Nella in Action

Nella in Action
Perang Mulut


__ADS_3

Suasana menghiasi mentari di pagi hari. Waktunya kerja, kerja dengan suasana happy, liburan hanya dua hari.



Sedih benaran, untuk sang pengantin baru seperti Nella. Habisnya itu suami katanya ada proyek dari Luar negeri di selesaikan. Uh... proyek apa pula, untuk belah durian saja setengah - tengah kemarin - kemarin.



"Selamat pagi semuanya!" teriak Nella saat turun dari arah kamarnya mendekati para orang-orang penghuni tengah duduk menikmati sarapan nasi goreng spesial ala Luna Sebastian Kurniawan.



"Pagi juga, Lala sesek-sesek'an..." Balas Roy terakhir suapan dari sendoknya.



"Sesek-sesek'an? Apa itu? Memang Keset kaki? Ini Om Roy, ada saja, deh. Nama Lala kok di ganti aneh begitu." Cemberut si Nella-nya berdiri di tengah-tengah kursi sebelahan.



"Itu nama barumu untuk hari ini, bagaimana malam pertama? Sudah berapa ronde mainnya?" ucap Roy dan bertanya pada Nella soal kejadian malam pertama dan malam kemarin.



"Biasa saja, sih, Om. Enggak ada yang seru-seru. Ronde, Ronde apaan coba, Om. Lala makin bingung sama pertanyaan ini?" Di tarik kursi duduk bersebelahan Roy. Ambil nasi goreng spesial di piringnya.



"Masa pengantin baru enggak tau sih, ronde berapa main di malam pertama. Lex, jelaskan dulu sama adik iparmu." Roy menuju arah Alex sedang mengadu kopi hitam di cangkir karena masih panas.


__ADS_1


"Itu, loh, La... Setiap pernikahan pasti ada perkawinan. Malam pertama itu, biasanya belah durian. Saat akan belah durian, pastinya permainan di mulai dengan kenikmatan seperti kamu lomba mukbang es krim ada babak awal hingga final. Jadi waktu malam pertama berapa Ronde di mainkan? Hubungan untuk buat anak." Alex menjelaskan sedetail-detailnya.



"Oh... itu. Baru dua kali, memang kenapa? Kalau buat anak harus berapa kali sih?" Nella mengerti maksud dari Alex, dan kembali ia bertanya.



"Terserah kamu mau berapa Ronde. Kalau menurut Om nih, ya. Dua kali tidak cukup, kalau bisa setiap hari. Biar tambah penghuni baru lagi." Usul dari Roy.



"Hah? Masa? Tapi.... memang Om Edy, mau setiap hari lakuin? Takutnya dia...." Terputus kata - kata si Nella. Membayangkan kejadian semalam, proses pemanasan saja ia sudah kewalahan apa lagi setiap hari.



"Om, yakin kalau Edy itu sanggup. Asal kamu menikmati sensasinya saja. Om berharap cepat dapat momongan,ya!" Roy pun bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan tempat meja makan itu.




****



Ketika sampai di kantor, Nella masih memikirkan setiap bait kata demi kata dari Om Roy. Langkah kaki tidak memiliki mata sampai seseorang berdiri di depannya pun ikut menabrak.



"Akh!" kepala Nella terbentur sesuatu, di angkatlah wajahnya, ternyata Om Edy menatapnya tajam

__ADS_1



"Apa yang kamu, lamunkan?" Pertanyaan dari Edy kepada istri barbar-nya



"Itu, Om, eh, Kak, eh, aduh... susah banget sih panggil suami!" mengomel sendiri, marah diri sendiri.



Bikin alis Edy berkerut lipat-lipat nih. Apa karena semalam otaknya tergeser, ya.



"Panggil saja, Om Edy-mu. Istri barbar." Ciuman hangat untuk istri tercinta dan termanis depan umum pula.



Nella seperti ingin meletus dari tengah otaknya itu. Ini kenapa lagi kok, Om Edy pakai acara cium di depan umum tepat lobi seluas lapangan basket. - batinnya si Nella



"Om, ini lobi bukan rumah!" bisik Nella memelankan suaranya, semua ada di sini memasang tatapan tajam arah mereka berdua



"Kenapa? Tadi pagi, belum sempat cium untuk kiss morning untuk istri termanisku," ucapnya tidak memedulikan sepasang mata menatap mereka.



"Ya, tapi enggak sampai di sini juga, kali, Om, ciumnya!" protesnya lagi.

__ADS_1



Masuk ke dalam lift, menuju kantor, perdebatan antara mereka berdua belum berakhir. Nella dan Edy tidak pernah memikirkan situasi dan keadaan apalagi posisi di mana mereka berada di salah satu paling memalukan yaitu lift para penumpang ada di dekat mereka. Pembahasan tentang belah durian, belah semangka, sampai belah pedang dan jeruk


__ADS_2