
Akhirnya bisa santai juga untuk Nella di hotel tersebut. Di hempaskan tubuhnya atas ranjang empuk yang lembut dan nyaman. Edy baru saja merapikan barang-barang bawaan pembelian dari istri barbar-nya. Entah apa saja dia beli, baju, topi, sepatu, syal, mantel sampai bikini pun ia beli.
Tapi kalau soal bikini Edy mulai memikirkan aneh dari otaknya. Di dekatnya keberadaan Nella dalam keadaan tertidur pulas itu. Edy perlahan naik tempat ranjang itu agar tidak terbangun darinya.
"Om, mau ngapain?" tanya Nella tiba bersuara meskipun kedua matanya masih terpejam. Edy tidak berkutik mematung dengan posisi membungkuk.
"Enggak ada, cuma mau ikut berbaring tidur saja," jawabnya mengeles padahal ingin bermain hiburan senang.
"Oh..." hanya ber-oh saja yang dari mulut istrinya. Nella berputar tubuhnya menakup tubuh suaminya turut berbaring bersama dalam pelukan
Edy masih terdiam kenapa istrinya jadi aneh begini, kok bisa-bisa tahu kalau ia mau posisi berhadapan untuk tidur sama-sama.
"Om," panggilnya si Nella pelan
"Iya," jawabnya
"Om, yakin mau anak enam?" tanyanya menatap kedua mata milik suaminya
Edy sebaliknya menatap manik hitam bulat milik istrinya itu, "Enggak, itu aku hanya bercanda doang, kenapa?" jawabnya dan bertanya kembali
"Kalau mau? Bisa kok," jawabnya semangat.
__ADS_1
Posisi kini Nella diatasnya membuat Edy terkejut bukan main, kok jadi aneh begini istri barbar ini. "Tunggu dulu, kamu mau ngapain?" Edy menahan tubuh kurus ramping itu dari posisi menduduki perutnya.
"Tapi buat anak, ya sudah sekarang saja. Tunggu apa lagi coba? Om Roy sama Kak Alex sudah menunggu kehadiran ponakan dari kita." Jawabnya dengan lincah membuka kancing baju suaminya.
"Ya, nggak sekarang juga, kan. Kita habis berkelana perjalanan tadi!" seru Edy menahan tangan mungil itu terus memaksa buka kancing bajunya
Nella menghentikan kegiatannya menatap buas dari sudut matanya itu, Edy seperti ada aura yang mencekam setiap inci dari manik mata hitam itu. Nella turun dari tubuh suaminya ia pun turun dari ranjang itu kemudian masuk untuk keluar dari kamar penginapan.
"Nella, kamu mau kemana?" Edy mencegahnya, ini cewek kenapa sih? Tadi baik-baik saja sekarang kok malah semakin sensitif dan agresif sih? Batin Edy dalam hati
Sorot kedua mata ekornya menatap setiap inci menakutkan, Edy menelan air ludahnya bersusah payah.
"Kalau mau cari selingkuhan, kita cari sama-sama," ucapnya
Kerutan dua alis Nella berlipat-lipat. "Siapa yang mau cari selingkuhan?" pertanyaan kembali membuat Edy semakin bingung
"Situ yang bilang mau cari selingkuhan, ya sudah sama-sama cari, biar tidak ada saling menyalahkan!" jawabnya penuh percaya diri
Hembusan napas panjang dari Nella, "Kenapa menghembus seperti itu? Apa ada masalah dengan pernapasanmu?"
__ADS_1
"Iya, butuh oksigen untuk menguatkan rasa sesak di hati!" balasnya lirik
"....."
"Om, tahu perbedaan pernapasan buatan sama Oksigen?" Nella mulai bertanya kepada suaminya
"Tidak ada bedanya pernapasan buatan dan Oksigen," jawab Edy
"Salah," katanya kembali duduk di tepi ranjang dan Edy membuntutinya
"Terus? Apa dong?" Edy makin aneh, kan. Napas buatan dan Oksigen apa bedanya coba.
"Begini ya, Om. Napas buatan dan Oksigen itu jauh sangat beda banget. Napas buatan itu di ciptakan oleh sepasang kekasih yang saling menyatu, sedangkan oksigen hanya untuk orang yang membutuhkan. Intinya, seperti aku sama Om setiap hari berciuman pasti yang sengsara itu cewek. Karena sudah di ambil napasnya sama Om, jadi aku butuh Oksigen untuk mengganti napas buatan, mengerti?" Nella menjelaskan padahal tidak ada perbedaan antara napas perbuatan sama oksigen. Hanya akal-akalan Nella doang.
Edy manggut-manggut paham dengan kejelasan dari istrinya cuma hanya satu kok ia seperti orang bodoh mendengar penjelasan aneh ini. Nella telah keluar lebih dulu dari kamar penginapannya.
"NELLA!!" teriak Edy menyusul pekejaran istri barbar kurang ajar itu.
Nella menjulurkan lidahnya senang banget bisa mengerjai suaminya itu, namun untuk berputar tubuhnya untuk lanjutkan langkah kakinya, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di sana.
__ADS_1