
Keseharian Nella bungkam tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Kejadian semalam itu benar buat Nella bingung sendiri. Maksud Om Edy apaan kok tiba – tiba cium bibirnya. Aduh, pikiran Nella bercabang-cabang. Nah, sekarang apalagi ini, Edy bawah satu plastik Ice cream Alice berbagai rasa, masa suruh dirinya menghabiskan semua satu plastik isinya ada empat Ice cream.
Nella sih pengin saja makan Ice cream itu, cuma gara es saja sudah luluh. Huh, enggak deh. Ini namanya sogok, biar bisa di maafi, gantian dong berjuang ambil hatinya Nella. Haduuuhh, bagaimana kalau Edy benaran berjuang demi dapatkan hati cewek barbar ini, kan, so Sweet banget, dambaan hati dari Nella di tunggu – tunggu. Di dalam pikirannya saja sudah kesemsem senyuman membayangkan Om Edy benaran sayang sama dia, di elus. Ia langsung menggeleng kepalanya terlalu lebay. Sedikit lebih dramatis lagi atau seperti di novel – novel yang biasa Nella baca itu judulnya pun sudah lupa. Kalau enggak drama Korea saja atau drama Taiwan juga boleh, kan, benar Sweet banget.
Edy dari tadi perhatikan cewek barbar ini senyum – senyum seperti membayangkan sesuatu yang aneh lagi pastinya. Tapi, tetap saja tidak di pedulikan begini lebih baik daripada dia diam tidak bicara. Lihat senyumnya saja sudah buat hati Edy merasa kayak gimana gitu.
Luna dan Alex malah saling meratapi dua manusia bodoh ada di depannya, paling aneh pokoknya, Alex tidak terlalu peduli mau sepupunya tertular gilanya Nella, biarkan, yang lebih ia pentingkan adalah perut yang ada di kandungan istrinya mengelus kapan besarnya itu perut.
“Nella, kamu tidak makan? Itu Om Edy sudah beli Ice cream kesukaan kamu, loh.” Buyar sudah khayalan dari pikiran Nella.
Nella melirik kakaknya yang tengah hamil sambil ngemil, terus suaminya asyik mengelus perut istrinya, pindah pandangan lain yaitu Edy. Edy senyum padanya, Ya Tuhan please itu senyum apaan coba? Jangan mudah tergoda, Lala. Hanya sogok doang! ~ batin Nella dalam hati menahan godaan.
“Om, beli Ice cream sebanyak ini untuk siapa?” Pertanyaan pertama keluar dari Nella.
“Untuk kamu,” langsung di jawabnya
“Terus, suruh Lala habiskan empat bungkus Ice cream itu? Mau kasih Lala sekarat lagi?” Pertanyaan kedua dari Nella
__ADS_1
“Enggak kok, Om beli kalau enggak habis bisa di simpan ke dalam kulkas,” jawabnya santai.
“Oh, Lala pikir Om mau balas dendam. Tapi, kata dokter perut kosong enggak boleh makan es krim dulu. Lala titip beli Mie balap, enggak pakai sayur kol, perbanyak cabai rawit, minta sausnya banyak, terus—"
“Mie balap memang ada yang jual Jakarta?” potong Edy kebingungan baru kali ini mendengarkan namanya Mie Balap
“Ada dong, Om. Teman Lala beli bilang enak banget, Ciri-ciri Mie kuning besar, di goseng biasa saja, enak banget. Apalagi pakai bumbu pecel mantap habis. Kata teman Lala itu namanya Mie balap dari Sumatera Utara. Pokoknya Om cari sampai dapat, kalau enggak itu Ice cream Om habiskan saja sendiri. Lala bakalan puasa!” tegas Nella kepada Edy, buat Edy jadi makin bersalah, kan.
Luna dan Alex bisanya menyaksikan dramatis dua manusia bodoh ini. Edy meletakkan es krim nya di atas meja samping tempat tidurnya. Dia pun mulai pergi mencari pesanan dari Nella.
“Habis beli Mie Balap, Lala mau pizza jumbo crispy satu kotak, ya,” tambahnya lagi, bikin Edy mendelik matanya, ya, turuti demi kesembuhan Nella, cewek barbar, cintanya.
“Ada lagi?” tanya Edy supaya tidak bolak-balik keluar masuk dari kamar ini.
“Sudah itu saja, kalau ada, kan, bisa calling – calling.”
__ADS_1
Edy pun keluar dari kamar rawat itu, Nella mengayunkan tangannya memberi tanda bahwa dia berhasil mengerjai Edy. Luna bisa menggeleng kepalanya atas tingkah adiknya masih sama tidak ada perubahan.
“Kamu sengaja mengerjai Om Edy, Nella?” Luna mulai bertanya pada Nella, tidak ada lagi penampakan sosok Edy di sekitar tempat ini
“Enggak, siapa yang kerjai, Om Edy. Lala memang ingin makan Mie Balap yang waktu Bee beli untuk Lala,” jawabnya merenggut.
“Begitu, tapi, kakak lihat kamu memang mengerjainya, kamu masih marah, sakit hati, kecewa sama Om Edy kalau dia masih jalan sama tante Jessica?” tebak Luna tahu segala pikiran Nella saat ini.
Nella diam seribu bahasa, iya, masih ada rasa kecewa, sakit hati, siapa suruh PHP-in Nella yang sudah berjuang mendapatkan cintanya, eh, malah cuma kasihan sama dirinya. Siapa yang mau di gituin.
“Habisnya, Om Edy, suka PHP-in Lala. Kalau enggak di gituin, Om Edy, enggak bakalan sadar kalau Lala benaran cinta sama dia,” cicitnya merenggut sebal
“Ya, kan, bisa di selesaikan secara baik-baik. Masa sampai kerjai dia seperti itu?” Bela Luna
“Biarin, pokoknya kakak jangan pernah bela Om Edy, cukup Lala yang kakak bela. Lala Cuma mau Om Edy perjuangi perasaan untuk Lala, Okay!” Seru Nella memutuskan pilihan tetap memberikan pelajaran kepada Edy.
Luna,sih, mengedik bahu terserah kalau itu memang keinginan adiknya sendiri. “Terserah kepadamu saja, Kakak Cuma berharap segera akur dan berbaik, kan.”
__ADS_1
Edy tengah di perjalanan sambil mencari warung atau kaki lima menjual Mie Balap, dicari di Google sampai aplikasi lokasi internet tidak ditemukan. Benar seperti suami tengah mencari makanan untuk istri lagi mengidam. Menikah saja pun belum, sudah dapat seperti ini, bagaimana kalau Nella hamil benaran apa enggak lebih mampus kehidupannya.