Nella in Action

Nella in Action
Extra Part 6. SELESAI.


__ADS_3

Keesokan harinya, dua bocah yang kemarin dipergoki sama Marcello, muncul lagi. Kali ini bukan untuk datang mencuri. Melainkan mereka diminta untuk antar sesuatu. Ya, entah apa itu. Yang pasti mereka datang ke rumah Rara.


Tepat pula, Rara sedang di depan rumah, sedang duduk sambil memainkan dengan bunga dikoleksi oleh mamanya. Pokoknya banyak aneka ragam bunga di depan rumahnya. Tak hanya itu saja, ada beberapa pohon buah juga. Semenjak Nella hamil, dia doyan banget pengen makan mangga di seberang rumah komplek pak galak itu. Edy sempat di galakin sama anjing di depan, karena saking ngidam itu Nella.


Jadinya, dia memilih beli pohon cangkok untuk ditanam sendiri di rumah. Jadi tidak akan ada lagi namanya itu panjat pohon orang. Di luar pagar rumah, Rara yang asyik petik bunga matahari, tidak sengaja mendengar suara keributan di depan rumahnya.


Dengan rasa penasaran, dia pun berjalan dan buat melihat. Di sana ada dua bocah, satu si botak dan satu si poni bego. Saling oper sana sini bungkusan yang akan mereka berikan untuk mereka di rumah ini.


"Kamu aja yang kasih," ucap si botak.


"Gak, kamu aja," ucap si poni bego.


Saling lempar sana sini itu bungkusan. "Sedang apa?" Tiba-tiba Rara berdiri di pagar besi yang masih tertutup rapat. Memandang dua bocah saling melempar bungkusan itu.


Rara melihat isi bungkusan itu, ada warna orange. "Itu jeruk Taiwan?" tebak Rara.


Dua bocah itu bengong saat Rara menyebutkan isi bungkusan mereka bawa. "Kok bengong? Benar 'kan? Itu jeruk Taiwan?" Rara bertanya lagi, agar dua bocah itu cepat menyahut.


Kemudian, Nella keluar saat akan membuang sampah. Tidak sengaja melihat Rara sedang berdiri di depan pagar, seperti sedang berbicara dengan seseorang.

__ADS_1


"Rara! Apa yang kamu lakukan di sana!" teriak Nella.


Mendengar namanya dipanggil oleh Nella. Rara pun menoleh dan balas menjawab dengan teriakan juga. "Ma, ada yang bawa jeruk Taiwan buat kita!"


"Hah? Jeruk Taiwan?" batin Nella,


Merasa penasaran, dia ke arah di mana Rara berada. Dua bocah itu masih berdiri tidak bisa berkutik sama sekali. Mereka seakan mendapat masalah. Padahal mereka bertujuan ke sini, berikan bungkusan yang disebut Rara tadi sebagai tanda minta maaf, sudah mencuri buah jambu.


Kebetulan di rumah mereka sedang panen buah jeruk. Orang tua dua bocah itu, memiliki kebun buah yang cukup luas. Setiap tahun, akan banyak berbuah.


"Oh, Didi, Dea. Ada apa ke sini?"


Nella malah bingung atas pertanyaan Rara. "Loh, kamu gak ingat? Mereka yang sering kasih buah duku, buah mangga, sama buah kesemek, setiap tahun berganti musim, kamu sering minta buat ke kebun mereka waktu masih umur dua tahun?" jawab Nella memberitahu kepada Rara.


Rara malah tidak ingat masa itu. Meskipun sekarang dia sudah berusia Lima tahun, pasti ingatan Rara tidak akan ingat dengan wajah mereka kala itu.


"Oh, paman Dodo?" Rara seakan ingat nama itu.


"Nah tuh, kamu ingat. Mereka anaknya paman Dodo," ucap Nella.

__ADS_1


Dua bocah itu masih berdiri seakan diacuhkan. "Owalah, jadi sekarang uda musim buah jeruk?" Rara berseri-seri menatap Didi dan Dea.


Mereka itu pun senyum dan manggut-manggut. "Iya, ini ayah minta kami bawa buat Tante. Atas permintaan maaf, sudah mencuri buah jambu sore kemarin," ucap Didi menyerahkan bungkus itu isinya jeruk tersebut.


Nella dan Rara, sempat melihat luka lecet di siku bocah laki-laki itu. Kejadian itu tepat Marcello mengagetkan mereka tepat mereka mencuri buah jambu itu.


"Waduh, kenapa harus repot-repot." Nella merasa tidak enak hati dengan dua bocah itu.


"Gak apa-apa, Tante. Ini juga kesalahan kami," ucap Dea malu tidak berani menatap Nella.


Rara melihat Dea, seakan dia ingin membawa mereka buat main bareng. "Ma, Rara boleh main ke rumah mereka?" tanya Rara.


Tidak lama kemudian muncul bocah mana lagi buat ikut sewot. "Aku juga dong! Aku ikut!" seru Marcello berdiri tepat di depan Rara dan Nella.


Nella kaget, dari mana dia muncul itu. "Ya sudah, jangan pulang terlalu sore kali, ya?" ucap Nella mengingatkan kepada Rara dan Marcello.


Rara dan Marcello pun bersikap tegap memberi hormat kepada penghuninya. "SIAP MADAM!"


Dea dan Didi kaget lihat dua bocah itu. Ketika mereka dipersilakan untuk main ke rumah mereka. Dengan wajah seri-seri itu tidak akan pernah bisa lepas hingga di usia mereka beranjak dewasa..

__ADS_1


__ADS_2