Nella in Action

Nella in Action
EXTRA PART 5.


__ADS_3

Alex tertawa ngakak, mendengar penjelasan dari putranya. Edy merasa semakin dikucilin sama saudara tidak tau diri. Setelah selesai menjelaskan ke Alex. Marchello memilih ke dapur untuk melihat apa yang d)ilakukan oleh tante dan juga mamanya. Sedangkan Rara, si gadis kecil yang benar-benar polos. Tengah duduk sambil nonton youtube kids di laptop milik papanya, sambilan menikmati sebungkus camilan di mulutnya, yaitu snack chiki.


Nella dan Luna sedang mengerjakan sebagai istri terbaik untuk suami mereka. Nella yang dulu tidak suka dengan pekerjaan dapur, kini dia sudah seperti wanita yang mencintai semua perabot dapur. Sementara Luna, meskipun sering sibuk dengan pekerjaan suami di kantor, dia juga tidak akan pernah melupakan utama pekerjaan di rumah. Apalagi putranya, Marchello. Yang sudah masuk sekolah. Pastinya akan jauh lebih sibuk dengan kegiatan lain.


Sebagai wanita karir sekaligus mencampuri beberapa kegiatan lain. Itu adalah kewajiban sebagai seorang istri. Walaupun Luna dan Nella mendapatkan suami yang super kaya. Namun satu profesi mereka itu, selalu dijalankan. Sebagai wanita biasa seperti wanita-wanita di luar sana.


"Marchello, Mama sudah berapa kali bilang, cuci tangan dulu, baru boleh cicipi ayamnya."


Marchello dapat teguran dari Luna. Marchello hanya mencibir dan beranjak dari tempat ke wastafel. Padahal dia sudah sangat ingin menikmati ayam goreng buatan tantenya. Nella cukup senyum melihat sikap keponakannya.


"Mama itu gak bisa kasih Cello senang sikit, tau gak Tante. Mama itu suka mengomel gak jelas, padahal, ya, Cello itu sudah kerjakan kewajiban di rumah. Malah di omelin, kalau Cello gak kerjakan sudah diberikan tugas. Aneh, kan?"


Nella cukup mendengar atas curhatan keponakannya. Dia tidak tau, jika kakaknya sejak menikah dan punya anak. Sifatnya jauh berbeda. Perubahan itu karena Luna adalah saudara paling taat kedisiplinan, wajar jika dia mendidik anaknya seperti itu.


"Memang kamu gak pernah beres mengerjakan pekerjaan di rumah, kalau gak kamu asyik minta sama mbak Mina kerjain?!" sambung Luna bersuara.


"Ada yang lain Cello kerjain. Mama saja gak nengok!" balas Marchello tidak mau mengalah.


"Kamu ini!"


Luna hampir hilang kesabaran lihat sikap putranya. Kadang dia suka kesal. Dia ngomel karena memang kesalahan putranya. Tapi, putranya merasa tidak ingin disalahin. Sangat mirip sekali dengan sifat ego Alex.


"Sudah, sudah, namanya juga anak-anak. Memang kamu saja Kak. Yang merasa stres ngurus anak? Itu, si gadis tengil itu. Kadang gak tau apa yang harus aku didik. Ada saja percakapan dia keluarkan," sambung Nella.


Dia juga merasa stres dengan sifat egonya Rara. Jika bukan karena sifatnya hampir menurunkan dirinya. Tetapi, rasanya tidak banget untuknya. Edy saja hampir stres dibuatnya.

__ADS_1


"Itu beda, karena memang tingkah gak jauh dari sifat barbarmu," ucap Luna kembali melanjutkan pekerjaan dapur.


Marchello ambil sepotong paha ayam goreng kemudian pergi ke tempat Rara berada. Dia ikut menonton youtube diputar oleh Rara. Rara mencium aroma yang sangat sedap, dia pun menoleh ke Marchello.


"Wah! Makan sendiri, gak bagi-bagi, minta dikit dong!" ucapnya.


Marchello yang berjuang bisa dapatkan paha ayam goreng ini juga karena harus dapat teguran dulu dari mamanya. "Ambil sendiri loh! Ini perjuangan penuh energi!" tolaknya.


Rara pun menoleh ke dapur, dimana ayam goreng terhidang di meja makan. Dengan cepat kilat dia melesat ke sana, kemudian mengambil tanpa mencuci tangan apa pun. Lalu Marchello melihat itu pun kesal. Dengan santai Rara kembali dengan wajah bersinar-bersinar.


"Ih! Gak adil! Masa Rara ambil ayam goreng gak ditegurin sih?" teriak Marchello membuat Nella dan Luna menoleh sumber suara itu.


"Karena Rara sudah cuci tangan sebelum dia ambil. Sedangkan kamu, sampai di sini, belum cuci tangan, pegang apa pun Mama gak tau. Kalau sakit perut, jangan Mama dengar kamu mengeluh ini itu?!" balas Luna membela Rara.


"Tante! Cello bilang, kalau dia bukan anak Tante!" lapor Rara ikut berteriak.


Marchello langsung bungkam mulut Rara. "Ih! kamu juga gak bisa ajak kerja sama!"


"Lah, Rara kan mengatakan apa adanya. Bang Cello gak kasih aba-aba. Jangan kasih tau," balas Rara untuk membela dirinya..


Marchello pun menghembus napas kasar. Dia memilih pergi dari sana, memilih ke tempat lain. Rara malah bengong. "Memang Rara ada salah ngomong? Kok dia pergi gitu saja? Aneh?"


Rara pun kembali lanjut nonton youtube. Marchello menggigit paha ayam goreng penuh kesal. Dia jadi pengen cepat-cepat pulang. Baginya tidak ada yang menyenangkan untuknya.


"Sebal! Tau gitu, ngapain juga aku ikut!"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang ngobrol di balik tembok kokoh itu. Marchello sedang duduk sambil memainkan pot bunga di depan. Karena terlalu berisik dan mengganggu. Dia pun hendak beranjak untuk memeriksa.


"Kamu aja, nanti kalau ketahuan gimana?" ucap cowok botak meminta teman perempuannya buat melakukan sesuatu.


"Gak bakalan. Toh, lagi sepi. Orangnya juga gak sadar. Jongkok! Biar aku ambil!" Perempuan itu celingak-celinguk melirik sekitar jalanan.


Dua bocah itu bersiap buat colong jambu di rumah Rara. Rumah Rara memang banyak sekali pohon buah. Melihat buah jambu sudah berbuah. Jadi mereka pun hendak buat mencuri. Saat bocah botak itu siap untuk curi buah jambu yang rantingnya sedikit turun kebawah jadi mudah diambil.


Tiba-tiba suara Marchello mengagetkan mereka. "Apa yang kalian lakukan!"


Bocah botak itu terkejut dan kurang keseimbangan membuat bocah perempuan juga goyang dan mereka pun terjatuh saling menimpah satu sama lain. Marchello tertawa ngakak melihat mereka ketahuan mencuri. Bocah botak itu mendongak dan mendengkus kesal. Buah yang dia ambil pecah dan dengan sikap kesalnya, dia pun melempar ke wajah Marchello yang masih tertawa.


Marchello mendapatkan lemparan jambu yang sudah hancur. Dengan cepat dia berteriak membuat isi rumah ikut keluar. Bocah perempuan itu ikut lari menyusul temannya.


"Ada apa sih?" Luna bertanya, karena suara Marchello seperti petir.


"Itu ada dua bocah coba curi pohon jambu, Ma!" jawabnya penuh bangga.


Luna malah tidak menunjukkan wajah terkejut. "Sudah biasa, terus kamu kagetin mereka?"


Marchello mengangguk penuh bangga. Luna menjewer membuat Marchello kesakitan luar biasa. "Arggh Ma! Kok Cello di jewer?!"


"Pantas, buat kamu. Kamu pikir Mama gak lihat, apa yang kamu lakukan sama dua bocah tadi?!"


Alex hanya diam dan menonton anak dan induknya. Edy sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba dia mules karena mencicipi sambal buatan istrinya. Ketika dia membayangkan waktu belum hamil Rara. Rasanya trauma itu tidak pernah hilang.

__ADS_1


__ADS_2