Nella in Action

Nella in Action
Berdebatan tak penting


__ADS_3

Malam minggu, adalah hari yang di tunggu oleh sepasang kekasih, suami-istri, remaja, binatang, dan sebagainya.



Bagi yang jomblo jangan berkecil hati, tetap bisa malam minggu di temani oleh para nyamuk betina, ada juga malam yang dingin di guyur oleh derasnya hujan. Tidak akan yang bisa menganggu kehidupan untuk seorang jomblowan atau pun jomblowati.



"Om, Om Edy!" Nella masuk kekamarnya tanpa mengetuk pintu sama sekali.



Kalau posisi Edy sedang berganti baju, apa yang akan terjadi untuk Nella dengan dua bola matanya itu. Enggak bisa bayangi deh.



Untung Edy masih molor di tempat tidur di tutupi oleh selimut tebal yang lembut itu. Posisinya melengkung seperti bayi baru lahir.



"Om, bangun, Om Edy!" Nella duduk di tepi tempat tidur sisi kiri menggoyangkan bahu Edy.



Tidak ada respons darinya, nyenyak banget tidurnya, kayak babi jangan. Nella masih belum menyerah, ia terus membangunkan calon suaminya dengan cara apa pun.



Hanya satu cara yang bisa buat Edy terbangun, adalah dengan membisikkan di telinganya, soalnya posisinya itu menghadap jendela yang ditutupi golden warna coklat.



Hanya tiga detik saja, kelopak mata Edy keduanya terbuka lebar, Nella menjauhi telinganya dan menatap calon suami itu saksama.



"Benarkah?" semangat Edy bangkit kembali ketika bisikan dari cewek barbar sekaligus calon istrinya semakin percaya diri.



Nella mengangguk kecil dengan ekspresi polos. Dia pun bangkit dari tidurnya segera turun. Langsung masuk ke kamar mandi, Nella sendiri ******** senyum dengan tingkah konyol si Om Edy-nya.



Lima belas menit kemudian, keluar juga sosok tubuh yang benar ingin di elus - elus tanpa henti. Kotak-kotak kayak kardus, bukan, roti di potong beberapa bagian.



Kedua pipi Nella merah merona seketika, itu kok enggak di tutupi sih. Edy malah santai melangkah kaki mengambil baju di lemari, rasanya ia butuh udara dingin. Di tekan remote control AC suhu sudah batas 16°c.



"Kok, di sini makin panas, ya, Om! ini remote control-nya rusak apa habis baterai, ya?" ucapnya gugup, terus memencet remote sampai gemetaran.



Edy selesai memakai bajunya dan handuk melekat di pinggangnya ternyata sudah di tutupi oleh celana pendek selutut. Ia pun menghampiri cewek barbar ini yang dari tadi mengomel enggak jelas itu.



"Apanya rusak? Ini sudah dingin banget, loh!" Di sentuh kedua pipi Nella, blussh! padam rasa panas membakar itu kembali adem saat tangan Edy menghangatkannya.


"Kok, tangan Om, dingin? Apa jangan-jangan Om, manusia salju? Berarti aku manusia api. Kalau di satukan, rasanya semakin cinta yang mendalam, deh!" Gombalnya Nella makin aneh saja di pagi hari.



"Seperti ini."



Edy pakai acara nyosor mulu, bikin jiwa cewek bar-bar ini terlepas dari tubuhnya. Kenapa sih, memilih lelaki super mesum dan bikin hati Nella tergeplek-geplek kayak  ikan pare turun ke daratan.



"Morning Kiss," senyuman dari Edy.


Nella tak dapat berkata-kata lagi, rasanya ini pengin lenyap saja.



"Kok bengong? bingung sama Morning kiss-nya? Nanti juga terbiasa kalau sudah menikah, apa mau lagi?"



Nella hanya menatap bibirnya Edy bergerak kiri-kanan, atas-bawah. Seperti membaca mantra kitab suci dari Tong Sam Chong. Telinganya pun tidak berfungsi, suara dari Om Edy tidak terdengar lagi.



Ini kenapa sih? Om, ngomong apa coba? Enggak kedengaran. Kok, arwahku kurang satu.

__ADS_1



"La, Nella," tangan Edy melambaikan depan wajah cewek barbar ini.



Nella mengedip beberapa kali pada kelopak matanya.



"Ah, apa, tadi?" Eh, Nella balik bertanya pulak.



"Kamu kenapa, sih? kok melamun dari tadi. Ayo, sudah terlambat!" jawabnya bangkit dari duduk. Nella seperti orang bodoh saja, mendongak kepala mulut terbuka.



Benaran asli, Nella seperti idiot. Ciuman pagi bikin otaknya hilang seketika. Edy mengecek ponselnya kemudian melirik kembali wajah calon istri ekspresi bengong itu.



Cup!



Satu kecupan mendarat lagi di bibirnya, roh yang sempat keluar lagi dari tubuhnya di tarik kembali dan tersadar seketika.



"Memang kita mau kemana?" tanya Nella seperti hilang ingatan.



Edy malah mengangkat satu alisnya, padahal tadi cewek barbar ini yang ajak dia untuk nonton film bioskop kok sekarang malah balik bertanya.



"Tapi, nonton, kan. Ayo!" jawabnya.



Nella menyusul dari belakang, "memang nonton film apa? Memang jam segini sudah buka bioskopnya?"




Sejajar langkah kaki Nella dan Edy keluar dari rumah bertingkat lantai tiga itu. Di hidupan mobil Lexus LS miliknya. Nella pun masuk kedalam lebih dulu.



••••



Sampai di mall terbesar jakarta, Nella dandan sedikit dulu di wajahnya. Walau pun tetap cantik, harus fresh dulu biar cuci mata tidak sasaran.



Ketika masuk ke dalam mall, mengapit lengan Edy tanpa lepas, benaran sudah jadi istrinya nih.



Baru juga mau memasuki lift, Nella menarik lengan Edy ke suatu tempat yang di incar oleh Nella.



"Om, ke sini deh!" ucapnya.



Edy mengikuti arahan petunjuk Nella. Salah satu toko baju perlengkapan bayi. Edy memandang depan toko itu sangat jelas. Warna biru dan merah jambu.



"Ih! Om, ini kenapa sih! sini!" ditariknya untuk masuk dalam toko itu.



"Selamat datang di toko baby shop, ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita berpostur tubuh tinggi, putih, dan cantik.



Tatapan wanita itu salah tingkah ketika melirik seorang pria berdiri tak jauh dari tempat di mana posisinya berada.



Edy sih, melirik sekeliling apa yang di cari cewek barbar ini.

__ADS_1



"Sebentar ya, mbak, aku lihat - lihat dulu," jawab Nella, menyelusuri tempat itu, Edy mengekori bagaikan induk dan anak ayam.



SPG-nya pun mengekori Edy dari belakang. Sepertinya itu SPG tertarik sama Edy deh.



"Wahh, ini bagus banget! Mbak, ini boleh di jual, ya?" Nella menunjukkan poster foto terpampang senyuman yang amat manis.



"Maaf, mbak tidak untuk di jual." jawabnya sopan.



"Ya, padahal, kan, bisa di pajang di kamarku. Biar setiap hari ku menatap wajahnya pagi siang malam tanpa ada yang menganggu," cemberut Nella bicara diri sendiri.



Pada akhirnya, Nella keluar dari toko bayi itu. Kini mereka berdua menuju tempat bioskop untuk memesan tiket yang akan mereka tonton itu. Film Aladin, yang kata teman-teman Nella film itu sangatlah seru dan lucu.



Sampai di sana, antrinya sangatlah panjang, Nella dan Edy mengantri penuh kesabaran. Setelah giliran mereka berdua memesan, ternyata posisi duduknya sudah ditempati oleh orang lain.



"Ya, Bang, masa enggak ada yang bisa kasih posisi duduk lebih romantis sih?" Nella mulai beraksi.



"Maaf, dek, kursi ini sudah di pesan melalui online." jawabnya penjaga itu.



"Iis... memang boleh pakai online, jadi kalau hati aku pakai online untuk abang, bisa dong?" gombal Nella yang antri di belakang Nella bisa sabar menanti karena yang lain tengah kesemsem sama Edy.



"Ah, kamu bisa saja." malunya si penjaga itu.



"Jadi, bagaimana, Bang, mau enggak hatiku tranfer setengah untukmu. Seumur hidup cewek cantik sepertiku, tranfer hati loh. Kalau bisa pun jantung juga boleh, lah."



Selama dua puluh menit merayu dan penjaga bioskop, akhirnya Nella dan Edy dapat posisi duduk yang pas.



Kini mereka cari makan dulu untuk isi perut yang dari tadi kosong itu. Tetap tidak akan berubah, Nella selalu mampir ke tempat penjual es krim.



Edy memesan es krim rasa jagung, dan Nella memilih es krim rada durian. Rasa itu sama-sama lezat. Terus, mereka duduk di salah satu Coffeeshop memesan makanan ringan dulu.



"Om, enggak sabaran deh cepat punya anak," kata Nella menjilat eskrim duriannya.



"Hem..." lenguh



"Ihh.. Om, ini, Lala serius loh! Kapan mau hamili?" celoteh lagi sih Nella.



Pesanan mereka datang, Nella pesan pancake madu di taburi krim vanila.



"Kapan-kapan juga bisa, asal kamu tahan rasa sakitnya." jawabnya selow


"Hah? Memang ada rasa sakitnya? Memang, Om pakai tenaga super?" tanya Nella.


"Seperti belah durian, gimana waktu kamu bukakan berduri itu, perlu menggunakan tenaga super juga, kan?" jawabnya enggak mau kalah.



Untung tempat makan lagi sepi, jadi apa yang mereka debat pun tidak terdengar hanya angin dan orang yang lewat di sana.


__ADS_1


__ADS_2