Nella in Action

Nella in Action
Gejolak membara


__ADS_3

Langit sudah berganti warna menjadi hitam, Nella baru saja keluar dari kamar mandi menyegarkan tubuhnya yang penuh lengket dan bau itu. Apalagi keramas rambut memang kebiasaannya, rambutnya pun sudah mulai panjang. Ia ingin memotong namun terlalu di sayangi bersusah payah merawat dan memanjangkan agar terlihat menarik.



Sedangkan Edy tengah berdiri di ambang pintu samping milik kamar Nella, seperti biasa kamar itu hanya untuk mereka berdua bersebelahan adalah stuktur yang tepat untuk sepasang barbar ini.



Nella membuka pintu kamarnya dengan rambut berantakan, masih belum kering. Terkejutlah Nella seseorang muncul dari kiri membuat Nella mundur beberapa langkah.



"Aduh!" pekik Nella terbentur tepi dinding kamarnya.



"Kamu enggak apa-apa?" Edy malah tanya, Nella menepis sentuhan darinya.



"Ngapain di sana? Kayak Partoli saja!" celetuk Nella sebal banget makin hari Om Edy bikin kesal habis.



"Ya, maaf, habisnya kamu lama banget di kamar. Takut terjadi apa-apa sama dirimu di dalam," kata Edy jadi serba salah jadinya



Ah... Om Edy ini bisa saja, sampai segitunya cemasin Lala. – Batinnya dalam hati terklepek sama sapu lidi.



"Lebay banget, enggak usah sok gombali, Lala deh!" ketusnya.



"Siapa juga yang mau gombali kamu, ke ge-eran banget,sih, jadi cewek barbar." Balasnya tetap enggak mau kalah dari Nella



"Ge-er? Enggak sudi!"



Mereka berdua saling berdebat tidak ingin di salahkan, Luna dan Alex baru saja pulang dari permainan mandi bola. Mendengar suara aduan mulut di lantai dua, antara Edy dan Nella.

__ADS_1



"Pokoknya Lala enggak mau, enak saja, itu bukan asisten lagi, tapi kacung namanya. Cari yang lain saja, kalau begini mending Lala enggak menanda tangani persetujuan pindah posisi," merenggut Nella



"Cuma­ suruh temani aku tidak lebih," ujar Edy pelan memohon sekali saja Nella mau menurutinya.



"Enggak!" Tetap menolak



Luna menghampiri mereka berdua, entah apa yang di ributkan itu. Merasa kepo banget ia pun turun tangan bertanya pada dua pasangan ini.



"Ada apa sih? Suara kalian sampai terdengar di bawah, loh." Tanyanya Luna penasaran banget.



"Ini, loh, kak. Om Edy minta Lala temani dia temui seseorang. Lala enggak mau, nanti di suruh ini itu sama yang lain. Terus jadi pawang nyamuk lagi, tak sudi, lah, mending Lala resign saja deh!" jawab Nella benar sangat kesal sama Edy.




"Ih... ini kak Luna tidak bisa di ajak kerja sama!"



Nella pergi tidak peduliin si Edy dan Luna, padahal ancang Edy untuk mengajaknya juga karena ada sesuatu yang mau di bicarakan. Memang cewek barbar kalau sudah ngambek buat sakit kepala sebelah saja.



"Yang sabar, ya," support Luna kepada Edy.



****



Di halaman belakang rumah, Nella duduk di salah satu kursi besi yang dingin, relain di gigit nyamuk. Apalagi udara dingin mulai menyengkram seluruh kulitnya. Edy memakaikan baju hangat untuk cewek barbar ini. Ia tidak ingin terulang kembali jika cewek barbarnya sakit karena hal sepele.

__ADS_1



Nella melepaskan baju hangat itu ke samping, lebih nyaman udara dingin. Meskipun hidungnya terlihat merah.



"Nanti sakit," Edy pakaikan lagi,



"Biarin sakit!" balasnya dingin



"Jangan sakit, nanti hatiku sulit menembusnya," ucap Edy



"Apa hubungannya sama hati! Yang sakit Lala, bukan, Om!" liriknya tajam



"Makanya jangan sakit, hati Om sulit menembusnya kalau kamu jatuh pingsan di pelukanku." Gombalnya Edy bikin kedua pipi Nella memerah



"Kok sini panas,ya, Om?" Nella mengalihkan topik pembicaraan



Edy tahu maksudnya, cewek barbar ini enggak lama ngambeknya.



"Panas? Enggak ada tuh! Panas di sini." Di sentuh bibir merah tipis merona milik Nella.



Satu detik ...



Dua detik ...


__ADS_1


"Om, ada ular!" teriak Nella menunjukkan di belakang sontak Edy terperanjat seketika. Edy memang benci dengan ular, karena telah di bohongi oleh cewek barbar itu. Nella lebih dulu kabur dari godaan Om Edy.



__ADS_2