
Akhirnya pulang juga untuk Nella, ia bersiap-siap untuk membereskan barang dari meja dan menyusun dengan rapi.
"Yes! pulang!" semangat banget untuk Nella kalau waktu jam pulang.
"Nella," suara paling amat di sebalin oleh Nella sendiri.
Edy memanggilnya, benaran tidak bisa berikan Nella sedikit waktu lengang untuk pulang.
"Iya, Pak, eh, Om," sahut Nella.
"Kamu pulang naik, apa?" tanya Edy
"Naik motor," jawab Nella
"Motor?"
"Iya, motor yang punya kaki dua terus saat di start larinya cepat daripada larinya kijang sama panters!"
Edy sampai bengong dengar penjelasan Nella. Ia kira Nella sudah berubah, ternyata ciuman panas dari Edy ampuh juga bisa kembalikan barbar nya itu.
"Ikut, Om, sebentar yuk!"
"Mau kemana? Aku mau pulang, enggak bisa, jadwal hari ini lihat ponakan lucu!" tolak Nella halus.
"Ini Om mau lihat Marchello juga, dia lagi di mall mandi bola."
"Ah! Masa sih?! Enggak boleh bohong, nanti jodoh kabur, loh."
"Kabur bagaimana? Jodohku ada di sini juga."
Nella tidak bisa menjawab, ah, Om ini bisa saja gombalnya. batin Nella senang.
"Sudah, yuk! Apa perlu aku gendong kamu sampai lobi? Tidak masalah." Edy mulai lagi...
"Enggak! aku bisa jalan sendiri, tapi, gimana dengan motor matic Lala?" tanyanya berhenti melangkah kaki.
__ADS_1
"Titip di sini tidak masalah, enggak ada yang ambil motor buntut kamu, kok," jawab Edy
"Sembarangan saja motor buntut. Itu aku beli dengan hasil kerja selama dua tahun ini, ya! jangan mentang situ punya segalanya." Menggomel Nella tidak terima
"Makanya aku minta terima lamaranku, kamu enggak mau!" balasnya
"Siapa yang enggak mau terima, Om sendiri pakai hilang segala waktu Lala keluar dari rumah sakit. Om, yang enggak jelas, PHP-in, kecewain Lala mulu. Sekarang Lala enggak mau lagi terima harapan palsu dari Om!" Panjang lebar Nella mengungkapkan semua rasa kesal pada Edy
Edy tahu ini kesalahannya ia juga tidak bisa menjelaskan sebagaimana benarnya. Ia lakukan ini juga demi kepribadian cewek barbar mengerti jika pernikahan itu tidaklah main-main. Untuk pernikahan atau pun hamil tetap ia genggam janji itupada dirinya sendiri.
Dua tahun yang lalu adalah dimana Luna mengatakan biarkan Nella menyelesaikan kuliahnya lebih dulu, setelah dia telah dewasa nanti baru akan di bicarakan lebih serius. Edy tentu menuruti semua kata-kata dari Luna. Memang ada benarnya jika ia menuggu sampai Nella benar serius dengan ucapan barbarnya itu.
"Cepatan, Om! Pegal nih kaki Lala!" teriak Nella tidak ia peduliin lagi sama orang yang keluar masuk dari lobi gedung hotel itu.
"Iya, bawel!" ketus Edy, "Bawel, karena Om juga." Balasnya
Edy rtidak menanggapinya lagi, biarkan Nella seperti ini. Memarahinya sesuka hati, tidak sulit juga mengembalikan sifat lugu Nella walaupun ia harus rela memgeluarkan otak mesumnya.
"Om, kesana sebentar!" pinta Nella
"Untuk apa?" tanya Edy lagi macet juga di jalan.
"Sebentar doang! Cepat Om, keburu pergi penjualnya!" desak Nella memukul lengan Edy sedang mengemudi
Kalau sudah kumat barbar Nella tidak akan ada lagi yang bisa membantah atau melawan kalau tidak mau dapat omelan panjang dari Nella sendiri. Edy pun terpaksa memutar arah berlawanan semoga tidak polisi, jika pun ada, paling mendapat surat cinta dari pak polisi.
Priiittt...! Priiit...!
Oh-Oh... Polisi datang menyuruh Edy menepi, terpaksa deh. Nella diam seribu bahasa duduk manis anggap tidak tahu menahu, pembalasan dari Nella baru saja di mulai. Soalnya ini adalah kesengajaan dari ia sendiri supaya bisa lihat Pak polisi ganteng. Lumayan cuci mata katanya, hehehe...
"Selamat sore, Pak. Bisa tunjukkan SIM dan STNK-nya," ucap Pak Polisi berseragam coklat, Edy mengeluarkan apa yang di minta oleh polisi tersebut.
"Hai, Pak Polisi!" sapa Nella membuka jendela di samping berdiri seorang polisi yang lumayan ganteng tengah memantau melakukan aktivitas lalu lintas yang padat.
__ADS_1
Polisi itu hanya senyum pada Nella, ia tentu senang dong, malahan si Edy sudah muka menrenggut cewek barbarnya kumat lagi.
"Pak Polisi, namanya siapa? kalau misalkan aku di tilang, Pak polisi mau enggak menilangi hati Lala??" Gombal Nella mulai bereaksi
Polisinya senyum-senyum saja tidak berani menanggapi gombalan Nella, ia berjuang agar polisinya respon. Biar Edy cemburu sama Pak Polisi.
"Pak, boleh minta tolong Lala, enggak? bantu nyebrangi Lala ke sana dong!"
Nella buka pintu mobil terus turun dari sana, Pak polisi itu yang berseragam jaket hijau membantu menyeberangi Nella di tempat penjual eskrim itu. Edy perhatikan dari jauh tingkah cewek barbarnya benar harus segera dia ikat biar enggak sembarangan gombalin orang.
"Terima kasih, Pak Polisi. Oh ya, ini untuk Bapak, cuaca lagi panas walaupun sudah sore tetap saja tenggorokan perlu di ademkan seperti hati Lala mengademkan rasa mangga, Ah ciyeeee... Jangan kesemsem, Pak. Nanti jatuh sulit aku menangkapnya." Gila gombalan Nella benaran bikin Pak Polisi lalu lintas merah tomat.
Edy sedari tadi diam muka datar, dingin, terus cemburunya sudah terlihat setir pengemudi pun sampai bersuara sakit di remas. Nella malah asyik memakan eskrim tidak membagikan kepada Edy. Dia sabar menghadapi cewek barbarnya, sebentar lagi dia akan membuat Nella tidak bisa lari lagi.
"Om, mau?" Nella menawarkan kepada Edy
Dia baru saja akan menerima malah di tarik kembali oleh Nella, Edy gondok sama cewek barbar ini.
"Beli sendiri, lah, ini mau di simpan untuk Pak Polisi besok. Soalnya kasihan dia pagi kerja sampai malam cuma urusi jalanan macet," lanjut Nella berceloteh
Ciiiittt...!
Mobil Edy mendadak berhenti buat Nella tercondong kedepan, "Kyaa...! Om, ini kenapa---"
Kaget bukan karena shock, Edy sudah cemburu tingkat dewa asyik Polisi saja yang di bahas, tidak peduli lagi orang lewat dengan ciuman panas membara itu. Nah, si Nella-nya memegang eskrim belum habis itu meleleh dan mencair di sana.
"Jangan pernah bahas polisi lagi, aku ini Om Edy-mu satu-satunya. Mengerti!" tegas Edy terlunaskan ciuman panasnya
Nella mengambil kesimpulan, "Ciyee... Om cemburu ya sama Pak Polisi tadi?" goda Nella
" Enggak, siapa yang cemburu," elaknya si Edy
"Ah, masa sih? Kalau enggak cemburu kok pakai cium terus. Begini ya, Om. Lala pernah baca di novel-novel kalau lelaki yang cemburu itu paling sensitif sama lelaki lain yang lebih ganteng atau sebagainya. Terus lelaki si A ini bakalan melampiaskan dengan ciuman mautnya agar cewek ini memahami kalau lelaki si A lagi cemburu habis, seperti Om sekarang ini." Panjang lebar si Nella menjelaskan.
__ADS_1
Edy membuang muka lalu menjalankan mobilnya kembali, Nella masih mengoceh soal ciri-ciri cemburu dari lelaki kepada ceweknya. Edy milih diam membiarkan cewek barbarnya mengoceh hingga tempat di kunjungi pun telah sampai.