
Luna dan Alex datang untuk menjenguk Nella. Ketika pintu itu di buka terbengong dua pasangan suami istri ini. Nella dan Edy dalam keadaan tidur bersamaan saling berpelukan.
"Hm... Lex, sepertinya aku ada sesuatu yang kelupaan." Luna mencoba cari alasan Alex mengerti maksudnya.
"Ayo, aku temani, sepertinya butuh lama untuk datang ke sini," sambung Alex menutup kembali pintu kamar.
Setelah kepergian mereka berdua, Nella membuka kedua mata dan mengerjap-ngerjap beberapa kali lihat wajah pulasnya si Edy.
Nella perhatikan terus wajah Edy, dari kepala hingga dagu semua sempurna tidak ada yang buruk. Senyum sendiri si Nella, menyentuh alis tebalnya, kelopak matanya buat Edy bergerak sedikit karena terganggu tidurnya. Hidungnya, rahangnya dan bibirnya.
Nah, bibir ini selalu buat jantung Nella berdegup kencang. Setiap dapat ciuman darinya pasti enggak bisa berkutik satu detik.
Edy membuka kedua mata tiba-tiba, Nella tengah menutup hidungnya sulit bernapas. Tak mau kalah, Edy pun mencubit pipi mungilnya si Nella. Sama-sama tidak ingin melepas, sehingga Luna dn Alex dikira sudah bangun.
"Sepertinya kalian sudah mulai berbaikan, ya?" Sindir Alex meletakkan rantangan di atas meja tersedia.
"Om duluan cubit, Lala!" Nella menuduh Edy,
"Kok, aku? Kamu yang duluan menghilangkan napasku!" Bantah Edy melototinya.
"Kalau hilang, ada Lala si penyelamat, he he he..." cengiran Nella paling senang kalau sudah jahili Edy.
__ADS_1
Edy mendengus sebal dia pun turun dari tempat brankar itu. Masuk cuci muka, Nella sih senyum tak tertolong buat Luna dan Alex menggeleng kepala.

Nella sedang menikmati cuaca di pagi hari walau masih di rumah sakit, infusnya sudah dilepas. Tidak ada rasa sakit lagi, sekarang kedua matanya tertuju pada rantangan jarak lima meter.
"Kak, bawa sarapan apa hari ini?" tanya Nella turun dari brankar nya.
"Biasa, sarapan buah dan beberapa potongan roti," jawab Luna
Nella buka isi rantangan itu, buah adalah segala kesukaannya. Di tarik kursi, dia pun mulai menyantap sarapan tanpa menggosok gigi.
"Gosok gigi dulu, baru sarapan!" perintah Edy.
"Enggak gosok juga, bersih terus harum," elak Nella
"Tetap saja, gosok gigi dulu," serunya.
"Om, yang sukati gigi Lala, ya! Kan, tangan Lala masih sakit habis lepas dari infus cinta, Om." Gombal si Nella kembali bereaksi.
Edy memutar kedua bola matanya, mendengus pelan, di anggukkan kepalanya. Nella langsung bangkit delapan enam semangat.
"Ayo, Om, mandiin Lala sekalian, ya!" cicit Nella bikin Edy patung seketika.
__ADS_1
Nella menoleh, "Kenapa, Om? Kan, Om bilang, mau nikahi Lala. Jadi mulai sekarang belajar, biar tidak grogi!" lanjut Nella, sepertinya telinga Edy mendengung sebelah. Sedangkan Luna dan Alex membekap mulut tidak dapat berkata-kata.
Di dalam kamar mandi, Edy menggosok gigi Nella. Benar seperti ayah dan anak, benar akur banget. Setelah selesai gosok gigi, Edy pun mulai menyediakan air di bathtub.
"Om, mau ngapain?" tanya Nella
"Tapi, mau mandiin," jawab Edy bloon
"Hah? Mandiin?" kaget Nella tidak berfungsi sama pikirannya.
"Belajar jadi suami baik, untuk istri ketika sudah resmi." Edy mengulang kalimat di ucap dari Nella walau tidak sesuai.
"Oh, no, no, no... Itu tadi Lala cuma bercanda." Mundur beberapa langkah malah tergelincir dari belakang.
Posisi yang pas, pertama kali Edy menangkap Nella pernikahan Luna dan Alex. Nella berdoa Ya Tuhan, ampuni hambamu ini, khilaf diriku.
Sedangkan di luar kamar mandi, Luna dan Alex tengah menikmati sarapan berdua. Terdengar suara teriakkan dari Nella.
"Kyaaa... Sakit, Om!"
"Sebentar, tahan dulu!"
"Sakit, Om, pelan-pelan!"
"Iya, makanya diam!"
Luna dan Alex, memilih tidak mendengar apa pun dari luar. Teriakan dua sejoli barbar itu bikin rasa sarapan mereka makin tidak nyaman.
__ADS_1