
Setelah Jihan keluar dari ruang rawat ibunya, bu Dwi langsung marah pada suaminya.
“Ayah, kenapa tegah mengusir Jihan. Jihan itu sedang hami Yah...” ucap bu Dwi dengan nada marah.
“Biar jadi pelajaran sama anak itu jangan semena-mena sama kita. Dia tidak pernah menghargai kita sebagai orang tuanya. Perbuatannya telah membuat malu kita Bu. Ini akibat sering Ibu manjakan makanya dia bisa seperti ini,” jawab pak Herman.
“Yah, jangan pernah dibahas lagi yang sudah berlalu. Sekarang bagaimana mencari solusi yang terbaik dalam masalah ini. Ayah hanya marah saja tanpa memikirkan akibatnya. Sekarang Jihan sudah pergi entah kemana.”
“Ibu jangan khawatir karena Jihan pasti pulang ke rumah. Mana mungkin dia lari dari rumah sementara dia sedang hamil.”
“Syukur kalau dia pulang ke rumah, kalau dia minggat karena ucapan Ayah gimana?”
“Dia mau minggat kemana Bu.... Kekhawatiran Ibu terlalu berlebihan.”
“Sebagai seorang ibu pasti khawatir kalau anaknya minggat dari rumah apalagi dengan kondisi Jihan seperti itu.”
“Itu semua akibat kesalahannya sehingga dia bisa hami Bu. Jadi Ibu jangan membela yang salah.”
“Tapi Jihan hamil bukan atas kemauannya Yah. Jihan itu hamil karena diperkosa temannya...”
Pak Herman yang mendengar penjelasan istrinya langsung terkejut. Matanya langsung terbuka sempurna seakan tidak percaya dengan perkataan istrinya.
“Maksud Ibu, Jiahn telah diperkosa...”
“Iya Yah, makanya Ayah jangan hanya marah aja. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, tapi akan menambah masalah.”
Pak Herman yang masih sangat terkejut hanya diam saja. Dia merasa menyesal karena telah mengusir putri satu-satunya hanya karena salah paham.
Setelah pak Herman mulai tenang, dia kemudian menghubungi Jihan untuk memastikan apakah Jihan di rumah atau tidak. Tapi sudah beberapa kali pak Herman menghubungi Jihan, ponsel Jihan tidak aktif membuat pak Herman merasa bingung
***
Setelah mendapat informasi bahwa Jihan tidak ada di rumahnya bu Dwi dan pak Herman tidak tenang di rumah sakit.
“Ibu mau pulang hari ini aja Yah,” ucap bu Dwi.
“Tapi Ibu kan belum sembuh betul.”
“Ibu udah mendingan Yah. Ibu nggak tenang sebelum Jihan pulang ke rumah.”
__ADS_1
“Ibu yang sabar ya. Ayah juga berusaha untuk mencarinya.”
“Ini semua kan kesalahan Ayah. Ayah telah mengusir Jihan sehingga Jihan pergi dari rumah,” ucap bu Dwi marah.
“Namanya juga sudah emosi Bu.”
“Makanya Ayah banyak istighfar supaya tidak gampang marah. Jangan semua masalah diselesaikan dengan marah, karena masalah bukannya selesai tapi bertambah besar. Sekarang apa yang bisa Ayah lakukan?”
Pak Herman hanya diam saja mendengar istrinya marah. Dalam hatinya dia merasa menyesal karena telah berkata kasar bahkan mengusir Jihan. Padahal pak Herman tidak ada niat untuk mengusir Jihan. Perkataannya hanya luapan emosi saja karena pak Herman sangat terkejut ketika mengetahui kalau Jihan hamil.
Pak Herman merasa terpukul ketika mendengar berita itu dan dia juga merasa malu pada semua orang. Apalagi di tempat tinggalnya pak Herman merupakan orang yang terpandang. Semua orang segan padanya membuat pak Herman merasa malu ketika mengetahui kalau Jihan sedang hamil.
“Jadi Ayah sudah cari Jihan ke mana aja?” tanya bu Dwi lagi.
“Ayah sudah menyuruh Gandhi untuk mencari tau keberadaan Jihan dari teman-temannya terutama teman dekatnya seperti Rani,” jelas pak Herman.
“Lalu apa kata Rani Yah?” tanya bu Dwi penasaran.
“Tapi Rani juga tidak mengetahui keberadaan Jihan karena Jihan tidak pernah menghubunginya sampai sekarang.”
“Jadi ke mana perginya Jihan Yah.”
“Yang penting Ayah harus menemukan Jihan secepatnya karena semua ini kesalahan Ayah.”
“Iya Bu, ayah ngaku kalau ayah salah dan ayah berjanji akan mencari Jihan sampai ketemu.”
Pak Herman merasa bingung karena sudah mencari kemana-mana keberadaan Jihan tetapi tidak ditemukan juga. Bahkan Pak Herman juga meminta pertolongan pada adik sepupu yang bernama Gandhi untuk mencari keberadaan Jihan tapi sampai sekarang belum ada kabar. Pak Herman merasa menyesal tapi semuanya telah terjadi.
***
Keesokan harinya saat dokter melakukan visit ke ruangan bu Dwi dan dinyatakan kalau Bu Dwi sudah bisa pulang. Bu Dwi yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumahnya merasa senang karena dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
Sampai di rumah perasaan bu Dwi sangat sedih karena Jihan belum ditemukan. Bu Dwi juga bingung harus menjawab apa ketika beberapa orang tetangga yang menanyakan keberadaan Jihan.
Setelah bu Dwi sampai rumah ada beberapa orang tetangga yang menjenguknya. Melihat bu Dwi hanya berdua dengan suaminya tentu tetangganya merasa heran dan langsung menanyakan ke mana Jihan.
“Jihan ke mana Bu, kok nggak kelihatan?” tanya bu Lilis saat menjenguk bu Dwi.
“Eh...” ucap bu Dwi terputus saat mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
“Jihan sedang pergi ke tempat tantenya Bu,” jawab pak Herman.
Sengaja pak Herman menjawab pertanyaan bu Lilis karena terlihat istrinya bingung harus menjawab apa.
“Oh, pantas tidak kelihatan sejak tadi.”
“Iya Bu, semalam dia pergi tempat tantenya,” ucap bu Dwi.
Bu Dwi sebenarnya merasa bersalah dan malu pada bu Lilis karena telah berbohong.
***
“Ayah, apa yang harus kita lakukan? Nggak mungkin kita berbohong terus seperti ini.”
“Habis mau gimana lagi Bu. Kalau kita ceritakan yang sebenarnya persepsi orang akan berbeda-beda. Biarlah untuk saat ini kita berbohong dulu kalau ada yang menanyakan tentang keberadaan Jihan. Nanti setelah Jihan ditemukan dan kita menemukan solusi yang terbaik, baru kita bisa menceritakan pada semua orang,” jelas pak Herman.
“Maksud Ayah gimana?”
“Bagaimana pun kita harus menemui pria yang telah memperkosa Jihan, Bu. Kita harus minta pertanggung jawabannya.”
“Kalau masalah itu gampang Yah. Sekarang yang jadi masalah pria itu beda aqidah dengan kita.”
“Apa? Kepercayaannya beda dengan kita?”
“Iya Yah. Itulah yang sekarang jadi masalah. Kalau untuk bertanggung jawab ibu rasa dia pasti mau bertanggung jawab. Tapi pasti Jihan harus mengikuti kepercayaannya. Hal itulah yang ibu takutkan Yah.”
Pak Herman langsung terduduk lemas mendengar penjelasan istrinya. Dia tidak menyangka kalau masalah yang sedang dihadapi keluarganya ternyata cukup rumit. Bukan saja masalah kehamilan Jihan tetapi juga masalah perbedaan kepercayaan. Hal inilah yang paling sulit untuk dipecahkan karena harus ada yang berkorban diantara keduanya.
***
Selesai sholat magrib pak Herman menyiapkan makan malam. Biasanya ini tugas istrinya tapi karena bu Dwi baru pulang dari rumah sakit sehingga pak Herman yang mengambil alih semua tugas rumah tangga.
Setelah makanan disiapkan di meja makan pak Herman memanggil istrinya yang masih berada di kamarnya.
“Bu, makan malam udah ayah siapkan. Ayo kita makan...”
“Nanti aja Yah. Ibu lagi nggak nafsu makan,” jawab bu Dwi.
“Ibu jangan seperti itu, nanti sakit ibu tambah parah loh,” ucap pak Herman mendekati istrinya yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
__ADS_1
Bu Dwi tidak nafsu makan karena Jihan belum pulang ke rumah.