Nella in Action

Nella in Action
Perasaan Aneh


__ADS_3

Hari seling berganti, Edy sampai tidak fokus dengan pekerjaannya. Masih terngiang bayangan sosok Nella di pikirannya, sampai Jessica berkunjung ke kantornya tidak di gubrisnya. Kadang Jessica jengkel padanya, ada apa dengan Edy. Tidak biasanya dia murung, linglung dan melamun setiap makan bersama di luar.



“Kita akhiri sampai di sini saja, Jess,” liriknya si Edy



Jessica mengernyit tidak mengerti, “Maksud kamu?” Kembali bertanya pada Edy



“Seharusnya kamu mengerti maksudku. Selama aku jalan bersamamu, bayanganku hanya tertuju pada Nella. Perasaanku sebenarnya tidak ada lagi untukmu,” jawab Edy menjelaskan kepada Jessica.



Jessica sendiri tidak memahami, pikiran kekasihnya itu. Jelas – jelas kemarin dia katakan hanya kasihan pada cewek aneh itu. Sekarang malah berubah, Jessica seperti di permainkan oleh Edy. Padahal ia sangat mencintai kekasihnya ini. Tapi, semua beralih pada cewek aneh. Spesial apa sih dari cewek aneh itu? (pertanyaan dari Jessica)



“Jadi kamu mulai menyukai cewek aneh itu? Lalu aku hanya pelarianmu? Jangan bercanda, Edy. Aku tahu kamu hanya kasihan padanya, cintamu itu hanya –"



“Tidak, Jess, aku tidak sedang bercanda. Aku serius, hubungan kita tidak bisa di lanjutkan lagi,” kata Edy menatapnya serius.



Jessica mendengus kesal lebih memilih bangkit dari duduknya dan meninggalkan Edy di kafe sendirian. Jessica benci dengan suasana yang tidak menguntungkan baginya. Rela putus dengan selingkuhan tapi yang di dapat malah mengecewakan.Edy menghembuskan napasnya panjang, memanggil pelayan kafe itu, di keluarkan beberapa lembar mata uang di dompetnya berikan kepada pelayan tersebut. Ponselnya bergetar kuat, nomor tidak di kenal.


__ADS_1


“Halo!” sapanya lebih dulu.



Dua bola matanya mendelik lebar dia pun bangkit dari duduk merasa kaget, segera keluar dari kafe tanpa mengambil kembalian.



“Baiklah, aku akan segera ke sana!”



Akhir kata di hidupkan mobilnya ponsel itu ia letakkan di depannya memasangkan earphone bluetooth di tekan nomor tujuan. Dengan kecepatan tinggi Edy menancapkan mobilnya. Sampai dirumah sakit, Alex dan Luna lebih dulu sampai di tempat ini. Setelah di kabarkan oleh Edy.


Terengah-engah Edy berlari, saat ini dokter sedang menangani Nella.




••••



Di  kamar rawat Edy berdiri sedikit menjauh dari tempat brankar Nella tempati. Luna menceramahi adiknya yang bertindak ceroboh, jelas-jelas mempunyai tubuh lemah masih sok-sokan menahan badai hujan yang dingin itu.



“Iya, kakak yang bawel. Lala minta maaf, Sekarang Lala sudah tidak apa-apa. Masih hidup,” katanya masih bisa bercanda lagi. Tidak sadar semua orang mengkhawatirkan keadaannya.


__ADS_1


Nella melirik Edy yang dari tadi diam tidak bersuara, sebenarnya masih ada sedikit luka di hatinya. Karena mendengar dari Luna, dia pingsan itu Edy menemukan di atas genteng yang hampir terjatuh. Salahnya sih, kalau tidak ada dia yang tolong mungkin Nella sudah hilang kenangan manis bersama Om Edy.



“Ya sudah, Kakak keluar sebentar beli makanan untuk kamu. Dy, tolong jaga adikku sebentar, ya!” Seru Luna bangkit dari duduknya lalu keluar bersama Alex.



Luna memang sengaja membiarkan mereka berdua di dalam. Mungkin ini lebih baik di selesaikan, padahal kemarin pernikahan mereka malah harus di tunda karena kejadian menimpa Nella tiba-tiba.


Edy masih diam di tempat tak berpindah-pindah, gugup dan apa yang harus dia lakukan pun bingung sendiri. Nella malah mendehem sepertinya tenggorokan kering dan gatal. Di raih gelas samping mejanya. Edy langsung mengambil untuknya, Nella diam mau tak mau menerima gelas berisi air putih.



“Maaf,” satu kata terlontar kan dari mulut Edy, Nella terdiam tidak menanggapi tetap melanjutkan minumnya.



“Kamu pasti kecewa karena ucapanku kepada Jessica. Aku bukan maksud mengatakan seperti itu. Aku mengakui ini salah, kamu sudah buat aku bingung untuk memilih. Pernikahan kita masih berlanjut. Aku tetap akan menikahimu, menghamilimu. Itu, kan, yang kamu, mau?” ungkap Edy panjang lebar, Nella masih diam tidak menjawab padahal minuman din gelasnya sudah kosong.



Telinganya memanas, karena ungkapan dari lelaki yang dia cintai, Jangan mudah tergoda, dia hanya kasihan padamu, Lala. ~ katanya dalam hati.



“Aku tidak kasihan padamu, kok. Aku tulus, mengatakannya. Kamu sudah menghancurkan tembok yang sulit di belah menjadi dua bagian. Aku suka kamu segala pikiran konyol, Kata-kata yang tidak berpikir dua kali. Rasa Ice cream jagung memang membantu aku menerimamu kekurangan dan kelebihan,” ucapnya lagi.


Nella malah menggigit gelas, saking panasnya telinga dan kedua pipinya. Malu bukan, gugup juga bukan. Cuma aneh saja kok jadi bahas ini sih (pikirnya). Edy menarik gelas dari tangan Nella yang sempat menggigit tersebut. Dua bola mata Nella melebar ingin keluar dari sarangnya.


__ADS_1


__ADS_2