
Esok paginya telah tiba, cuaca lagi tidak mendukung. Hujan, adalah paling di benci oleh Nella sendiri. Rasa mood booster sedikit menghilang dari kehidupannya. Padahal hari ini adalah di mana ia memanjakan diri di salah satu salon ternama dan terbaik di jakarta.
Sementara Edy tengah sibuk dengan beberapa dekorasi gedung, tata rias, katering segalanya untuk persiapan pernikahan yang akan di meriah sangat besar. Terakhir seumur hidup untuk menikahi seorang cewek barbar adalah momen terindahnya.
Bunyian ponsel ada di dalam saku celananya bergetar beberapa kali, di rogoh saku itu, terpampang foto seorang wanita tengah menikmati eskrim itu, siapa lagi kalau bukan Nella. Kapan Edy mengambil ekspresi foto itu ketika cewek barbar menikmati eskrimnya.
Yang lebih pasti telah lama mengambil foto itu. Setiap waktu hanya foto itulah merapat ke rindukan selama dua tahun tersebut.
Cewek Barbar
Om, masih lama?
Bosan nih! 😓
Ketika membaca pesan chat dari cewek barbar itu, terbit senyuman dari Edy tidak pernah redup. Selalu terang setiap menerima pesanan lucu dari calon istrinya.
Om Edy
Iya sebentar lagi, pulang kok.
Sudah makan belum?
Edy membalas pesan chat-nya kemudian dimasukan kembali ponsel ke dalam saku celananya, tak beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Cewek barbar.
Belum, 😞
Om Edy
Loh, kenapa?
Cewek barbar
__ADS_1
Karena hujan terus menganggu
Selera makanku. 😋
Alisnya mengerut berlipat - lipat saat membaca balasan dari calon istrinya.
Ada saja kata-kata lucu itu bikin hatinya berseru bunga-bunga apalagi kalau senyum diam-diam buat orang yang bekerja di dalam gedung terheran-heran sama pemiliknya.
"Pak! Pak Edy!" Seseorang tengah memanggilnya, ia pun mengangkat kepalanya.
"Iya!" responnya kemudian tidak ia balas lagi pesan itu dari Nella.
Sedangkan di kamar Nella uring-uringab seperti kucing bermain bola, menatap ponselnya setinggi - tinggi. Tak ada tanda balasan dari calon suaminya itu.
"Ihh... kok malah di baca doang! Balas dong, Om! Enggak ada bedanya sama hujan, bikin nyesek saja! Huaaaa.... Om Edy....!" mewek Nella berteriak apa yang ia tangisi.
Suara air hujan semakin deras menutupi teriakan milik Nella. Luna yang tengah terlelap dalam tidur menepuk pantat putranya berusia dua tahun itu.
Rintihan suara air hujan mulai terdengar di atas genteng tersebut. Edy, segera keluar dari kafe itu. Menutupi kepalanya dengan tangannya sendiri. Baru beberapa detik saja, air derasan hujan sudah menutupi kaca mobilnya itu.
Terpaksa ia menunggu di dalam mobil, karena percuma jika melanjutkan perjalanan pulang, akan memakan waktu yang lama. Belum lagi jalanan macet, ia pun membuka kresek plastik di ambil salah satu makanan hangat yaitu hamburger.
••••
Nella terbangun karena perutnya terasa lapar, di tatap ponselnya sudah pukul delapan malam. Bangkit dari posisi tertidur, hujan telah berhenti. Menguap selebar-lebarnya, ketika akan membuka gagang pintu, seseorang juga ikut membuka pintu itu.
Duk!
__ADS_1
"Aduh!" pekik Nella seketika keningnya di cium sama bibir pintu.
Sontak Edy menoleh, menatap cewek barbar-nya mengelus keningnya yang denyut-denyut itu.
"Ops! Maaf!" Edy semakin salah, kan. Padahal ia ingin bangunkan calonnya malah tercium sama bibir pintu.
"Ih, kok kening Lala di cium sama pintu sih! Sakit banget! Sebal banget!" cicit Nella mengelus keningnya yang bekas merah.
Edy menarik tangannya jauhi dari keningnya itu. Rasa denyutan menjadi hangat setelah Edy menciumi kening benturan pintu itu.
Nella terdiam, rasanya nyaman dan hangat setelah calon suaminya semakin perhatian.
"Sudah enggak sakit, lagi, kan?" Kata Edy setelah menciumnya.
"Masih, kok, Om!" balas Nella cepat.
"Masih?" Nella manggut-manggut.
"Dimana?" tanya Edy, Cup!
Nella menjinjit menarik baju Edy sehingga tubuh tegapnya sedikit menunduk dan Nella pun mencium keningnya. Ekspresi Edy terpaku diam yang di lakukan oleh calonnya itu. Cukup lama Nella mencium kening itu.
"Terima kasih, sudah mau menerima cinta Lala, I love you, Uncle." ucap Nella senyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
Edy terpana dengan ucapannya, dasar cewek barbar benar bikin orang menepuk jidat sendiri. Karena dia juga, perasaan dalam keraguan pun yang redup akhirnya mekar dengan indahnya.
"I love you too, cewek barbar." Edy membalasnya dengan ciuman terhangat di temani suara hujan yang deras.
__ADS_1