
Berjalan iring waktu, Nella dan Edy menuju arah tempat permainan - mandi bola. Nella mengira Edy berbohong padanya hanya untuk merencanakan jalan berdua, malahan Nella oke saja, syukur bisa jalan berdua dengan lelaki tampan. Ah, tetap saja sama, tidak ada berubah dunia ini. Meskipun sudah dua tahun tetap saja sepasang mata pada melirik Edy tanpa kedip sedikit pun.
Kadang sebal juga untuk Nella sendiri. Dia juga cantik banyak kok sepasang mata para cowok di mall ini lirik dirinya, ada juga yang sudah beristri, pacaran, tunangan pun bola matanya tidak bisa lepas dari satu orang yaitu Nella sendiri.
"Om, ke sana sebentar, yuk! Lapar nih!" tunjuk Nella salah satu makanan Jepang.
"Nanti saja, tapi, kamu mau lihat Marchello?" ucapnya menunda makanan Jepang.
Edy tahu, kenapa ia menolak ajakan dari cewek barbar ini. Karena di tempat makanan Jepang itu bukan karena cita rasa enaknya malahan banyak para cowok cakep di dalam sana. Tidak mungkin dong Edy panas dingin termakan cemburu kayak tadi hanya lihat tingkah cewek barbar dekat sama cowok lain.
Bisa-bisa reputasi sebagai CEO & direktur perhotelan tercemar nama baik di publik.
"Ya sudah, Om, kesana saja sendiri, Lala mau makan saja!" cicit Nella melangkah pergi tidak di hiraukan Edy yang mencoba menahannya.
Mau tak mau Edy ikut menyusul daripada cewek barbarnya di colek sama cowok ABG. Bahaya bisa melayang masuk rumah sakit.
Tatapan Nella melirik salah satu cowok yang pendiam terus cool banget. Benaran type idaman Nella, tapi ada yang lebih aneh lagi, itu muka sangat familiar banget untuk Nella seorang.
Ia bangkit dari duduknya terus mendekati meja itu. Edy menoleh belakang mengebor kemana pun cewek barbar ini pergi.
__ADS_1
"Toni? Kok sendirian?" sapa Nella sangat familiar banget dengan orang itu, Toni bagian manager accounting.
"Iya, kamu sendiri? Sendirian juga?" tanya balik Toni, wajahnya berseri kalau benaran Nella sendirian datang ke mall ini.
"Tidak, dia sama saya datang." Edy bersuara sebelum Nella menjawab.
Wajah Toni yang cerah kembali redup mendongak kepala di temukan sosok yang tidak bisa di tandingnya Bos sendiri.
"Eh, Pak Bos juga di sini. Kalian berdua?" Toni semakin penasaran dengan hubungan Nella dan Edy.
"Kebetulan jumpa di basemen tadi," jawab Nella tidak berikan untuk Om Edy bersuara.
"Oh, aku kira kalian pacaran, soalnya tadi siang pas mau ajak kamu makan bareng. Kalian terlihat akrab banget. Seperti sudah lama kenalnya," ucap Toni
"Enggak kok, dia saja sok kenal sok dekat. Kenal saja baru tadi siang pas aku pindah posisi. Mungkin dia naksir aku kali, makanya akrab banget, iya, kan, Om... eh, Pak!" Nella melirik Edy yang sudah merah menahan rasa sakit jari kakinya.
"I-iya!"
•••••
__ADS_1
Di salah satu tempat mainan anak-anak, Nella mengobati luka kaki Edy yang tidak sengaja menginjak terlalu kuat.
"Sakit, Om?" tanya Nella secara hati-hati berikan obat salep itu. bengkak kebiruan, sebenarnya Nella enggak tega kalau tidak di begini kan, gosip hangat akan tersebar luas nantinya.
"Sakit dong, Lala. Ini lebih sakit daripada sakit gigi sama sakit hati!" Kata-kata itu lagi yang pernah Nella dengar.
"Maaf kalau gitu, salah Om sendiri sih, pakai bilang datang berdua. Om enggak tahu apa, kalau Toni itu suka sama Lala. Karena Lala masih cinta banget sama Om, makanya Lala tolak terus perasaannya itu. Sadis, kan, makanya Om jangan buat hati Lala terluka lagi! Masih kurang Lala buktikan cinta ke Om selama dua tahun?" Selesai di obati, Nella mengoceh panjang lebar tertekun oleh Edy saat mendengar ungkapan isi hati cewek barbar ini.
"Om sekarang enggak usah bohong sama Lala, sebenarnya Om mulai cinta sama Lala, hanya di tutupi sampai sekarang. Apa yang Kak Luna katakan ke Om waktu di rumah sakit dua tahun yang lalu itu, memang Lala tidak mendengar pembicaraan kalian berdua. Tapi hati Lala tahu bahwasannya Om ini tidak rela harus pisah sama Lala. Awalnya Lala juga kecewa sama Om, main hilang begitu saja dengan alasan tidak mempunyai perasaan apa pun. Ya, itu, Lala bisa menerima. Tapi dari mata Om sendiri tidak bisa membohongi Lala." Panjang lebar Nella menceritakan semua yang ia tahu selama dua tahun itu.
Edy diam mencerna semua perkataan dari cewek barbar ini. Semuanya benar, ia tidak bisa pisah dengan cewek barbar ini. Ia sendiri heran pada dirinya, dua tahun itu memang lama, tetap saja hati ini sulit berpindah lagi. Menunggu kedewasaan Nella pun terbukti oleh Edy.
"Jadi, Lala siap menerima semuanya, Lala siap menikah dengan Om Edy-ku. Sekali lagi Lala tanya ke Om. Nella ingin hamil dari Om, apa Om mau?" Tatapan pertama kali Nella meminta kepada Edy
Sama seperti pertama di mall makan es krim berdua dan di sini juga Nella meminta hal aneh kepada Edy. Sekarang Nella kembali menanyakan hal yang sama tempat ini juga.
Kedua mata mereka bertatapan intens tanah berkedip sekali pun. Orang yang lewat lalu lalang seperti waktu hanya milik mereka berdua.
Keseriusan mereka ini telah di mulai, Nella tidak bermain dengan kata-kata nya. Dia telah siap, cinta yang selama ia berjuang mendapatkan Edy, sekarang tumbuh menjadi dunia Kedua.
__ADS_1