur, Pak?" tanya Nella sekali lagi.
"Manjur atau enggaknya tergantung Eneng sendiri," jawab supirnya.
"Sudah sampai, Neng!" sambungnya, "Ah, iya, Pak! Ini.. Uang kembalian kasih bapak saja, anggap sudah beri solusi soal lelaki enggak peka." kata Nella turun dari mobil taksi.
"Terima kasih, Neng! Semangat!"
Nella berputar tubuh 180°c menuju rumah, sebuah mobil yang dari tadi mengikutinya ikut berhenti dan menyusul masuk ke dalam. Nella mulai menyueki Edy apa yang di katakan supir tadi.
"Nella!" Edy memanggilnya tidak di sahuti pakai acara masuk ke dalam.
__ADS_1
Edy pun ikut masuk, tapi sebelum menyusul dia ke dalam. Ada sesuatu di dalam mobil mungkin besok akan di beritahukan kepada cewek barbar itu.