
Tidak lama kemudian Leo yang sejak awal merasa takut akan bertanggung jawab akan hal ini akhirnya dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Aku sebelumnya minta maaf pada kamu, Jihan. Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab pada kehamilan kamu, tapi kan kamu tau sendiri bahwa kita berbeda keyakinan.”
“Jadi maksud kamu, karena kalian beda akidah kamu tidak mau bertanggung jawab?” ucap Rani dengan nada marah.
“Bukan seperti itu Rani. Aku telah mempertimbangkannya tapi yang jadi masalah sekarang bahwa kami beda. Aku nggak mungkin merubah keyakinan ku, sebaliknya Jihan juga seperti itu. Nggak mungkin Jihan terpaksa mengikuti ku.”
“Kalau kamu memang benar-benar bertanggung jawab terhadap anak kamu, kamu harus ikut aku karena anak ini akan terlahir dengan keyakinan ku,” ucap Jihan.
“Benar Leo. Anak yang akan dilahirkan Jihan akan mengikutu ibunya,” jelas Rani.
“Tapi nggak bisa seperti itu juga karena bayi itu adalah darah dagingku. Jadi harus mengikutiku,” ucap Leo.
“Aku nggak mau Leo,” ucap Jihan marah.
Jihan yang sudah bertekad bulat tidak akan pindah keyakinan.
“Kalau memang kamu tidak mau, ya sudah tidak apa-apa. Aku akan membesarkan anak ini sendiri dan kalau sudah besar nanti kamu tidak berhak atas anak ini. Aku ingatkan sekali lagi sama kamu. Lebih baik aku melahirkan bayi ini tanpa seorang ayah. Ayo Rani sekarang kita pergi.” Jihan langsung menarik tangan Rani dan pergi dari hadapan Leo.
Jihan merasa kesal dan sedih mendengar jawaban Leo yang sepertinya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
Melihat Jihan dan Rani pergi, Leo hanya bisa terdiam sambil memandang kepergian mereka. Leo merasa bingung dengan keputusannya sendiri. Sebenarnya dia ingin bertanggung jawab atas kehamilan Jihan, tapi itu bertentangan dengan nuraninya.
***
Begitu sampai di depan cafe, Jihan dan Rani langsung memanggil angkutan umum yang arah ke taman bunga. Mereka naik ke dalam, tiba tiba Rani tersadar dan merasa heran langsung berkata. “Kenapa kita naik angkutan ini Jihan. Bukankah angkutan ini tidak lewat dari depan rumah kita.”
“Aku mau ngobrol di taman agar pikiranku lebih tenang,” ucap Jihan yang masih merasa kesal dengan keputusan Leo.
Mendengar penjelasan Jihan akhirnya Rani pun hanya bisa terdiam mengikuti kemauan Jihan yang sedang galau.
***
Sampai di taman bunga mereka duduk di bangku yang jauh dari keramaian.
“Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan Rani? tanya Jihan.
“Aku juga bingung Jihan dengan masalah ini. Karena kalian beda keyakinan,"
“Benar apa yang kamu katakan Rani. Masalah ini tidak akan ada ujungnya, itu artinya anak ini akan lahir tanpa seorang ayah.”
Rani pun menganggukkan kepalanya sambil mengelus pundak Jihan untuk memberi kekuatan dan support.
“Sepertinya leo mau lari dari tanggung jawabnya.”
“Kalau menurut aku tidak seperti itu. Sebenarnya dia mau bertanggung jawab atas kehamilan kamu, hanya saja dia masih bingung, ini permasalahan yang pelik.”
“Tapi kalau dia benar-benar mencintai darah dagingnya, dia pasti mau berkorban.”
“Tidak semudah itu Jihan. kita tidak bisa memaksa, atau kamu mau kalian tetap nikah tapi berbeda keyakinan, banyak loh fi tv aku lihat,"
“Ya nggak mungkin.”
“Ya justru itu makanya kamu nggak bisa memaksakan kehendak kamu. Itulah salah satu yang membuat hal terberat dalam memecahkan masalah ini.
***
Leo merasa tidak tenang. Dia masih memikirkan ucapan Jihan yang memintanya untuk mengakui bayi yang ada dalam kandungannya sekaligus menikahinya
. Leo merasa bimbang, antara tanggungjawab dan orangtuanya.
Mamanya sejak tadi memperhatikan sikap Leo merasa heran.
“Kamu kenapa Leo. Mama perhatikan kamu banyak melamun.”
“Nggak apa-apa Ma...” jawab Leo tersenyum menutupi kekhawatiran mamanya.
__ADS_1
“jangan bohong, kamu ada masalah? apa kamu berkelahi lagi di sekolah?”
“Nggak loh Ma...”
“Kamu jangan bohongi mama, Leo. Kamu dari dulu tidak pernah berubah, selalu membuat keributan. Mama nggak mau ya sampai dipanggil lagi oleh wali kelas kamu ke sekolah,” ucap bu Rini dengan nada mengancam.
Melihat mamanya marah Leo langsung mendekatinya dan merangkul pundak mamanya.
Mamaku sayang, jangan khawatir ya. Leo sekarang sudah berubah. Leo nggak akan pernah buat keributan yang membuat Mama jadi khawatir,” jelas Leo berusaha bersikap manis di depan mamanya.
“Syukurlah kalau kamu sudah berubah karena kamu satu-satunya harapan mama dan papa yang nantinya akan meneruskan usaha papa.”
“Leo paham Ma tentang itu.”
“Jadi apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?” tanya mamanya lagi.
Leo yang takut mamanya marah kalau dia berterus terang akhirnya dia pun berbohong.
“Leo sedang memikirkan masuk perguruan tinggi Ma.”
"Benarkah?" sambut sang ibu senang
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Leo berubah pikiran Ma.”
“Maksud kamu...” tanya bu Rini heran.
“Leo kuliah di Medan aja ya Ma.”
Bu Rini seperti tidak percaya dengan ucapan Leo yang tiba-tiba berubah.
‘Apa benar Leo nggak mau kuliah di Jakarta. Jangan-jangan ini hanya taktik Leo karena ada sesuatu yang akan dimintanya. Karena biasanya kalau Leo menginginkan sesuatu maka dia akan berbuat baik,’ batin bu Rini seperti tidak percaya.
Bu Rini langsung memperhatikan wajah putranya. Dia seperti tidak percaya dengan ucapan putranya. Sejak awal mamanya sudah menyarankan agar Leo kuliah di Medan aja supaya bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Tapi Leo tetap ngotot ingin kuliah di Jakarta karena kebetulan keluarga papanya berada di Jakarta.
Sementara bu Rini tidak ingin berpisah dengan putranya karena Leo anak satu-satunya. Tapi karena Leo tetap ngotot ingin kuliah di Jakarta akhirnya bu Rini menyetujuinya walaupun dengan perasaan berat.
“Kamu yakin dengan ucapan kamu barusan?”
Sambil tersenyum Leo berkata. “Kenapa Mama nggak percaya dengan ucapan Leo sih...”
“Gimana mama mau percaya sedangkan sebulan yang lalu kamu ngotot ingin kuliah di Jakarta padahal sudah mama kasih pandangan. Kalau kamu kuliah di Jakarta tidak setiap saat bisa ketemu mama dan papa sementara kamu kan tau sendiri mama nggak bisa pisah dengan kamu,” ucap bu Rini sambil mengelus kepala putranya dengan lembut.
Karena Leo anak tunggal sehingga bu Rini selalu memperlakukan Leo seperti anak-anak. Terkadang Leo merasa kesal dengan sikap mamanya yang terlalu mengkhawatirkannya. Lama sedikit pulang ke rumah mamanya selalu menelponnya. Makan Leo sering diejek oleh teman nya yang mengatakan Leo anak mama.
“Sekarang jelaskan alasannya kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran,” pinta bu Rini.
Leo langsung memegang tangan mamanya. “Karena Leo nggak mau pisah dengan Mama.”
Mendengar ucapan putranya bu Rini tersanjung dan dia merasa senang sekali. Kemudian dipeluknya Leo.
“Mama juga sama Leo nggak bisa pisah dengan kamu. Jadi kamu benar kan mau kuliah di Medan aja?” tanya bu Rini memastikan.
“Benar Ma. Leo mau kuliah di Medan aja biar setiap hari ketemu Mama sekalian Leo bisa belajar mengelola usaha papa.”
“Baguslah kalau kamu berubah pikiran. Karena memang itulah harapan mama dan papa supaya kamu kuliah di Medan dan setiap harinya kamu bisa membantu papa dalam mengelola usahanya.”
Leo hanya bisa tersenyum melihat mamanya tampak senang begitu mengetahui dia membatalkan rencananya untuk kuliah di Jakarta.
Sejak awal Leo sudah berniat untuk kuliah di Jakarta meskipun mamanya menentang keras. Tapi dengan kejadian yang menimpah Jihan, Leo merasa ragu untuk kuliah di Jakarta. Karena dalam hati kecilnya dia ingin mengakui anak yang dikandung Jihan adalah anaknya. Tapi dia tidak mau untuk berpindah agama. Leo sudah berencana untuk mendatangi Jihan lagi dan akan bertanggung jawab yang penting Jihan mau pindah ke agamanya.
Leo yakin setelah melahirkan nanti Jihan pasti tidak bisa menolak kalau diajak berpindah agama. Leo yakin kalau Jihan pasti menginginkan anaknya lahir dan mempunyai seorang ayah.
***
Bu Rini yang merasa senang dengan niat Leo untuk kuliah di Medan langsung menceritakan hal ini pada suaminya.
__ADS_1
“Pa, tadi mama ngobrol dengan Leo dan katanya Leo membatalkan niatnya untuk kuliah di Jakarta.”
Pak Rinto terdiam sambil memperhatikan wajah istrinya seperti tidak percaya dengan ucapan istrinya.
“Leo tidak mau kuliah di Jakarta?” tanya pak Rinto tidak percaya.
“Benar Pa.”
“Bukankah semalam itu dia ngotot ingin kuliah di Jakarta, kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran?” tanya pak Rinto lagi.
“Mama juga nggak tau Pa. Tapi mama senang dia berubah pikiran.”
“Tunggu dulu Ma. Mama jangan langsung senang dulu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Leo.”
“Maksud Papa apa?” tanya bu Rini lagi.
“Kan nggak mungkin Leo tiba-tiba berubah pikiran, sementara semalam dia ngotot akan kuliah di Jakarta.”
“Mungkin setelah direnungkan dan dipikir-pikir ternyata dia tidak bisa berpisah dengan kita makanya dia memutuskan untuk kuliah di Medan aja.”
“Dia cerita sama Mama, apa alasannya?”
“Menurut cerita dia, alasannya dia tidak bisa pisah dengan kita. Kalau dia kuliah di Jakarta kan paling bisa pulang enam bulan sekali. Sementara kalau kuliah di sini setiap hari ketemu sama kita dan dia katanya ingin belajar mengelolah usaha Papa supaya ke depannya dia bisa meneruskan usaha Papa.”
“Tapi papa belum yakin betul dengan alasan dia, Ma.”
“Papa jangan suka berburuk sangka kenapa sih. Papa selalu berburuk sangka pada Leo,” ucap bu Rini mulai marah.
“Bukan seperti itu maksud papa, Ma. Papa hanya nggak yakin aja kalau hanya itu alasannya sampai dia membatalkan niatnya untuk kuliah di Jakarta.”
“Terserah Papa aja deh, mama malas ribut,” ucap bu Rini dan langsung meninggalkan suaminya.
Bu Rini merasa kesal dengan sikap suaminya yang tidak percaya dengan anaknya sendiri. Memang selama ini Leo sesalu membuat masalah tapi bukan berarti Leo tidak dapat berubah. Itulah alasan bu Rini mempercayai ucapan Leo.
Bu Rini merasa kalau Leo telah berubah menjadi lebih baik.
Sedangkan pak Rinto hanya diam saja sambil memikirkan ucapan istrinya barusan. Pak Rinto masih belum bisa mempercayai ucapan Leo karena selama ini Leo selalu membuat masalah.
***
Selesai makan malam Leo langsung masuk ke kamarnya. Bu Rini yang melihat sikap Leo dua hari ini berubah merasa heran. Tidak seperti biasanya Leo yang selalu banyak bicara bahkan dia selalu menonton TV di ruang tengah bersama mamanya. Tapi sudah dua malam ini selesai makan malam dia langsung masuk ke kamarnya. Bahkan kalau siang dia lebih banyak berdiam diri di kamarnya.
Saat masih sekolah dia selalu pergi dengan teman-temannya pulang dari sekolah dan sore hari baru pulang. Tapi begitu selesai ujian dan tidak pergi ke sekolah lagi justru Leo semakin betah tinggal di rumah. Setiap hari waktunya dihabiskan di kamarnya.
Bu Rini yang merasa heran dengan sikap Leo yang tiba-tiba berubah langsung ingin tahu.
Bu Rini kemudian menemui Leo di kamarnya dan ingin tau kegiatan yang dilakukan Leo di kamarnya. Sengaja bu Rini tidak mengetuk pintu kamarnya. Dia langsung membuka pintu kamar Leo dan masuk ke dalam.
“Ceklek.” Pintu pun terbuka.
Melihat kedatangan mamanya, Leo sempat terkejut.
“Ada apa Ma?” tanya Leo.
Bu Rini tidak menjawab. Dia langsung berjalan mendekati putranya yang sedang duduk di sisi tempat tidur. Kemudian bu Rini duduk di samping Leo sambil memandang putranya.
“Ada apa Ma?” tanya Leo lagi.
Sambil tersenyum bu Rini berkata.
“Mama merasa heran dengan sikap kamu dua hari ini,” ucap bu Rini.
“Memangnya kenapa Ma?”
“Yang pertama, kamu tiba-tiba membatalkan niat kamu untuk kuliah di Jakarta. Yang kedua mama perhatikan selama dua hari ini kamu banyak diam.
Setiap hari kamu habiskan waktu kamu mengurung diri di kamar kamu padahal biasanya kamu tidak betah di rumah.
__ADS_1
Jangankan hari libur, hari sekolah pun kamu selalu pulang sampai sore dengan alasan main dulu ke rumah teman.
Sekarang kamu sudah nggak sekolah, kamu habiskan waktu kamu di kamar aja. Memangnya ada apa Leo? Cerita donk sama mama,” pinta bu Rini.