Nella in Action

Nella in Action
Nella Labil


__ADS_3

Bug!



"Aduh... sakit... Lala tabrak tembok raksasa!" pekiknya berkicau setelah apa yang ia tabrak terpental hingga ia jatuh pantatnya mencium lantai yang rata dan keras itu.



"Are you Okay?" terdengar suara khas berat berelegan itu membuat Nella mendongak kepala, mendelik bulat-bulat kedua bola matanya.



Ya Tuhan. . . . ini mimpi bukan? Aku ketemu prigan yang amat di idamkan. Ini benaran nyata, kan? batin Nella dalam hatinya.



"Hello, hei, Nona..." suara khas bicaranya jauh retan banget ucapannya.



"Nella, kamu enggak apa-apa, kan? Mana yang sakit?" Edy mendekatinya, benaran ini istrinya ceroboh banget. Untung nggak ada yang terluka.



Edy berdiri meminta maaf kepada pria yang setara tinggi dengannya. Untung saja pria itu tidak merasa di rugikan, ia hanya takut wanita yang di tabrak tadi membuatnya sedikit shock.



Kedua mata Nella masih tertuju arah prigan itu. Masih belum tersadar dengan apa yang ia lihat, ini benaran nyata banget. Prigan yang sudah lama di incarnya.



"Om, cubit tangan Lala," ucapnya bergurau pelan arah pandangan masih tertuju sama prigan yang mengambil kunci penginapan.


__ADS_1


"Hah? maksudnya?"



"Cubit tangan Lala!" serunya.



Edy sangat ragu untuk mencubit nya takut istri barbar ini mengamuk kalau ia mencubit terlalu kuat.



"Auw! Sakit, Om! Kok cubit nya kayak kepiting!" di pukul bahu suaminya. Tangannya sendiri memerah cubitan darinya.



"Katanya suruh cubit, ya sudah aku cubit." cemberut nya.




****



Pada sorenya, di kamar penginapan hotel Paris. Edy di buat sama istri barbar-nya sampai pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa, karena wanita itu merengek minta temui pria yang tadi dia tabrak pas keluar dari lobi.



"Pokoknya Lala mau ketemu prigan! Harus! Om, cari dong! Kan, Lala mau elus-elus mukanya, ya, ya, Om..." Dengan jurus wajah memeras, memohon dan meminta suaminya menuruti keinginannya.



"Mau cari di mana? Elus apaan? Kamu bisa elus pipi suamimu sendiri. Memang seganteng apa sih dia sampai kamu mau temui itu pria?!" Sabar Edy, ini cobaan apa dari istri barbar-mu.

__ADS_1



Nella membuang mukanya ke arah jendela tepat menara Eiffel, bibir bawahnya maju ke depan beberapa senti sedangkan bibir tipis atas menciut kedalam. Kedua pipinya menggembung, secara jurus cemberut nya.


Edy menghela napas, ia bingung kenapa ini bininya jadi aneh begitu, padahal tadi pagi biasa saja, enggak ada yang aneh hanya perdebatan bodoh. Ya, ia mengerti kalau Nella hanya mengelabuinya segala cara jurusan barbar itu. Tetap, Edy sabar menghadapi kalau bukan karena cinta sama wanita aneh ada di sampingnya.



"Ya sudah, nanti kita cari sama-sama, ya. Sekarang kita mandi dulu ya." bujuknya sekali lagi  terus menggombali maut.



"Mandi? Mandi barengan? Ogah! Kalau mandi sama prigan tadi, aku mau," senyumnya bikin bulu kudu Edy menggelinding ngeri.



"ENGGAK BOLEH!" bentak Edy tersentak kaget si Nella dengan suara meninggi dari suaminya.



Edy terdiam bukan maksud bentak cuma kesal saja sama sikap aneh istrinya ini. Kedua mata manik hitam milik Nella,  berkaca-kaca, hidungnya muncul warna merah muda. Edy jadi serba salah, istrinya mau nangis.



"Aduh... cup... cup... jangan nangis, nanti Om cari, kan, prigan tadi, ya!" Sebenarnya Edy nggak pintar bujuk wanita. Terlalu kaku. Daripada dia menangis bikin penginapan ini gempa karena suaranya. Mau tak mau mengiyakan saja permintaanya. Demi istri.



"Benar, Om! Sekalian tidur di samping Lala, kalau nggak bawa pulang biar nanti Lala kasih tau ke Om Roy sama Kak Alex kalau aku sudah bawa ponakan cakep kayak Gao Wei Guang." celotehnya.



Apa daya sang suami bisa membatu mendengar celotehan dari istri barbar ini. Tadi pagi dia salah makan apa?


__ADS_1


Ya Tuhan... Sadarkah istri hambaKu bini!


__ADS_2