Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Jatuh cinta


__ADS_3

Setelah selesai sarapan bu Renggo dan Siti siap-siap untuk berangkat ke bandara sedangkan Rehan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


“Jangan lupa obat Mama dibawa ya,” ucap Rehan


“Gimana Leo, apakah Jihan sudah ditemukan?” tanya Bobby.


“Belum Bobby. Hal itulah yang membuat aku bingung dan khawatir.”


“Apa kamu sudah tanya sama temen-temennya Jihan?” tanya Tino.


“Udah Tino, tapi tidak ada yang tau di mana keberadaan Jihan saat ini. Makanya aku bingung. Aku juga merasa bersalah pada Jihan dan juga keluarganya,” jelas Leo.


“Makanya Leo, sebelum bertindak itu harus pikir akibatnya. Kalau sudah begini, apa yang bisa kamu lakukan. Nasi sudah jadi bubur,” jelas Tino.


“Benar Tino. Aku sangat menyesal tapi apa mau dikata. Semuanya telah terjadi dan berlalu begitu cepat.”


“Itulah yang namanya hidup Leo. Makanya kita harus pintar-pintar dalam menjalani hidup ini,” ucap Bobby menenangkan Leo.


“Tapi aku dengar dari Bobby, katanya kamu mau dituntut keluarganya ke pihak yang berwajib ya?” tanya Tino.


“Benar Tino. Awalnya keluarganya tidak terima dengan kejadian yang menimpa Jihan dan rencananya akan menuntut aku ke pihak yang berwajib. Tapi syukurnya tidak jadi karena kedua orang tua aku minta tolong pada orang tua Jihan untuk membatalkan niatnya itu,” jelas Leo.


“Jadi dibatalkan oleh orang tuanya Jihan?” tanya Tino lagi.


“Iya Tino, makanya aku tidak jadi di penjara. Tapi aku merasa sangat bersalah. Aku merasa malu atas perbuatanku. Aku sangat menyesal pada Jihan dan keluarganya.”


“Kamu sudah pernah minta maaf dan menemui kedua orang tua Jihan?” tanya Tino.


Leo menggelengkan kepalanya. “Belum Tino. Masih kedua orang tuaku aja yang datang menemui orang tua Jihan. Rencananya kalau Jihan sudah ditemukan, aku akan pergi ke rumahnya dan meminta maaf pada Jihan dan keluarganya,” jelas Leo.


“Hanya minta maaf aja?” tanya Tino lagi.


“Ya enggaklah. Selain meminta maaf, aku akan bertanggung jawab pada kehamilan Jihan.”


“Maksudnya, kamu mau menikahi Jihan?”


Leo kembali mengganggukah kepalanya.


“Gimana kalian mau nikah sementara kepercayaan kalian berbeda.”


“Itulah yang membuat aku pusing sampai saat ini.”


“Ya jalan satu-satunya dari kalian harus ada yang mengalah,” ucap Bobby.


“Benar Bobby apa yang kamu katakan. Hal itulah yang membuat aku bingung sampai saat ini karena aku kan nggak mungkin pindah kepercayaan, begitu juga dengan Jihan. Mana mungkin aku memaksakan dia untuk berpindah kepercayaan karena kepercayaan itu adalah hak kita masing-masing,” jelas Leo.


“Kalau memang seperti itu masalahnya, ya tidak ada titik temunya Leo. Kamu harus bisa menentukan pilihan.


Mempertahankan kepercayaan yang kamu anut saat ini, tapi kamu tidak akan bisa memiliki anak kamu. Atau kamu memiliki anak kamu tapi kamu harus mengorbankan kepercayaan yang kamu anut saat ini,” ucap Tino sambil memberikan pandangan.


“Benar apa yang dikatakan Tino, Leo. Kamu harus menentukan pilihan dan semua itu kamu yang memutuskannya. Kami juga tidak bisa memaksakan kehendak kamu,” ucap Bobby.


Bobby berusaha menenangkan temannya itu dengan menepuk-nepuk pundak Leo.


“Tapi untuk saat ini aku belum mikir masalah itu Bobby.”


“Kenapa Leo. Seharusnya kamu dari sekarang sudah bisa memikirkannya dan harus bisa mengambil keputusan nantinya.”


“Tapi untuk saat ini aku masih fokus mencari Jihan dulu.


Nanti setelah Jihan ditemukan, aku baru bisa memutuskannya seperti apa yang kalian katakan barusan,” ucap Leo.


“Semoga saja kamu menemukan jalan keluar yang terbaik ya Leo,” ucap Bobby memberikan semangat.


“Terima kasih teman...” jawab Leo.


Setelah bertemu dengan Bobby dan Tino, Leo merasa lebih tenang. Sekarang yang dipikirkan bagaimana menemukan Jihan secepatnya.


***


Samar-samar terdengar suara orang menangis membuat Rehan langsung terbangun dari tidurnya. Rehan yang baru terbangun dan masih setengah sadar mendengarkan kembali suara tangisan tersebut. Dia berpikir kalau itu hanya imajinasinya saja. Tapi setelah didengarkannya lagi ternyata suara itu adalah suara tangisan mamanya.


Rehan langsung bangkit dari tidurnya dan hendak keluar kamar tapi baru sampai di depan pintu kamarnya terdengar suara mamanya sedang memanggilnya.


“Rehan, bangun...” panggil bu Renggo dengan nada keras.

__ADS_1


Rehan langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat bu Renggo sedang menangis. Melihat mamanya menangis Rehan langsung panik.


“Ada apa Ma? Kenapa mama menangis?” tanya Rehan mendekati mamanya.


“Tante Rita, Rehan...” ucap mamanya.


“Kenapa dengan tante Rita, Ma?” tanya Rehan bingung.


“Tante Rita baru saja meninggal Rehan,” ucap bu Renggo sambil menangis.


“Apa, tante Rita meninggal?” ucap Rehan seperti tidak percaya.


Bu Renggo hanya menganggukkan kepalanya.


“Innalilahi wainnailaihi roji’un...” ucap Rehan.


Tante Rita adalah sepupu mamanya yang tinggal di Pekanbaru. Sebulan yang lalu tante Rita baru saja berkunjung ke rumah Rehan. Hubungan keluarga Rehan dan keluarga tante Rita sangat dekat membuat bu Renggo merasa kehilangan.


“Sekarang mama duduk dulu ya.” Rehan langsung merangkul pundak mamanya dan membawanya duduk di sofa yang ada di depan kamar.


Jihan tidak lama kemudian muncul dengan membawa segelas air putih.


“Bu, minum dulu airnya ya biar Ibu lebih tenang.” Jihan langsung memberikan gelas yang berisi air putih itu pada bu Renggo.


“Mama minum dulu ya biar lebih tenang,” ucap Rehan sambil mengelus pundak mamanya.


Kemudian bu Renggo langsung meminum air putih itu sampai habis. Setelah gelas itu kosong Jihan memintanya kembali dan langsung membawanya ke dapur.


“Jadi Mama mau pergi naik apa, mau naik pesawat atau naik mobil?” tanya Rehan.


Bu Renggo masih terdiam memikirkannya.


“Kalau mau naik mobil biar Rehan suruh pak Maman yang menyetir. Tapi Rehan nggak bisa ikut Ma karena ada tugas kantor yang harus Rehan selesaikan hari ini,” jelas Rehan.


“Kalau kamu banyak kerjaan di kantor, yang nggak apa-apa nggak ikut. Yang penting mama harus pergi,” jelas bu Renggo.


“Rehan kirim salam aja ya Ma pada keluarga tante Rita.”


“Iya Rehan. Kalau mama pergi naik mobil nanti nggak ketemu dengan jenazah tante Rita karena siang ini tante Rita akan dimakamkan.”


“Iya Rehan. Tolong pesankan tiket satu untuk mama ya,” pinta bu Renggo.


“Tapi Mama jangan pergi sendiri ya.”


“Jadi mama pergi dengan siapa. Kamu sendiri kan nggak bisa nemani mama.”


“Memang iya Ma, Rehan nggak bisa ikut. Jadi Mama pergi dengan Siti ya.”


“Pergi dengan Siti?” tanya Bu Renggo lagi.


“Iya Ma. Mama harus pergi dengan Siti.”


“Tapi mama kan bisa pergi sendiri Rehan. Mama juga nggak mau ngerepotin Siti.”


“Tapi Ma, Rehan khawatir terjadi sesuatu pada Mama kalau pergi sendiri.”


“Mama masih sehat loh, Rehan. Jadi kamu jangan terlalu khawatir.”


“Nggak Ma. Mama harus ada temannya kalau pergi jauh-jauh seperti ini.”


Akhirnya bu Renggo mengikuti saja keinginan Rehan meskipun sebenarnya bu Renggo lebih senang pergi sendiri dari pada ditemani Siti.


@@@@@ibawanya ke Pekanbaru.


“Coba Mama ingat-ingat lagi mana tau ada yang masih ketinggalan,” ucap Rehan.


“Mama rasa nggak ada lagi Rehan. Semuanya sudah mama bawa.”


“Obat gula Mama udah dibawa juga?” tanya Rehan lagi.


“Udah Rehan. Kamu jangan khawatir karena semua obat-obatan sudah mama bawa. Kamu nggak berangkat kerja?” tanya bu Renggo ketika melihat Rehan masih belum bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


“Sebentar lagi Ma, nunggu Mama berangkat dulu baru Rehan berangkat ke kantor,” jelas Rehan.


“Nanti kamu terlambat loh.” Bu Renggo merasa khawatir.

__ADS_1


“Nggak apa-apa Ma kalau terlambat sekali-sekali.”


“Oh ya, Jihan. Nanti kamu pesan go food aja ya untuk makan malam kalian,” pinta bu Renggo.


“Biar Jihan masak aja Bu, lagian di kulkas kan ada sayur dan lauk biar nanti sore Jihan masak.”


Mendengar ucapan Jihan, Rehan langsung berjalan mendekati Jihan.


“Biar nanti mas aja yang beli lauk dan sayur saat pulang dari kantor. Jadi kamu nggak perlu repot masak.” Rehan berusaha menawarkan diri.


“Nggak apa-apa Mas. Jihan masih sanggup kok,” ucap Jihan meyakinkan.


“Kamu harus mengikuti apa kata Rehan, Jihan. Biar nanti Rehan aja yang membelikan lauk dan sayur saat pulang kantor.”


Akhirnya Jihan hanya terdiam mendengar permintaan Rehan dan mamanya. Siti yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Rehan dan mamanya merasa kesal sendiri sehingga wajahnya cemberut saja sejak tadi.


***


Setelah koper bu Renggo dan tas pakaian Siti dimasukkan ke mobil, bu Renggo dan Siti langsung berangkat ke bandara Kualanamu. Tinggallah Jihan dan Rehan yang di rumah. Rehan akan berangkat juga ke kantor begitu bu Renggo berangkat ke Kualanamu.


Rehan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Kemudian dia pergi ke dapur untuk pamit pada Jihan. Terlihat Jihan sedang mencuci piring dan gelas yang kotor. Rehan langsung mendekatinya dan membantu Jihan. Melihat Rehan turun tangan Jihan langsung melarangnya.


“Mas, biar Jihan aja yang mengerjakannya. Mas pergi aja ke kantor nanti terlambat loh,” ucap Jihan.


Tapi Rehan diam saja. Dia tetap membantu Jihan memasukkan piring dan gelas yang telah selesai dicuci ke dalam lemari.


Setelah semuanya rapi Rehan baru bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Diambilnya tas kerjanya yang ada di ruang kerja dan berjalan ke ruang ruang tengah. Jihan yang melihat Rehan akan berangkat kerja langsung mengikuti Rehan dari belakang. Saat akan sampai di depan pintu Rehan langsung membalikkan badannya sehingga Rehan dan Jihan saling berhadapan.


Dipandangnya wajah Jihan sesaat sambil tersenyum. Kemudian Rehan mendekati Jihan dan mengelus rambut Jihan sambil berkata.


“Kamu jaga rumah ya dan jangan capek-capek. Untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian mama sudah minta tolong sama bi Ijah. Jadi tunggu aja sampai bi Ijah nanti datang.”


“Iya Mas,” jawab Jihan.


Bi Ijah adalah pembantu rumah tetangga bu Sella yang merupakan tetangga Rehan. Kalau bu Renggo pergi biasanya minta tolong pada bi Ijah untuk menggantikan tugas Siti.


“Ingat yang mas katakan barusan ya. Kamu tidak boleh capek dan kalau kamu butuh sesuatu hubungi aja mas.”


Jihan langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat senyuman Jihan membuat Rehan tidak dapat mengontrol emosinya. Ingin sekali rasanya dia memeluk Jihan. Tapi Rehan langsung tersadar kalau hal itu dilakukannya Jihan pasti akan marah dan membencinya sehingga Rehan mengurungkan niatnya.


Dia hanya bisa mengelus rambut Jihan. Untuk melakukan yang lebih dari itu Rehan belum berani karena dia takut kalau nantinya Jihan tidak terima dan merasa tersinggung.


Jihan yang mendapatkan perlakuan begitu lembut dari Rehan merasa tersanjung. Dia tidak menyangka ternyata Rehan begitu memperhatikannya.


“Mas berangkat kerja dulu ya,” ucap Rehan sambil mengelus kepala Jihan.


“Iya Mas, hati-hati ya,” ucap Jihan sambil tersenyum.


Melihat senyuman Jihan membuat jantung Rehan berdetak sangat kencang. Jiwa kelaki-lakiannya langsung bergejolak. Rehan yang sudah lama tidak merasakan belaian seorang wanita sejak dia bercerai membuat jantung Rehan berdetak sangat kencang. Kemudian emosinya yang sudah meluap dan tidak dapat ditahannya. Akhirnya diluapkannya dengan mencium kening Jihan.


Saat Rehan mencium kening Jihan, Jihan hanya terdiam penuh kepasrahan membuat Rehan semakin tidak berdaya. Setelah diciumnya kening Jihan cukup lama, kemudian ciumannya mendarat ke pipi kanan dan kiri Jihan. Jihan seperti berada dalam mimpi sehingga dia hanya terdiam penuh kepasrahan.


Setelah Rehan mengakhirinya Jihan baru tersadar. Kemudian dia menundukkan kepalanya karena merasa malu pada Rehan. Begitu juga dengan Rehan yang tampak malu sehingga dia buru-buru pergi dari hadapan Jihan.


***


Begitu Rehan berangkat kerja Jihan langsung masuk ke dalam kamarnya. Kejadian yang begitu singkat telah menyita pikirannya. Sampai di kamar Jihan langsung duduk di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri. Ada perasaan senang dan bahagia ketika mendapat ciuman pertama dari Rehan.


Walaupun Jihan pernah diperkosa oleh Leo, tapi dia tidak pernah merasakan ciuman dari seorang pria karena pada saat itu Jihan tidak sadarkan diri. Sedangkan saat ini Jihan dalam keadaan sadar ketika Rehan menciumnya. Baginya Rehan adalah orang yang pertama kali menciumnya sehingga dia tidak bisa melupakannya. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada Rehan sehingga Jihan langsung tersenyum kalau mengingat kejadian itu.


***


Sampai di kantor Rehan tidak fokus dalam pekerjaannya. Dia masih memikirkan kejadian tadi pagi sehingga dia tersenyum sendiri kalau mengingat hal itu.


Pak Saidi yang sejak tadi memperhatikan Rehan langsung mendekatinya.


“Mas Rehan kenapa, sejak tadi saya perhatikan senyum-senyum sendiri,” tanya pak Saidi heran.


“Senyum apanya Pak. Sepertinya saya nggak ada tersenyum.”


“Mas Rehan pasti nggak sadar karena saya perhatikan sejak tadi mas Rehan banyak tersenyum seperti ada yang sedang dipikirkan. Atau jangan-jangan mas Rehan sedang jatuh cinta ya?” tanya pak Saidi sambil tertawa.


“Pak Saidi bisa aja sih. Memangnya saya ABG...” ucap Rehan.


“Yang namanya jatuh cinta tidak pandang usia Mas. Baik muda maupun tua pasti pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Kalau sudah tua berarti mengalami yang namanya puber kedua.”

__ADS_1


Mendengar penjelasan pak Saidi, Rehan hanya bisa tersenyum saja. Dia tidak menyangkal atau pun mengiyakannya karena apa yang dikatakan pak Saidi memang benar adanya. Rehan bisa merasakan apa yang dikatakan pak Saidi barusan bahwa dia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada Jihan membuat semuanya terasa indah. Apalagi tadi pagi dia baru saja mencium Jihan tentu kenangan itu tidak bisa dilupakannya begitu saja. Bahkan saat kerja dia tidak fokus karena mengingat hal itu


__ADS_2