Nella in Action

Nella in Action
Perasaan


__ADS_3

Malam telah tiba, kedua mata Nella terjaga sempurna, seharian tidur pada akhirnya harus melek karena efek perut keroncongan kembali.



Bangun dari tidurnya, posisi duduk pizza yang ada di meja dorongan sangatlah jauh. Hanya seorang diri di dalam kamar ini, yang lain pada kemana pun Nella enggak tahu.



Mau tak mau dia pun harus turun dari brankar tempat tidurnya. Sambil mendorong infus tangan itu. Daripada lapar tak berdaya, perlahan melangkah dengan senyuman lebar, di bukalah kotak pizza itu. Merenggut ekspresinya, kok tinggal satu? ~ batinnya kaget.



Edy baru saja kembali dari rumah bawa beberapa potongan baju, soalnya dia disuruh Alex menjaga Nella sampai sembuh total. Tatapan mata elang dari Nella menoleh arah Edy.



"Om, kok, pizza Lala tinggal sepotong?" tanya Nella kesal.



Edy mengaruk leher tak gatal, sebelum kembali ke rumah, dia sempat makan sepotong pizza itu saat Nella dalam keadaan tertidur.



"Eh... itu... bukannya tadi kamu makan sepotong lagi sebelum tidur?" Edy memutar fakta.



Memicingkan kedua mata seperti ada bau kebohongan dari Edy. Edy sendiri menelan ludah susah payah.



"Masa, sih? Perasaan Lala makan tiga potong. Mungkin saja ada tikus diam - diam curi sepotong karena lapar," kata Nella menimbang-nimbang.



Edy tahu kalau cewek barbar ini sedang katai dirinya. Ya, tidak terlalu peduli kalau memang dia makan satu potong pizza itu.



"Balik ke tempatmu!" perintah Edy pada Nella.


__ADS_1


"Bosan tidur mulu, penginnya jalan-jalan," bantah Nella sambil menggigit sepotong pizzanya.



"Ehm... sudah malam mau jalan-jalan kemana? Di sini saja, terserah kamu mau ngpain. Jungkir balik di brankar juga bisa, atau kamu mau nonton televisi?"



Nella kembali duduk di tempatnya, berdua sama Edy. Mulai lagi mengerjai si Om Edy ini.



"Om," panggil Nella, Edy menoleh, "iya?"



"Om, cinta sama Lala enggak?" tanya Nella.



Edy mengangkat satu alis, "Cinta," jawabnya.



"Sejak...."



Edy jadi bingung sendiri, jawabnya bagaimana gitu.



"Sejak apa? Sejak Lala gombal, Om, atau hanya kasihan sama Lala?" tebak Nella.



"Sejak kamu jatuh sakit," jawabnya.



"Kok, bisa? Bukannya Om cinta sama Tante Jessica?"


__ADS_1


"Iya itu, dulu. Sekarang sudah beda."


"Bedanya di mana?"


"Di sini!"



Tunjukin arah jantungnya sendiri, Nella diam sebentar, berbunga - bunga di belakangnya.



"Masa? Nanti malah PHP-in, Lala, lagi,"


"Enggak, malahan Om mau cepat nikahi kamu."


"Masa? Memang Om sudah siap mau nikahi, Lala?"


"Sudah dong! Buktinya, Om ada di sini terus dan sampai kamu sembuh total."


"Mana buktikan, kalau Om memang serius sama Lala!"



Nella menantang Edy, Edy senyum tipis lalu di dekatkan tubuhnya posisi duduknya Nella. Jarak kedua mata mereka dekat banget, Nella diam masih menatapnya intens.



"Buktinya nanti setelah kamu sudah sembuh." kata Edy menjauhkan tubuhnya lalu kembali di tempat brankar yang tersedia.



Nella menciut bibir, padahal dia sudah menunggu momen ciuman, benar menyebalkan untuk Om Edy. 


Nella turun dari tempatnya mendorong infus kemudian naik tempat tidur Edy.


Edy sendiri heran sama cewek barbar ini.



"Daripada Om kasih buktinya lama, mending langsung saja, deh! Lala, mau tidur berdua sama Om," ucap Nella menepuk bantal dan berbaring memeluk perut Edy yang saat ini duduk melihat ponselnya.


__ADS_1


Edy sih diam seribu bahasa, aneh saja ini cewek barbar walau sakit, tetap saja sifarnya masih aktif. Kalau lihat dari dekat Edy senyum sendiri, senang sebenarnya. Dicium ubun kepalanya lama banget. Nella sebenarnya tidak dalam keadaan tidur, senyum di wajahnya terbit sempurna.


__ADS_2