Nella in Action

Nella in Action
Honeymoon


__ADS_3

Honeymoon telah tiba, berangkat waktunya terbang untuk dua sepasang sejoli ini. Nella seperti mau minggat dari rumah, bawaannya banyak entah apa saja.



"Hati-hati, ya, jangan lupa bawa penghuni baru pulang," ucap Roy kepada Nella.



"Bawa penghuni baru? Maksudnya?"Nella tambah bloon saja sama kode dari Pamannya Alex.



"Bawa kado kebahagiaan. Bawa keponakan untuk kami berempat ya!" Roy menjelaskan.



"Memang bisa?" tanya Nella lirik Edy, Edy sih mengedik bahu.



"Bisa, dong. Sudah Huss.. Huss... berangkat saja. Buat yang banyak, biar ramai!" teriak Roy.



Dalam perjalanan Nella masih bertanya-tanya di kepalanya soal pertanyaan dari Om Roy. Maksudnya apaan coba.



Ketika di dalam pesawat, Nella masih bingung di cari google pertanyaan dari Om Roy nggak ketemu, terus tanpa rasa malu ia pun brtanya pada suaminya.



"Om, maksud dari Om Roy, apa? Bawa ponakan banyak? Carinya di mana? Kan, kita bulan madu bukan bawa kurcaci dari dogeng?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Nella



Edy antara ingin mencium istri barbarnya yang super lemot atau pura-pura begok sih?



"Nanti sampai di hotel baru aku jelasin ke kamu, ya," jawabnya kembali tidur.



Nella makin penasaran, kok tunggu di hotel, memangnya pertanyaan itu harus diam-diam, ya? - batinnya dalam hati.



•••••



Akhirnya sampai juga di Paris, telah malam pukul 22.05 p.m. Perjalanan panjang.



Pullman Paris Tour Eiffel Hotel langsung penampakan menara Eiffel-nya. Keinginan


untuk istri tercinta, Nella membuka jendelanya lebar - lebar terpampang sangat jelas menara itu, indah dan benar ingin memanjat menara itu seperti Spider-woman



"Om, habis ini, kita ke sana, yuk! pengen panjat." Nella mengajak suaminya ke tempat menara itu.


__ADS_1


"Kamu nggak capek? Besok saja, sekarang istirahat dulu. Sini..." di tepuk sampingnya tempat tidur untuk bermanja - manja dulu.


"Malam begini enaknya lihat menara itu. Kan, lebih romantis." rengeknya duduk di samping suaminya.



"Besok, kan, masih bisa ke sana. Dia nggak kemana-mana, kok. Sekarang waktunya tidur manja. Kamu nggak mengantuk?"



Nella menggeleng kepala, tapi bibirnya bersentuhan dengan bibir suaminya. Kemesraan pengantin baru tidak pernah habisnya.



"Tunggu sebentar!"



"Ada apa?"



Padahal sudah ujung tanduk pun, masa berhenti ditengah jalan.



"Lala teringat sesuatu," ucapnya duduk dengan kedua melipat.



Terpaksa di urungkan untuk buat anak tertunda. Edy menunggu lanjutan dari istri barbarnya.




Dihembuskan napasnya panjang, ia mengira apa yang mau di tanyakan. Sudah jelaskan tadi, mau buat anak.



"Maksudnya dari Om Roy itu. Tentunya buat anak dong, sayang. Setelah honeymoon nanti pulang bawa kado terindah, ya, kehamilan kamu," jawabnya menjelaskan.



"Oh begitu, terus yang banyak maksudnya bagaimana, kan, Lala belum lahirin? Gimana bawa pulang?" kembali pertanyaan di ulang-ulang.



Edy langsung menunduk, kenapa setelah menikah dengan cewek barbar ini. Bukannya makin pintar pikiran hal dewasa. Bertambah dodol otaknya, terlalu banyak makan durian jadinya makin bloon.



"Om... kok diam? Lala tau kok maksud dari jawaban, Om. Ayo, lanjutin!"



Nella langsung melompat menimpa tubuh suaminya, untung di atas ranjang. Kalau nggak, gegar otak kepalanya.



Posisi tadi Nella di atas sekarang berpindah posisi di bawah, sang rembulan indah banget bulat dan terang. Menyinari kebahagiaan mereka berdua di sana.



•••••

__ADS_1



Terik matahari telah meninggi menyinari sela pantulan jendela. Merasa terganggu cahaya pada matanya yang masih tertutup rapat.



Nella menutupi dengan tangannya mau tak mau ia pun membuka kedua matanya, sudah pagi. Pelukan hangat dari suaminya, baju bertebaran di mana - mana.



Nella bahagia sekali punya suami yang begitu agresif. Ciuman pagi untuk suaminya. Enggak ada ekspresi apa pun Edy masih pulas tidurnya. Ia kembali mencium bibirnya tanda membangunkan suaminya. Masih sama tidak ada ekspresi.



Dengan cara kasar, di pencet hidung mancung suaminya itu. Kedua alis berkerut lipat-lipat tak dapat hembusan napas. Nella menahan tawanya suka banget bikin suaminya kesusahan bernapas. Mulutnya juga di tutup oleh Nella sendiri.



"Kyaaa..." Tangan Edy menggelitik bagian agresifnya milik istri barbar itu.



"Om, sudah!" Nella nggak tahan rasa geli dari jari-jari suaminya terus menggelitiknya.



"Ampun? Ampun nggak?" Edy bangun dari tidur masih menggelitik perutnya.



"Iya, Om... Am... pun... sudah!" Kehabisan napas gara-gara ketawa terus menerus. Air mata pun keluar dari pelupuk mata.



Ciuman hangat untuk istri tercinta. Lama lagi ciumnya, masih belum tuntas, kah. Main adonannya.



"Engh... Om..." Lenguh Nella bersuara, "hmm..."



"Lapar...." lanjutnya tatapan sayup.



"Lapar? Makan Om saja biar kenyang," gombal si Edy.



"Ih... mesum mulu otak, Om, ini! Isi tenaga dulu. Baru lanjutin adonannya. Kalau enggak di kasih mentega cair, kapan kembang perutnya!" ngomel si Nella.



"Iya, iya, isi tenaga. Setelah full lanjut ya. Bikin banyak, kalau bisa kembar enam," balasnya.



"Memang kurcaci, enam!"



Perdebatan kembali lagi, dihotel enggak ada yang paham bahasa mereka. Jadi sah-sah saja perdebatan mereka di kamar itu.


__ADS_1


__ADS_2