Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Perhatian Lebih


__ADS_3

Setelah mendapat informasi dari Dino tentang Jihan, Rehan merasa tenang dan puas.


Menurut pengakuan Dino, Jihan adalah seorang gadis yang baik dan pendiam. Bahkan di sekolahnya dia tidak mempunyai kekasih.


Banyak temen sekolahnya yang naksir padanya tapi dia tidak pernah menganggap. Selain pendiam dan baik, Jihan juga selalu juara kelas.


Bahkan juara umum di sekolahnya sehingga semua orang pasti mengenalnya. Banyak orang mengenal Jihan karena prestasi yang diraihnya.


Memang di kalangan remaja zaman sekarang, Jihan termasuk gadis yang pendiam dan pemalu, sekaligus kurang pergaulan.


Setiap hari dia pergi ke sekolah dan kalau waktunya pulang sekolah, dia langsung pulang tidak pernah mau diajak pergi ke mana-mana oleh temannya. Sehingga dia dikenal sebagai gadis yang kurang pergaulan.


Tapi Jihan tidak perduli meskipun ada beberapa orang temannya yang selalu mengejeknya dan mengatakan kalau dia gadis yang kuper.


Baginya yang terpenting dia selalu mendapatkan juara di sekolahnya.


Mendengar penjelasan Dino bahwa Jihan adalah seorang pelajar yang berprestasi, Rehan semakin bersimpati padanya.


Rehan tidak menyangka, Jihan yang terlihat pendiam ternyata menyimpan segudang kelebihan.


Setelah mendapatkan informasi tentang Jihan dari Dino,


Rehan langsung menceritakan semuanya pada mamanya. Mamanya pun merasa terkejut mendengar pengakuan Rehan yang didapat dari Dino.


“Mama nggak menyangka ternyata Jihan termasuk siswa yang berprestasi,” ucap bu Renggo setelah mendengar cerita Rehan tentang Jihan.


“Rehan juga nggak percaya awalnya Ma. Tapi Dino kan nggak mungkin berbohong. Walaupun mereka tidak satu kelas, tapi kelas mereka bersebelahan. Tentu Dino mengetahui banyak tentang Jihan.


Menurut pengakuan Dino, banyak teman sekolahnya yang tergila-gila pada Jihan tapi Jihan selalu menolaknya dengan alasannya dia ingin fokus dalam belajar.”


“Mama salut dengan Jihan, Rehan. Tapi mama juga sedih dengan nasib Jihan saat ini.


Ternyata kesuksesan dalam berprestasi berbanding terbalik dengan nasibnya saat ini,” jelas bu Renggo.


“Oh ya Ma, tadi Jihan jadi dibawa ke dokter?” tanya Rehan penasaran.


“Nggak Rehan. Jihan nggak mau dibawa ke dokter, katanya dia malu karena hamil diluar nikah,” ucap bu Renggo.


“Jadi gimana Ma?”


“Akhirnya mama panggilkan aja bu Tuti bidan di tempat kita.”


“Apa komentar bu Tuti tentang Jihan, Ma?”

__ADS_1


“Bu Tuti nanya, sebenarnya Jihan ini siapa karena dipikir bu Tuti, Jihan istri kamu.”


“Lalu Mama jawab apa?”


“Ya mama katakan kalau Jihan adalah family kita yang baru datang dari kampung.”


“Lalu bagaimana hasil pemeriksaan Jihan, Ma?” tanya Rehan khawatir.


“Kata bu Tuti, Jihan harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Tadi juga sudah diberi vitamin oleh Bu Tuti supaya Jihan kuat dan juga bayi yang ada dalam kandungannya. Jihan juga sudah dinasehati oleh bu Tuti bahwa yang membuat kita sehat adalah diri kita sendiri. Maka dari itu kita harus mempunyai semangat hidup. Itulah yang tadi dikatakan bu Tuti pada Jihan,” jelas bu Renggo.


“Mama tadi udah bicara dengan Jihan kapan mau mengantarkan Jihan pulang?” tanya Rehan.


“Tadi Mama udah bicara sama Jihan bahwa kita akan mengantarnya pulang ke rumahnya. Tapi Jihan menolak.


Katanya dia nggak mau diantar pulang,” jelas bu Renggo lagi.


“Kenapa nggak mau Ma?” tanya Rehan penasaran.


“Katanya dia takut sama ayahnya karena ayahnya sangat marah dan mengusirnya. Dia juga sebenarnya kasihan pada kedua orang tuanya karena masalah yang dihadapinya membuat ibunya sakit. Jadi Jihan merasa bersalah saat ini.”


“Kasihan sekali Jihan ya Ma.”


“Iya Rehan. Mama perhatikan dia banyak melamun.”


“Iya Rehan. Lama-lama mama khawatir kalau hal ini dibiarkan terus, mama takut nantinya dia setres dan depresi,” jelas bu Renggo.


“Mama jangan berpikiran yang bukan-bukan. Takutnya apa yang kita pikirkan terjadi pula.”


“Gimana kalau dia tinggal di rumah kita selamanya Rehan. Anaknya nanti akan Mama yang urus,” pinta bu Renggo.


Rehan langsung tersenyum mendengar ucapan mamanya. Padahal niat bu Renggo supaya menjadikan Jihan istrinya Rehan.


“Kalau Jihan tidak kita antarkan pulang ke rumah orang tuanya nanti kita yang akan disalahkan dengan alasan kita menyembunyikannya.


Bisa-bisa kita nanti dilaporkan pada pihak yang berwajib karena menyembunyikan Jihan, Ma,” jelas Rehan.


“Oh, seperti itu?” tanya bu Renggo yang tidak paham tentang hukum.


“Iya Ma. Kita nanti bisa dituntut. Makanya lebih baik kita antarkan aja Jihan ke rumah orang tuanya. Kalau saat ini dia belum mau, ya besok-besok mungkin dia mau kita antar pulang. Oh ya Ma, Jihan di mana?” tanya Rehan.


“Tadi di kamarnya. Coba kamu lihat sana.” Rehan langsung pergi menuju kamar Jihan.


Sampai di depan pintu kamar Jihan, Rehan langsung mengetuk pintu itu.

__ADS_1


“Jihan...” panggil Rehan dari luar.


Tidak lama kemudian Jihan pun muncul di depan pintu.


“Mas Rehan udah pulang? Ada apa mas?” tanya Jihan.


“Kamu sedang apa Jihan,” tanya Rehan.


“Nggak ada Mas. Jihan sedang membereskan pakaian yang baru di diberi ibu tadi.”


“Oh...” ucap Rehan sambil memperhatikan wajah Jihan yang tampak masih lemas.


“Gimana keadaan kamu, sudah mendingan atau belum?” tanya Rehan sambil memegang pundak Jihan.


“Alhamdulillah badan Jihan saat ini sudah lebih baik Mas.”


“Syukurlah kalau gitu. Jangan lupa minum vitaminnya ya, supaya kamu dan bayi kamu sehat.”


“Iya Mas. Makasih ya Mas atas perhatiannya,” jawab Jihan.


Kemudian Rehan tersenyum dan mengelus pundak Jihan.


“Udah dulu ya, Mas mau mandi dulu.” Rehan langsung membalikkan tubuhnya.


“Mas...” panggil Jihan.


Mendengar Jihan menyebut namanya Rehan, Rehan kembali menoleh ke belakang. Melihat Rehan menoleh ke belakang Jihan langsung berkata.


“Terima kasih banyak ya Mas sudah banyak membantu Jihan. Kalau tidak ada Mas, entah gimana nasib Jihan.”


Sambil tersenyum Rehan kembali mengelus pundak Jihan.


“Kamu jangan pernah berbicara seperti itu lagi ya. Mas ikhlas melakukannya. Bagi Mas yang terpenting saat ini, kamu tetap sehat dan juga bayi yang ada dalam kandungan kamu.


Ingat, kamu jangan terlalu banyak pikiran karena akan berpengaruh pada perkembangan janin yang ada di dalam perut kamu,” jelas Rehan memberi perhatian pada Jihan.


“Baik Mas...” Jihan merasa senang karena Rehan sangat memperhatikannya.


Ternyata dari kejauhan Siti yang merupakan pembantu di rumah itu memperhatikan kelakuan Rehan yang memberikan perhatian lebih pada Jihan. Siti langsung terbakar api cemburu.


‘Kenapa pak Rehan sangat perhatian sekali pada Jihan padahal Jihan baru dikenalnya. Sementara aku sudah dikenalnya lama tapi sedikit pun pak Rehan tidak pernah memperhatikan aku seperti dia memperhatikan Jihan.


Apa kekuranganku dibandingkan Jihan. Aku masih gadis sementara Jihan sudah tidak gadis lagi. Apa karena Jihan sedang hamil makanya pak Rehan memberi perhatian yang lebih pada Jihan, batin Siti.

__ADS_1


__ADS_2