Nella in Action

Nella in Action
Naik Pangkat


__ADS_3

Nella terengah-engah mengatur napasnya yang tinggal satu dua tiga titik. Memang paling di amat benci olehnya sendiri, naik tangga darurat bukan hal mudah atau di sepelekan. Lantai enam, patah enggak itu tulang - tulang kaki Nella. Apalagi ia pakai sepatu tinggi, bukan sandal jepit.



"Hai, Nel," sapa Toni



Dia adalah Toni William Utomo, bagian Manager Accounting. Suka sama Nella pertama kali dia bergabung di kantor ini. Padahal Toni ingin merenggut Nella sebagai bawahannya malahan di tarik oleh Christine.



Nella sudah sekian kali menghindar dan menolak ajakan dari Toni. Nella masih belum bisa melupakan cinta pertamanya yaitu Om Edy. Sekarang saja, mereka belum bertemu secara isan.



"Hai, juga." balasnya cuek.


"Sudah sarapan?" tanyanya basa-basi


"Belum, nanti setelah makan siang," jawab Nella


"Sarapan dulu, yuk!" ajaknya


"Enggak dulu, deh. Pekerjaanku masih belum selesai, hari ini harus di tagih pembayaran," tolak Nella halus


"Kan, bisa di kerjakan nanti. Masih ada waktu dua puluh menit untuk lanjutkan pekerjaannya."


"Hem, iya, sih. Tapi..."


"Yuk!"



Toni memang pemaksa, tetap sama Nella enggak bisa nolak ajakan dari Toni. Padahal tadi sudah sarapan roti di rumah.


Dapat gratis kenapa di tolak.



Edy keluar dari kantornya karena bosan, ia keliling melihat - lihat. Sebuah pemandangan yang tidak dapat lepas oleh Edy adalah sosok perempuan sangat familiar sekali untuknya.


__ADS_1


Nella



Nella dan Toni tengah berjalan bersamaan, bercengkrama atau berdebat, Edy mulai mengikuti mereka berdua dari belakang tanpa sepengetahuan mereka tersebut.



"Kamu ingin makan dimana? Di sini katanya banyak menu yang lezat," ucap Toni.



"Terserah saja, sebenarnya aku bisa makan di waktu jam siang. Biar tidak boros pengeluaran," kata Nella



"Yang ajak kamu 'kan, aku. Yang bayar tentu aku juga," balasnya.



"Iya, tapi tetap saja tidak enak hati, sudah berapa kali kamu traktir aku makan atau jangan - jangan kamu mau jampi - jampi aku?" selidiki si Nella menuju dari kepala hingga kaki.



Toni tertawa, lalu mengacak rambut Nella. "Siapa juga jampi kamu, kalau pun ada, tentu kamu sudah jadi istriku." ujarnya masuk ke dalam kafe terdekat.




Sementara Edy dari jarak lima meter melihat perdebatan antara Toni dan Nella. Ada yang gesir pada penampilan Nella yang jauh beda dari sebelumnya.



Ia pun mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah itu, ia kembali ke kantor sambil menelepon seseorang.



•••••



Akhirnya Nella bisa bebas dari sekapan tawon. Gara-gara Toni, ia harus terlambat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda itu. Kembali lagi ke reseposionis untuk mengambil invoice pembayaran tersebut.

__ADS_1



"Nella!" seseorang memanggil namanya, ia pun menoleh belakang.



"Iya," sahutnya, "Ikut saya," ucapnya Ibu Desi bagian kepala HRD.



Nella mengerut alis berlipat ganda, permasalahan apa lagi untuk hari ini. Ada apa, ya, di panggil sama Ibu Desi - batinnya dalam hati bertanya - tanya.



Sampai di kantornya, Desi mengambil data karyawan dan menulis sesuatu di sana. Lalu bagian adminstrasi HRD Indah tengah memprintkan sesuatu dari printernya.



"Ini apa, Bu?" tanya Nella makin bingung saja. Jangan bilang dia di PHK lagi, please deh kalau benar kenyataan.



"Mulai sekarang posisi kamu di bukan supervisor lagi, tapi, sebagai sekertaris Pak Edy," kata Desi memberitahukan.



"Hah? pindah posisi? Enggak bisa begitu dong, Bu. Kan, harus izin dari Manager Chris--"



"Christine sudah menanganinya, kamu bisa cek sekali lagi di sana." sambung Desi menjelaskan.



Nella membaca pernyataan posisi yang benar di pindahkan. Ia benar tidak Terima kenapa seenaknya, tapi, ada senangnya sih bisa dekat lagi dengan Om Edy.



"Jadi, pekerjaan saya siapa yang hendel?" tanya Nella



"Ada Jenni mengerjakannya, oh ya, ada lagi. Selain sekertaris, kamu juga di bagian asisten pribadi Pak Edy. Segala kebutuhan kamu urus. Tidak ada yang boleh orang lain. Itu yang di sampaikan oleh Pak Edy sendiri," jawabnya lalu tugasnya di tambah lebih tiga kali lipat.

__ADS_1



Nella tertohok bengong, tega benar Om Edy menyiksanya. Apakah ini pertanda dia balas dendam dua tahun yang lalu?


__ADS_2