
Pulang dari kantor, Nella seperti orang kesusahan berjalan. Seperti nenek-nenek kehilangan tongkat. Jalannya pelan banget, sampai para karyawan ada di gedung hotel ini pun keheran sama dia.
Ekspresi Edy sih, biasa saja, enggak terlalu ketara tunjukin wajah lelah, letih. Nella saja dari tadi tutupi bagian paling sensitif.
"Mbak Nella kenapa? Kok, tegang banget. Sakit, ya?" tanya salah satu karyawan ada di kantor ini.
"Ah, Enggak apa-apa kok, terlalu ketat roknya. Habis makan siang kebanyakan, jadi sedikit sesak," jawabnya mengarang lebih baik daripada jujur bikin orang terperangah aneh.
"Oh..."
Untung enggak bertanya lagi, kalau ada pun bisa - bisa, malu enggak tertolong lagi sama suami. Ini suaminya malah ekspresi biasa dalam dirinya sudah senyun-senyum kecil terlalu ganas lakuin hal kepada istri barbar nya.
Salah dia sendiri, main pun bisa laksa banget. Tapi seru sih menurut dirinya, kapan lagi punya istri barbar kocak kayak dia.
"Ini gara-gara, Om! Malu jadinya, kan!" ngomel si Nella, saat masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Siapa suruh laksa sekali. Sudah tahu lagi main tusuk menusuk, belum lagi congkel- menyonkel, sudah di bilang jangan banyak gerak. Kamu sendiri gerak terus, jadi yang sakit itu-mu. Jangan salahkan suami!" Balasnya si Edy tidak ingin di salahkan.
"Ya, habis mainnya enggak sabaran! Tempatnya sempit, mau posisi gimana pun tetap saja bikin sakit amat luar biasa. Lebih baik sakit gigi daripada sakit sayang-sayang!" Rengeknya.
"Iya, maaf. Namanya juga belah durian, ya, harus begitu. Kalau enggak bukan kawin namanya. Katanya mau di hamili, kok, sekarang malah cengeng?" Di elus-elus kepalanya, kasihan banget.
Mukanya mencibir gembung, sebenarnya dalam sikapnya bahagia, bisa dibelah juga sama suaminya. Apalagi kalau bulan madu serasan bagaimana ya, jadi enggak sabar dia hamil dari Om-nya.
•••••
Para penghuni di rumah Kusuma masih betah saja, enggak hilang-hilang. Roy paling heboh kalau soal kepulangan istri ipar dari sepupunya itu.
"Wah, sudah pulang, bagaimana? Sampai ronde berapa nih? Pasti tiga! Kalah telak si Alex!" Ceplos si Roy.
Nella terpaku diam, berdiri di depan pintu masuk. Suara Roy menendang telinganya ketika di sebut kata Ronde.
__ADS_1
Maksudnya apaan coba? Ronde? Jadi, Om Roy sama Kak Alex tahu, kalau aku sama Om Edy lakuin belah durian di kantor? - pertanyaan di kepala Nella mulai mencium curiga.
"Ah... dia saja belum jawab, kayak mana kalah! Bang, berapa ronde? Kok bini-mu, jalannya ngangkang? Main kasar, ya!" tebak Alex senyum-senyum. Tidak biasanya si saudara tertuanya ini main kasar sama istri sendiri.
"Apaan sih! Baru juga dua kali, dia terlalu laksa. Banyak gerak. Kalau enggak mungkin sudah sanggup babak ke tiga" jawab Edy tanpa ada rasa malu.
Nella mendengar bagaikan tomat yang sudah masak siap di potong terus taburi gula kasar, masuki ke mulut, mantap lezat banget.
"OM EEEDYYY....!" teriak Nella mengguncang seluruh rumah lantai bertingkat dua ini menggempar suara dari gaum harimau betina.
Edy sontak bangkit dari tempat duduknya menoleh arah di mana suara Nella berasal. Dengan kode dari istrinya, leher melayang.
Glek.
Menelan ludah, Alex dan Roy cekikikan lihat tingkah sepasang suami istri ini. Kalau bininya lagi malu banget. Untung Luna sedang ke mall sama Della - istrinya Roy.
__ADS_1
Kalau tidak mungkin kepala mereka juga ikut melayang seperti kode Nella itu.