Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Ketakutan


__ADS_3

Dengan perasaan takut dan tangan gemetaran Jihan menunggu hasil tes yang kedua kalinya. Saat dibuka matanya perlahan terlihat ada garis dua berwarna merah membuat Jihan merasa terkejut. Dia langsung mengusap matanya seakan tidak percaya dan berharap apa yang dilihatnya adalah salah. Tetapi saat diperhatikannya lagi ternyata penglihatannya tidak salah. Memang ada garis dua berwarna merah yang tertera di alat itu.


Jihan langsung menangis melihat hasil tespecknya. Dia merasa takut kepada kedua orang tuanya. Dia juga merasa takut akan membesarkan bayinya sendiri karena tidak tau siapa ayah biologisnya.


‘Maafkan Jihan, ayah ibu karena telah mencoreng nama baik keluarga kita. Tapi Jihan sendiri sebenarnya bingung karena kejadian itu begitu cepat terjadi dan Jihan sendiri tidak tau siapa yang melakukannya. Apa yang harus aku lakukan setelah ini,’ batin Jihan bingung.


***


“Tok... tok... Jihan, ayo cepat sarapan. Entar kamu terlambat loh...” panggil ibunya dari luar.


“Sebentar Bu, Jihan lagi bersiap-siap,” jawab Jihan dari dalam kamarnya.


Sebenarnya Jihan sudah selesai dari tadi tapi dia yang sedang dilanda masalah merasa malas untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Sejak tadi dia hanya memainkan ponselnya. Sebentar dilihat, sebentar ditutup ponselnya. Dia merasa bingung dan sedih menghadapi masalah ini. Ingin sekali dia langsung ketemu Rani dan menceritakan semuanya supaya Rani bisa memberikan solusinya.


Dengan langkah berat Jihan berjalan menuju ke meja makan. Di sana ayah dan ibunya sudah menunggunya untuk sarapan pagi. Begitu Jihan akan duduk di kursi tiba-tiba ibunya yang melihat kedatangannya dan melihat wajah Jihan yang pucat langsung berkata.


“Kamu sakit Jihan?” tanya ibunya sambil memperhatikan wajah Jihan.


Dengan perasaan berat Jihan menjawab. “Nggak Bu, Jihan nggak apa-apa kok.”


“Kalau kamu sakit, nggak usah sekolah aja ya Jihan,” ucap ayahnya khawatir.


“Nnggak kok Yah, Jihan nggak apa-apa. Ayah jangan khawatir...”


“Tapi wajah kamu tampak pucat Jihan,” ucap ayahnya lagi.


Jihan berusaha untuk tegar dengan berpura-pura tersenyum.


“Jihan nggak apa-apa loh Yah,” ucap Jihan meyakinkan kedua orang tuanya.


Kemudian dia langsung mengambil nasi ke piringnya. Sedangkan kedua orang tuanya sudah mulai makan.


Saat uap dari nasi yang masih panas menyengat ke hidung Jihan, tiba-tiba Jihan merasakan mual dan ingin muntah tapi buru-buru ditutup mulut dan hidungnya. Jihan kemudian mengambil lauk dan sayur ke piringnya dan mencoba untuk memakannya. Tetapi makanan itu belum sempat masuk ke mulutnya Jihan sudah tidak tahan ingin muntah. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Melihat Jihan yang seperti akan muntah ibunya langsung mengikutinya ke kamar mandi.


“Kamu kenapa Jihan?” tanya ibunya khawatir.

__ADS_1


“Nggak apa-apa Bu, mungkin Jihan masuk angin,” jawab Jihan lemas.


“Ya udah, entar lagi ibu kusuk ya. Sekarang kamu istirahat aja di kamar dan tak usah sekolah.”


“Tapi hari ini bagi kartu ujian Bu karena lusa Jihan ujian akhir.”


“Kamu wa aja Rani minta tolong agar kartu ujian kamu diambilkan.”


Jihan yang merasa badannya tidak enak langsung menuruti ucapan ibunya. Dia langsung masuk ke kamarnya untuk istirahat sedangkan ibunya kembali ke meja makan melanjutkan makannya.


“Kenapa Jihan, Bu?” tanya ayahnya ketika bu Dwi kembali ke meja makan.


“Sepertinya Jihan masuk angin Yah.”


“Apa perlu kita bawa ke dokter, Bu?”


“Jihan nggak mau Yah. Katanya dia mau istirahat aja dulu sebentar lagi biar ibu kusuk pakai minyak angin.”


Di kamar Jihan langsung membuka seragam sekolahnya dan mengganti dengan pakaian rumah. Setelah itu dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Badannya terasa lemas dan mulutnya terasa pahit. Jihan yang merasakan badannya tidak enak langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur agar ketika terbangun dia sudah lebih enakan.


“Jihan, ayo biar ibu pijat badan kamu dengan minyak angin...”


Jihan yang tampak lemas langsung membuka matanya.


“Nggak usah Bu. Jihan mau tidur aja. Paling entar lagi sudah mendingan,” ucap Jihan dengan suara berat.


Tapi bu Dwi yang merasa khawatir dengan keadaan putrinya langsung memaksa Jihan sehingga Jihan tidak dapat berbuat apa-apa dan menuruti kemauan ibunya. Tidak perlu waktu lama bu Dwi pun selesai memberikan minyak angin ke sekujur tubuh Jihan.


“Ya udah sekarang kamu istirahat aja dulu ya. Entar lagi kalau sudah mendingan kamu sarapan. Ibu mau belanja ke warung dulu ya.”


Jihan hanya menganggukkan kepalanya. Begitu bu Dwi keluar dari kamarnya Jihan Langsung menangis. Dia merasa sangat sedih dan bersalah pada kedua orang tuanya.


‘Maafkan Jihan, bu,” batin Jihan dengan perasaan sedih.


Ingin sekali rasanya menceritakan semuanya pada ibunya tapi Jihan masih ragu apakah nanti ibunya bisa menerima kenyataan ini. Jihan merasa bimbang dan ragu antara menceritakan atau tidak tentang kejadian yang telah menimpanya sebulan yang lalu. Tapi kalau tidak diceritakan suatu saat ibunya juga pasti akan tau karena lama-kelamaan perutnya akan semakin besar dan tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupinya.

__ADS_1


Setelah lelah memikirkan apa yang harus dilakukannya, akhirnya Jihan pun tertidur. Saat dia terbangun dan melirik ke jam yang ada di dinding kamarnya ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jihan langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke dapur untuk menemui ibunya. Tetapi sampai di dapur dia tidak menemukan ibunya.


Kemudian Jihan mencari ke kamar ibunya dan tidak menemukan ibunya juga. Jihan merasa heran karena saat jam tujuh pagi tadi ibunya mengatakan akan pergi belanja ke warung, tetapi sudah jam sembilan belum juga pulang.


‘Ibu sebenarnya pergi ke mana ya. Kenapa sudah jam segini belum pulang juga. Padahal jam tujuh tadi ibu pamit akan belanja ke warung. Memangnya apa yang dibelanjakan ibu sampai jam segini belum juga pulang.’


Jihan yang merasa tubuhnya masih lemas kemudian duduk di meja makan. Sebenarnya niat awalnya ingin sarapan tapi karena khawatir dengan keadaan ibunya yang juga belum pulang akhirnya Jihan hanya duduk di meja makan sambil menunggu kedatangan ibunya.


Tidak berselang waktu lama ibunya pun tiba.


“Assalamualaikum...” ucap bu Dwi masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam...” jawab Jihan.


“Kamu udah sarapan Jihan?” tanya ibunya.


“Jihan nunggu Ibu makanya belum sarapan.”


“Kenapa kamu nunggu ibu. Ibu udah sarapan. Ya udah kamu sarapan sekarang,” ucap bu Dwi sambil berjalan menuju ke dapur.


Jihan yang merasa penasaran karena ibunya belanja ke warung cukup lama langsung bertanya.


“Ibu kenapa lama kali belanjanya?”


Bu Dwi langsung duduk di meja makan.


“Saat ibu akan pulang ke rumah, ibu lihat di rumah bu Nisa ramai makanya ibu singgah,” jelas bu Dwi.


“Memangnya ada apa di rumah bu Nisa, Bu?” ternyata Jihan.


“Dinda mengalami pendarahan dan bu Nisa panik. Ibu dan tetangga lainnya langsung memanggil bidan.”


“Jadi gimana kondisi Dinda, Bu?”


“Tapi syukurnya Dinda masih bisa diselamatkan. Hanya saja bayinya tidak bisa diselamatkan padahal bayinya terlihat sehat.”

__ADS_1


__ADS_2