
Gara-gara bar-barnya anak dan istri, Edy pun memilih untuk diam seribu bahasa. Untuk keberangkatan jalan-jalan terpaksa dia tunda dulu sampai semua normal kembali. Di rumah lagi ramai, saudara adiknya datang jadi akan semakin berisik. Apalagi Alex, yang tidak pernah bisa diam.
"Halooo, kami pulaaangg!" teriak Alex dengan kedua tangan membawa beberapa tas belanjaan tinggi-tinggi. Luna hanya menggeleng-geleng lihat sikap suaminya.
Kemudian Marcello yang berusia 12 tahun dengan santai duduk di teras depan rumah Nella sambil memainkan ponsel canggih tersebut. Rara, gadis kecil yang berusia 5 tahun itu turun dari kamar miliknya, dengan gaya ala superhero, Nella yang sedang di dapur memasak buat satu keluarga besar.
Masih ada sisa 2 anak tangga Rara langsung melompat bebas membuat Edy yang baru keluar dari kamar juga menyusul, hampir jantungan melihat sikap putri tunggalnya itu.
"OOOMM ALEEEXXX!!!" teriak Rara dengan kedua tangan merentang sangat lebar, Alex pun menurunkan belanjaan dan melebar juga dengan kedua tangan lebar-lebar buat siap memeluk keponakan imut dan lucu itu.
Tetapi bukan Rara namanya, dia meneriaki Alex tetapi bukan pelukan arah Alex malahan pelukan ke tempat Luna. Luna dengan cepat mengangkat tubuh mungil itu begitu mengemaskan. Alex kecewa, Edy langsung ketawa namun sesuatu tidak memihak padanya, dia tidak melihat anak tangga satu lagi di depan matanya. Jadinya Edy tergelincir jatuh, membuat bagian belakang terbentur sangat kuat.
__ADS_1
Rara, Luna, Alex, dan Nella berpaling menatap suara hantaman keras itu. Edy terduduk tak berdaya, di dalam rumah ini tercegah akan insiden menimpah Edy. Edy menatap keempat orang di depannya, dengan wajah tegang kemudian....
"BRUAHAHAHAHA!" semua tertawa bersamaan entah hari apa membuat suasana semakin bahagia ini. Ingin bersedih, seperti berkabuh, ingin tertawa terlalu kejam, jadinya mereka tertawa saja bersamaan.
"Aduh, maaf ya, Papa," Rara jadi tidak tega lihat Edy keadaan begini.
Alex duduk sambil ngopi dengan Edy, sejak menikah dengan Luna, Alex jarang sekali berlibur ke rumah Edy apalagi untuk kumpul begini. Kesibukan dia jauh diutamakan, bahkan Marchello saja sampai harus di tinggal sendiri. Tapi masih bersyukur Edy mau menampungnya. Kadang otaknya itu perlu di kondisikan.
Edy menyeruput kopi buatan istrinya, Edy cuma menggeleng pelan, seperti tidak punya harapan untuk bisa punya anak ke dua.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Untuk menikmati berdua saja sulit sekali, kamu macam tidak tahu saja tingkah absurd putriku itu? Tak ada bedanya dengan absurd istriku," kata Edy, Alex paham. Sangat paham banget.
"Katamu mau honeymoon lagi sama Nella, jadi?" Edy menggeleng lemas.
"Kenapa?" Alex penasaran,
Rara main masuk ke pembicaraan orang dewasa, "Om, jangan menghasut Papa Rara, ya! Masa Om tega biarin Rara sebatang karang?!" cibir Rara buat Alex kebingungan atas cibiran keponakannya.
"Maksudnya?"
"Papa kan mau dinas, masa dia tega ngebiarin Rara sama Mama di rumah, ya enaknya di Papa. Kalau nanti Papa ketemu seribu bayangan, siapa dong yang nafkahi Rara sama Mama?" terang Rara pada Alex.
__ADS_1
Marchello pun ikut gabung dan menjelaskan kepada Alex. "Gini loh, Pa. Maksud Rara itu, Om Edy mau dinas takut Om Edy selingkuh, dan telantari anak dan istri di sini. Terus Om Edy main pergi gak pulang-pulang lagi gitu,"