
Edy masuk ke kamarnya menggaruk kepala yang tidak gatal itu. Masalahnya ia lupa, tidak boleh bocorkan ke siapa pun untuk soal belah durian.
Ini ide Roy dan Alex juga, sekarang istrinya ambek. Haduh ... kalau sudah merajuk akan sulit untuk baikan. Bagaimana, ya, masa ia harus gombal main halus lagi, enggak mungkin, kan.
"Nella, masih marah, ya? Ih, jangan marah dong! Nanti telurnya bakalan enggak keluar loh,"
"bujuk apaan nih, Dy?" batinnya dalam dirinya sendiri.
"Masa, enggak keluar, sia-sia dong!" balasnya merengut.
"Iya, soalnya dia takut nanti kamu meletus secara tiba - tiba, pecah deh telurnya, terus enggak membuahkan hasil yang bagus. Percuma dong sudah di timbun banyak ke dalam," ucap Edy asal
"Ya sudah, timbun lagi, lebih banyak biar berbentuk hasil, yang bagus!" kata Nella, Edy menggaruk-garuk tak gatal itu, ia senyum tipis.
"Yang benar? Nanti kamu kesakitan kalau timbun lagi." sedikit takut sih kalau bininya kesakitan.
"Lakuinnya pelan - pelan loh, kan buatnya enggak langsung. Kata teman Lala butuh kesabaran dan butuh doa agar hasilnya benar bagus. Dan pembuatannya pun penuh perasaan seperti buat adonan kue yang cantik!" balasnya, dewasa banget pemikirannya.
"Ya sudah, kalau begitu, nanti malam kita lanjutkan, lagi. Yakin sanggup, biar hasilnya bagus?" Edy meyakinkan lagi.
__ADS_1
"Yakin, lah. Kan, Om-suaminya Lala."
Ciuman sayang untuk Edy, Nella pun masuk ke kamar mandi. Edy terdiam setelah apa yang ia dengar dari mulut istrinya. Enggak banyak waktu, ia pun ikut mendobrak pintu kamar mandi. Namun siapa yang menyangka keributan kembali terjadi.
Alex dan Roy tengah main catur di ruang tengah hanya bisa menggeleng kepala. Tingkah absurd pasangan suami istri baru ini benar bikin suasana kebahagian jadi cemerlang.
"Setelah ini apa lagi yang mereka lakukan, di kantor mereka baru saja belah durian. Sekarang belah lagi?" celoteh Roy
"Om enggak tahu saja, seperti apa mereka. Untung saja jodohnya itu si Nella, kalau enggak, Bang Edy tak bakalan kayak begini juga karena tingkah absurd si Nella," ucap Alex
"Ah, kalah lagi!" seru Roy.
Tak lama kemudian, Della, Marchel kecil dan Luna pulang juga dari mall. Belanjaan mereka sangat banyak. Entah apa saja yang mereka belanja itu. Alex menggendong putra kecilnya.
Sementara Edy dan Nella sedang panas-panas bergairah di dalam kamar mandi. Desahan Nella membuat semangat empat lima untuk Edy memainkannya. Mainnya memang halus, tapi sangat di nikmati oleh Nella yang mulai tercandu kemesuman suaminya. Buatan adonan kue, baru saja di mulai. Suara raungan gairah mereka berdua menggema di dalam segi empat itu. Suara air bak mandi ikut mengguncang pancuan gerakan itu.
Kenikmatan tiada tara untuk Nella. Edy mengatur napas dan terhenti perlahan-lahan. Sesuatu hangat bagian ******** Nella. Napas mereka berdua tidak beraturan. Edy menciumnya, bahkan napas Nella masih belum stabil. Melenguh Nella embusan napas tersentuh.
__ADS_1
Tiba-tiba Nella melengking kesakitan, Edy tidak menanggapi tetap meremas agar tubuhnya sedikit tegang, penggerakan tubuh Nella mulai bangkit kembali, dia mendiam dan biarkan suaminya lakukan se-sukanya. Karena dia mulai menyukai sentuhan darinya.
Posisi mereka telah berdiri, Nella ditahan oleh tembok yang besar dan kuat. Air shower mengenai kepala mereka sehingga Nella sulit bernapas. Kecupan demi kecupan darinya tak dapat terhindar lagi. Kelima jari besar itu menyentuh kulit mulus tersebut. Satu jari kembali masuk sempurna di bagian yang amat nantikan.
Sekarang bukan satu jari lebih dari dua jari. Oral'an keluar masuk itu, mengetarkan seluruh tubuh Nella menerima sentuhan panas tak terprediksi. Tubuhnya ambruk lemas, untung di tahan sama suaminya, Edy bisanya senyum.
Kembali keluarga Kusuma, Della sedang memasak untuk makan malam, sedangkan Luna tengah menyusui putranya. Alex dan Roy sedang main kartu joker, pertaruhan kapan Nella hamil masih berlanjut.
"Sudah kamu yakin, kalau Nella bakalan hamil dua minggu lagi?" tanya Roy kepada Alex.
"Yakin, setelah pulang honeymoon!" jawab percaya diri banget si Alex
"Kalau begitu, aku pastikan sebelum honeymoon, Nella sudah hamil. Karena Edy itu jago buat anak," ucapnya Roy naik turun kedua alisnya.
"Lebih cepat lebih bagus, biar kita bisa lihat seberapa kocak pengantin baru ini. Kira-kira hukuman apa untuk Bang Edy?" Alex memikirkan sesuatu sebaliknya si Roy juga.
"Bisa jadi lebih menyiksa deh."
__ADS_1
"Mungkin"