
Hari pernikahan telah tiba... uh uh... si Nella sudah menanti sekian lama. Bayangkan bagaimana ketika mereka berdua di pelaminan. Begitu mengesankan. Nella seperti putri dari langit turun ke bumi demi menaburkan bunga untuk para tamu - tamu ada outdoor salah satu Chakra yang terhias dengan bunga.
Tidak bisa bayangi lagi, sekarang Nella sedang berdiri di salah satu tempat, menanti seseorang untuk melihat penampilannya. Betapa malunya ia atau saking bahagia sehingga kedua pipinya semakin memerah terlalu bahagia, kah?
Luna mengena gaun panjang terbuka perlihatkan kedua bahunya, menemani Sang adik tercinta ke sebuah altar persucian. Sementara Edy, tengah persiapan pakaiannya dengan serapi dan setampan mungkin di bantu oleh beberapa mempelai tersebut.
"Kak, gugup nih!" Benaran seluruh tangannya dingin, meja hijau saja tidak segugup ini. Kenapa di hari pernikahannya saja sudah seperti di introgasi sama polisi cinta sih.
"Santai saja, lagi, tidak ada yang memakan dirimu." kata Luna merapikan rambutnya Nella.
"Tapi, benaran ini seperti di introgasi sama Polisi cinta. Meja hijau saja enggak segugup ini. Rasanya bagaimana, nih!" celoteh Nella menatap arah pantulan cermin benar sangat berbeda.
Impian menikah dengan Om Edy pun terwujud juga. Masalahnya debaran jantungnya benaran berdetak sangat kuat dan hampir ingin melompat keluar dari akar-akarnya.
"Ekhem!" suara deheman membuat Nella mati kutu.
Edy tengah berdiri di salah satu pintu kamar di mana pengantin wanita tengah duduk merapikan wajahnya dan rambut itu.

Ya Tuhan... dia ganteng banget! Please deh, Om... jangan seperti itu ekspresinya. Haduuh... mukaku panas, panas, banget!
Nella mengipas wajahnya dengan tangannya. Luna pergi meninggalkan mereka berdua di tempat ini. Nella ingin menghentikan kakaknya untuk pergi.
Edy masuk dari arah pantulan cermin itu, Nella menunduk, benaran ini muka seperti kepiting rebus.
"Kamu cantik banget! Mirip tomat, rasanya pengin di cicipi." bisik Edy, sedikit terdengar lebih jelasdl di telinga cewek barbar ini.
Di angkat kepalanya, jarak wajah mereka berdua hanya sejangkal saja. Napas Nella tertahan, kedua bola matanya membulat lebar. Edy senyum semanis, berhasil buat cewek barbar ini tidak berkutik sedikit pun.
Tidak sabaran ia membelah duriannya. Otak mesumnya mulai keluar. Bagaimana malam pertama ekspresi calon istrinya yang sebentar lagi menjadi bagian hidupnya.
"Om! tolong, ya! Jangan mikir aneh-aneh dulu!" Nella bersuara, mengipas-ngipasi atas kepala dengan Edy tengah membayangi malam pertama.
"Aku sudah tidak sabaran membelah dirimu!" Tawaan Edy seperti iblis gila, keluar dari kamar itu kemudian di susul oleh Nella.
"Sebelum Om, belah Lala, aku lebih dulu membelah dirimu!" balasnya keluar dengan langkah kaki teramat ribet ini.
••••
"Huh! Selesai juga!" Nella menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur ukuran besar itu.
__ADS_1
Edy membuka bajunya karena terlalu gerah dan berkeringat. Pernikahan telah selesai, Nella sudah resmi menjadi istrinya.
Ketika di acara pernikahan mereka, Nella bagaikan burung di dalam sangkar, duduk diam, senyum dan tidak bisa bergerak sedikit pun. Tapi ada satu hal yang buat Edy tepok jidat, pada saat menjamu para tamu di gedung tersebut.
Nella keluyuran menghampiri para cowok muda di sana. Kadang buat Edy cemburu full.
"Om, mau ngapain?" tanya Nella masih saja panggilan "Om" padahal sudah resmi jadi istri.
"Buka baju," jawabnya santai.
"Tunggu - tunggu," Nella bangun dari tempat tidurnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Edy perhatikan istrinya ini.
"Mau keluar, tapi, Om lagi buka baju, kan. Jadi untuk apa Lala di sini." jawabnya makin di bingungkan oleh Edy sendiri.
"Buat apa, keluar? Di sini saja, katanya mau bantu sobekin kotak-kotak." kata Edy sudah duduk di lantai.
"Tapi...."
Sementara di luar kamar mereka, Alex dan Luna. Kemudian ada sanak saudara masih belum pulang. Mereka tengah bercengkerama sesuatu.
"Om! Sabar! Nanti dulu... huss... jangan dekat! Tutup enggak....!" teriak Nella histeris.
"Apa yang di tutup!" balasnya si Edy
"Itunya, tutup! Huaaa... ternoda mataku!"
"Apanya ternoda! Kamu ini, cepatan, sudah sesak nih!"
"Enggak! tutup enggak!"
"Iya, nanti aku tutup, cepat ke sini sebentar!"
Para tamu ada di bawah terdiam memasang telinga masing-masing. Mereka teriakan Nella dan Edy bikin seluruh tubuh mereka ada di sini panas dingin.
"Malam pertama saja, harus seheboh ini, ya. Kamu Alex waktu sama Luna malam pertama juga begini?" tanya Della, tante dari ibunya Alex.
"Enggak, tante. Mana ada. Kalau pengantin baru seperti mereka sudah wajarlah, biar tahu kalau malam pertama cari sensasi panas dingin." jawab Alex mengasal,
Kembali terdengar lagi, di luar kamar mereka.
__ADS_1
"Akh! Sakit, Om! pelan! hiks!" teriak dalam tangisan.
"Iya, sabar, belum juga apa-apa!" balasnya si Edy
"Aaakh! Jangan kuat-kuat!" histeris tak tertolong heboh di malam pertama.
"Iya, bawel banget sih! Diam, sudahan!"
"Kayak mana diam, anu, Om! Hiks! sakit... hiks..."
Padahal asli di dalam kamar mereka tengah Nella sulit melepaskan pakaian pelangsingnya saat acara pernikahan. Gara-gara kemarin Edy memaksa dirinya menghabiskan makanan manisan di restoran tersebut. Karena perutnya melar jadi terpaksa ia harus memakai pelangsing itu biar seimbang dengan gaun pengantin.
Edy malah sulit melepaskan ikatan kain itu. Siapa mengikat sampai sebegitu kencangnya.
"Bagaimana, Om?" tanya Nella masih posisi membelakangi Edy
"Sulit banget! Potong saja, ya!" Edy mencari gunting agar mudah di buka kain itu.
"Jangan Om! Sayang, sudah beli mahal-mahal. Masa di potong! Enggak kasihan sama itunya!" Apaan sih Nella.
"Daripada aku sesak lihat dirimu tidak berdaya!"
"Please, Om... Jangan... hiks! Itu tajam, sakit loh, Om!"
"Masih mending tahan sakit daripada menderita karena sesak! Sudah kamu diam saja!"
Edy mulai memotong satu persatu kain itu dari tubuh Nella.
"Tahan sedikit ya!" Nella menarik napas agar bisa bebas dari kain penyiksaan itu.
Satu jam kemudian, akhirnya terbebas juga dari penyiksaan sangat mendalam. Terhempas tubuh mereka, karena berkeringatan.
Nella masuk ke kamar mandi untuk bersihkan diri, setelah itu baru deh tidur. Terkuras habis tenaganya.
Namun tanpa sepengetahuan Nella, Edy telah mengekori istrinya dari belakang.
"Om, mau ngapain!" tanya Nella histeris.
"Mau, mandi!" jawabnya.
"Man-mandi? Bukannya, Om sudah mandi!"
"Mandi lagi, sekalian belah durian!"
Nella membulatkan kedua matanya membekap mulut tidak bisa berkata-kata. Tidak dapat lagi larikan diri dari tempat itu.
"OM EDY! SEBENTAR! KYAAA...!" Histeris kali ini bikin telinga di luar menutup dan pura - pura tidak mendengar.
"Kita taruhan, Nella pasti hamil dalam waktu dua minggu," ucap Alex.
"Menurutku satu minggu!" balas Roy
__ADS_1
Malahan keluarga Kusuma memainkan pertaruhan kapan Nella hamil cepat. Benaran deritamu Nella.